SEHATI SEPIKIR

Selasa, 24 April 2012

Bacaan : 1 Korintus 1:10-17

1:10 Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi,

1:11 karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami.

1:12. Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.

1:13 Sebab kami hanya menuliskan kepada kamu apa yang dapat kamu baca dan pahamkan. Dan aku harap, mudah-mudahan kamu akan memahaminya sepenuhnya,

1:14 seperti yang telah kamu pahamkan sebagiannya dari kami, yaitu bahwa pada hari Tuhan Yesus kamu akan bermegah atas kami seperti kami juga akan bermegah atas kamu.

 

1:15. Berdasarkan keyakinan ini aku pernah merencanakan untuk mengunjungi kamu dahulu, supaya kamu boleh menerima kasih karunia untuk kedua kalinya.

1:16 Kemudian aku mau meneruskan perjalananku ke Makedonia, lalu dari Makedonia kembali lagi kepada kamu, supaya kamu menolong aku dalam perjalananku ke Yudea.

1:17 Jadi, adakah aku bertindak serampangan dalam merencanakan hal ini? Atau adakah aku membuat rencanaku itu menurut keinginanku sendiri, sehingga padaku serentak terdapat “ya” dan “tidak”?

 

SEHATI SEPIKIR

Perselisihan di dalam komunitas orang percaya? “Ah, sudah biasa, ” kata seorang teman. Jemaat Tuhan kan tidak terdiri dari para malaikat, tetapi orang-orang berdosa yang sudah diampuni? Ya, benar. Namun, kalau perselisihan tidak diselesaikan, apalagi perpecahan dihasilkan, bukankah hal itu menyedihkan?

Komunitas orang percaya di Korintus juga mengalami perselisihan (ayat 11-12). Kepada mereka Paulus menasihatkan: Bersatulah! Kesatuan seperti apa yang Paulus maksudkan? Dalam bahasa aslinya kata “sehati sepikir” adalah satu di dalam nous [akal budi] dan gnome [rasio]. Jadi, Paulus tidak sedang mengatakan: “Oke, tidak apa-apa kalian berbeda pendapat, yang penting kalian rukun satu sama lain.” Sebaliknya, Paulus mendesak mereka menggunakan akal budi dan rasio untuk memahami kebenaran. Selera dan kepentingan pribadi atau kelompok semestinya ditundukkan di bawah kebenaran itu. Ini selaras dengan nasihat-nasihat Paulus dalam suratnya yang lain (lihat Roma 15:5-6; Efesus 4:1-6, 13). Kesatuan jemaat harus dilandaskan pada apa yang benar agar dengan satu suara jemaat dapat memuliakan Tuhan.

Apakah ada perbedaan pendapat di dalam komunitas Anda? Mari duduk bersama dan mencari tuntunan Tuhan. Mohon Roh Kudus memberi kejelasan melalui Firman Tuhan, apa yang benar dan berkenan pada-Nya. Jika pendapat kita keliru, dengan rendah hati kita mengaku dan menyelaraskan diri dengan Firman Tuhan. Jika pendapat kita benar, tetaplah rendah hati dan dengan kasih merangkul rekan yang tadi keliru, lain waktu mungkin kitalah yang perlu diluruskan. –ELS

KETIKA JEMAAT TUHAN SEHATI SEPIKIR DI DALAM KEBENARAN,

FIRMAN DITERAPKAN, TUHAN DIMULIAKAN.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

APAKAH YANG UTAMA?

Selasa, 11 Oktober 2011

Bacaan : Filipi 2:1-11 

2:1. Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

APAKAH YANG UTAMA?

At.mosphere Restaurant adalah restoran tertinggi di dunia karena berada di lantai 122 Burj Khalifa, Dubai (gedung tertinggi dunia dengan ketinggian 800 meter). Menu yang ditawarkan adalah makanan Eropa. Dan, para tamu disarankan memesan sebelumnya, agar pihak restoran bisa menghadirkan pengalaman khusus, yang membuat orang datang kembali. Ya, bagi orang-orang kaya baik di negara kaya, berkembang, maupun miskin makan bukan lagi masalah mengisi perut dengan makanan sehat, tetapi mencari kepuasan dengan makanan bergengsi. Harga tidak menjadi soal.

Saat ini, sebagian besar penduduk dunia masih bergumul dengan “makan apa hari ini”. Sedangkan kelas menengah bergumul “makan di mana hari ini”. Namun, orang kaya yang hanya 20%, tetapi menguasai 80% kekayaan dunia kerap bergumul “makan siapa hari ini”. Kenyataan ini menunjukkan, betapa pentingnya setiap manusia mengalami kebesaran kasih Allah di dalam Kristus (Yohanes 3:16). Agar mereka mengalami hidup yang baru. Yakni hidup yang tidak berpusatkan kepada diri sendiri, tetapi berpusat kepada Allah dan memikirkan kepentingan orang lain juga (Filipi 2:4). Seperti Kristus, yang rela mengesampingkan kepentingan-Nya sendiri, bahkan mengambil rupa manusia dan menjadi hamba. Agar oleh pengurbanan-Nya, Dia dapat memberi hidup baru bagi setiap orang yang mau menerima-Nya dan hidup bagi Allah (1:27-29; 2:5-11).

Mari kita periksa nafsu makan dan semua nafsu hidup kita hari ini; apakah itu untuk memuaskan kedagingan kita atau untuk memuliakan Bapa di surga –SST

APABILA TUHAN DAN SESAMA MENJADI YANG TERUTAMA

TUHAN AKAN MENJADIKAN HIDUP KITA BERGUNA DAN BERMAKNA

Dikutip : www.sabda.org

BERSUKACITA SELALU

Selasa, 29 Maret 2011

Bacaan : Filipi 4:1-7

1Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

2Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.

3Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan. 4Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

5Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

6Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

7Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

BERSUKACITA SELALU

Seseorang diberi dua kotak oleh Tuhan, berwarna hitam dan emas. Ke dalam kotak hitam, Tuhan memintanya memasukkan segala kesedihan dan masalahnya. Sedangkan segala sukacita dan pengalaman menyenangkan dimasukkan ke kotak emas. Setelah sekian waktu, ia heran. Kotak emasnya bertambah berat, sementara kotak hitamnya tetap saja ringan. Pe-nasaran, orang itu membuka kotak hitamnya. Ternyata, ada lubang di dasar kotak itu hingga setiap hal yang ia masukkan, tak tersimpan. Ketika ia menanyakannya kepada Tuhan, Dia menjawab, “Agar kau selalu menghitung berkatmu, dan melupakan segala kepedihanmu.”

Hati dan perasaan kita bisa diguncang oleh berbagai emosi dalam hari-hari yang kita jalani; susah, cemas, takut, sebab banyak perkara menimpa kita secara pribadi. Akan tetapi, firman Tuhan meminta kita senantiasa bersukacita. Bagaimana bisa? Kuncinya: bersukacita di dalam Tuhan (ayat 4). Apa yang kita rasakan mungkin tidak selalu hal yang mendatangkan sukacita, tetapi Tuhan meminta kita dapat memilih sikap untuk tetap bersukacita, dengan menghitung berkat yang kita terima. Dia telah memberi kita begitu banyak kemurahan tidak saja untuk hidup di dunia, tetapi juga sampai kekekalan.

Paulus juga mengatakan bahwa kita dapat meraih sukacita dalam Tuhan dengan berbuat kebaikan (ayat 5), sebab dengan memberkati, maka kita sadar bahwa kita punya berkat lebih. Pula dengan tidak khawatir, sebab semua yang kita perlu pun, boleh kita mintakan kepada Bapa (ayat 6). Maka, damai sejahtera yang melampaui akal-yang melampaui segala emosi yang bisa menyerang, akan memampukan kita untuk tetap bersukacita (ayat 7) –AW

TUHAN MEMAMPUKAN KITA MENANG ATAS KESUSAHAN

MELALUI PENYERTAAN-NYA YANG TIADA BERKESUDAHAN

Sumber : www.sabda.org

MAGNET KRISTUS

Minggu, 12 Desember 2010

Bacaan : Filipi 2:1-8

1Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

2karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

3dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

4dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

5Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

6yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

7melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

MAGNET KRISTUS

Bayangkan Anda memiliki butir-butir kelereng dalam kantong plastik. Butir-butir kelereng itu bersatu karena berada dalam wadah yang sama. Namun, saat plastiknya robek, segera saja butir demi butir kelereng itu berjatuhan dan tercerai-berai. Bandingkan dengan apabila Anda memiliki magnet. Saat Anda mendekatkannya dengan serbuk besi, maka serbuk itu akan melekat pada magnet. Dua benda itu bersatu bukan karena berada dalam wadah yang sama, melainkan karena ditarik oleh kekuatan daya tarik magnet.

Anggota-anggota jemaat di Filipi berasal dari berbagai latar belakang kehidupan. Ada Lidia, perempuan Yahudi dan pengusaha yang kaya (Kisah Para Rasul 16:14); ada budak perempuan-kemungkinan orang Yunani (16:16); ada pula kepala penjara-bisa jadi orang Romawi (16:25-36). Rasa-nya sulit membayangkan mereka berkumpul dalam wadah yang sama-seperti kelereng tadi. Kalaupun bisa, kemungkinan besar akan sangat sulit bagi mereka untuk tetap bersatu. Sedikit gesekan saja dapat berpotensi memecahkan kesatuan mereka.

Surat Paulus memperlihatkan kondisi kesatuan mereka yang sesungguhnya: “dalam Kristus”. Kristus-lah “magnet” yang menarik dan melekatkan mereka. Mereka diikat melalui hubungan mereka dengan Kristus, bukan oleh kesamaan-kesamaan lahiriah. Kesatuan mereka semakin kuat ketika mereka masing-masing menanggalkan keegoisan dan menjadi semakin serupa dengan Kristus. Di gereja kita juga bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang. Bagaimana kesatuan di antara kita-seperti kelereng dalam kantung plastik atau serbuk besi yang melekat pada magnet? –ARS

TANGGUNG JAWAB ORANG KRISTIANI IALAH MENERIMA SATU SAMA LAIN

SEBAGAIMANA KRISTUS TELAH MENERIMA KITA MASING-MASING

Sumber : www.sabda.org

MENEMUI “SEMUA ORANG”

Jumat, 12 November 2010

Bacaan : Filipi 2:1-11

2:1. Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

MENEMUI “SEMUA ORANG”

Fred Eppinger ditunjuk menjadi CEO perusahaan asuransi besar, The Hanover Group, yang terancam bangkrut. Hari pertama berkerja, ia masuk kantor pukul enam pagi. Karena pintu utama masih tertutup, ia masuk lewat kantin. Di situ ia bertemu pegawai kantin, dan meminta dibuatkan secangkir kopi. “Boleh saja, ” kata pegawai itu, “Tetapi, siapa sih Anda?” Fred menjelaskan bahwa ia adalah CEO yang baru dan ini adalah hari pertamanya. Dengan kaget si pegawai berkata bahwa ia sudah bekerja selama empat belas tahun dan tak pernah ada orang penting yang menginjakkan kaki ke situ, atau mengajaknya berbicara. Kemudian, Fred duduk dan menanyainya tentang apa yang ia pikirkan tentang perusahaan. Selanjutnya, lewat kedekatan hubungan dan komunikasi dengan karyawan, ia berhasil menyelamatkan Hanover.

Kerap kali saat posisi kita semakin tinggi, kita mudah lupa diri dan meremehkan orang lain yang kita anggap tidak penting. Entah itu di dunia kerja, di pelayanan, atau di komunitas. Kerap kita mudah melayani orang yang kita anggap penting atau yang kita harap membawa keuntungan. Namun, kita cenderung punya alasan untuk mengabaikan mereka yang menurut kita tidak penting.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi mengingatkan kita untuk selalu dengan rendah hati menganggap yang lain lebih utama dari kita. Ia mengambil contoh dari Kristus sendiri. Kristus memiliki posisi yang tertinggi dan terutama, tetapi dengan rendah hati bersedia menemui kita, bahkan mem-berikan diri-Nya untuk kita. Dia menemui kita dengan mengosongkan diri-Nya. Dengan demikian, Dia memberikan teladan kerendahan hati yang sejati –HSL

KETIKA DUNIA BERDESAKAN HENDAK MENCARI

TEMPAT YANG TERUTAMA

ANAK TUHAN DAPAT MENJADI BERKAT

DENGAN MERENDAHKAN DIRI

Dikutip : www.sabda.org

Memperoleh Kesatuan dan Damai Sejahtera

PESAN GEMBALA

07 MARET 2010

EDISI 116 TAHUN 3

Memperoleh Kesatuan dan Damai Sejahtera

Shalom… Salam Miracle.

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, seringkali kita mendengar ajaran tentang kerendahan hati, dimana setiap orang mendahulukan kepentingan diri sendiri. Alkitab memerintahkan kita menganggap orang lain lebih utama dari diri sendiri, Filipi 2:3-4, “Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.”

Orang yang memiliki hati yang remuk tidak mudah tersinggung atau marah. Tetapi tidak demikian dengan orang yang memiliki keakuan yang besar. Percekcokan dan konflik berhenti bila kita memiliki hati yang remuk, Amsal 13:10,”Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasehat mempunyai hikmat.”

Kepribadian yang kasar, pemarah, sombong, suka mendominasi, suka menuntut, dan keras perlu diremukkan. Orang-orang di sekitar kita tidak boleh merasakan roh kita; mereka harus merasakan Roh Allah yang bekerja melalui kita. Bila orang lebih merasakan roh kita daripada Roh Allah, itu berarti kita membutuhkan hati yang remuk. Dan ini memerlukan banyak penghancuran.

Hati yang tidak remuk dimiliki oleh orang yang tidak disiplin dan dididik secara benar ketika ia masih kecil. Hanya TUAN-TUAN yang sering seringkali mudah tersinggung, bukan anak domba-anak domba.

Orang yang rendah hati dan memiliki hati yang lembut dan remuk, tidak pernah tersinggung seperti orang disebutkan dalam Amsal 18:19. orang menjadi tersinggung karena keakuannya terluka. Kasih karunia telah ditolaknya dan ia telah mengeraskan hatinya serta menjadi pahit hati, Ibrani 4:16, ”Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

Bandingkan denganIbrani 12:15, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan mudah tumbuh AKAR YANG PAHIT yang menimbulkan KERUSUHAN dan MENCEMARKAN BANYAK ORANG”. Orang menjadi tersinggung karena memelihara suatu luka hati dan mencebloskan dirinya sendiri ke dalam suatu lubang yang dalam. Ia tidak dapat disembuhkan, tidak dengan permintaan maaf atau apapun juga, sebelum mengalami jamahan Allah.

Hati yang mudah tersinggung yang dibiarkan tidak diobati akan menjadi SANGAT JAHAT. Dihari-hari terakhir banyak orang akan tersinggung, dan ini akan membuat mereka saling membenci dan mengkhianati (Matius 24:10). Apakah kita sadar betapa seriusnya problem kita bila membiarkan hati kita tersinggung? Saya ingin mengulangi hal ini. Orang yang tersinggung itu bukan anak domba, ia adalah seorang Tuan, sombong serta tidak memiliki hati yang remuk. Ia memiliki suatu pendapat yang tinggi tentang dirinya sendiri dan “SOK PENTING”. Ia mempertahankan hak-haknya dan menuntut pembelaan atas dirinya.

Salah satu tipuan yang memperdayai seseorang yang tersinggung adalah ia percaya bahwa ia memiliki hak untuk tersinggung, dan bahwa ia dibenarkan untuk marah dan melukai orang-orang lain. (Ia tidak benar-benar percaya bahwa Allah memakai ketidakadilan untuk meningkatkan kerohanian untuk meningkatkan kerohanian anak-anakNya).

Karena itu, hatinya mulai tersipu. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari lubang yang menyeramkan ini adalah dengan menjadi ANAK DOMBA, menyerahkan hak-hak kita, dan meneladani Kapten Keselamatan kita yang memeprcayakan segala ketidakadilan yang ia alami kepada Bapa Surgawi-Nya.

I Petrus 2:21-23, ”Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulutNya. Ketika Ia dicaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, Yang menghakimi dengan adil.”

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tersinggung. Neraka dipenuhi dengan orang-orang yang tersinggung, yang menolak kasih karunia Allah ketika mereka disakiti. Mereka meninggal dengan memegang erat kepahitan mereka terhadap Allah dan orang-orang yang tidak mau mereka maafkan. Kini mereka sendiri tersiksa dengan pelanggaran-pelanggaran yang tidak mau mereka maafkan dalam diri orang lain. Akan sangat penting bagi kita anak-anakNya untuk senantiasa rendah hati dan menikmati damai sejahtera bersama dengan kasih Tuhan.

Allah tinggal bersama mereka yang rendah hati. Hadirat Tuhan ditolak oleh hati yang keras, tetapi kekerasan tidak dimiliki oleh orang yang rendah hati. Allah menolak orang yang sombong, karena kesombongan juga menolakNya. Allah tidak akan berjalan dengan orang yang sombong. Ia berjalan bersama orang yang rendah hati karena Ia sendiripun rendah hati. Dalam hati yang lembut Allah menuliskan hukum-hukumNya, tetapi Allah tidak dapat bekerja di hati yang keras. Hati yang keras itu tidak peka dan tidak mampu mendengar suara Roh yang lembut. Allah membimbing orang-orang yang lembut hati.

Salam mujizat…

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA