BUKAN INI, BUKAN ITU

Senin, 10 Mei 2010

Bacaan : Yosua 5:13-15

5:13. Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya, dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: “Kawankah engkau atau lawan?”

5:14 Jawabnya: “Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang.” Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: “Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?”

5:15 Dan Panglima Balatentara TUHAN itu berkata kepada Yosua: “Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus.” Dan Yosua berbuat demikian.

BUKAN INI, BUKAN ITU

Dodo sedang bimbang ketika mesti mengambil keputusan. Meneruskan kariernya atau menjadi fulltimer. Ia lalu berdoa, “Tuhan, yang mana kehendak-Mu? Menjadi fulltimer, atau insinyur?” Kerap kali dalam hidup ini kita memberi Tuhan dua pilihan. “Yang ini atau yang itu?” Kalau bukan A, tentu B. Tanpa kita sadari, bisa jadi rencana Tuhan bukan kedua-duanya.

Sebelum maju menyerang Yerikho, Yosua bertemu seseorang yang membawa pedang. Refleks Yosua bertanya, “Kawankah engkau atau lawan?” Jawaban yang Yosua terima adalah tidak dua-duanya. Bukan kawan, juga bukan lawan. Dia Panglima Balatentara Tuhan. Tuhan bukan kawan Yosua yang berkedudukan sederajat dengannya. Tuhan juga bukan lawan Yosua. Dia adalah Tuhan-nya, yang datang untuk memimpinnya (ayat 14). Ketika Yosua sadar berhadapan dengan Panglima Allah, ia sujud menyembah dan bertanya apa yang harus ia lakukan. Dan ia pun mendapat petunjuk yang tepat (ayat 15).

Acap kali kita dihadapkan pada banyak pilihan. Ketika bertanya kepada Tuhan, janganlah membatasi dengan memberi-Nya pilihan. Kita seyogianya sadar, rencana Tuhan bisa jauh melebihi yang bisa kita pikirkan. Tuhan datang tidak untuk menjawab kebingungan kita, tetapi untuk menyatakan bahwa kita harus mengikuti-Nya. Doa kita semestinya bukan memberi Tuhan pilihan, melainkan bertanya, “Apa yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?” (ayat 14).

Ketika kita sungguh-sungguh merendahkan diri dan bertanya, Tuhan akan memberi pimpinan-Nya. Dan, sungguh indah jika ketika mendapat pimpinan, kita tidak membantah, tetapi berlaku seperti Yosua, “Dan Yosua berbuat demikian” (ayat 15). –GS

BERSERAHLAH KEPADA ALLAH YANG SANGGUP MEMILIHKAN JALAN

SEBAB HANYA DIALAH YANG SUDAH TAHU SEGALA YANG DI DEPAN

Sumber : www.sabda.org

Iklan

SUJUD MENYEMBAH

Senin, 6 Juli 2009

Bacaan : Mazmur 95

95:1. Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.

95:2 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

95:3 Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.

95:4 Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunungpun kepunyaan-Nya.

95:5 Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.

95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

 

95:7. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

95:8 Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun,

95:9 pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

95:10 Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: “Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku.”

95:11 Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: “Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”

 

SUJUD MENYEMBAH

Orang-orang Yunani dan orang-orang Roma zaman kuno menolak posisi berlutut sebagai bagian dari ibadah penyembahan. Mereka berkata bahwa posisi berlutut tidak patut dilakukan oleh orang merdeka. Posisi itu tidak cocok dengan budaya Yunani dan hanya sesuai untuk orang-orang yang belum beradab. Cendekiawan Plutarch dan Theophrastus menganggap bahwa berlutut merupakan ungkapan kepercayaan kepada takhayul. Aristoteles bahkan mengatakan bahwa berlutut merupakan bentuk kelakuan yang tidak beradab. Meskipun demikian, keyakinan ini sama sekali tidak pernah diikuti oleh umat Allah.

Dalam Mazmur 95:6, pemazmur menyatakan bahwa berlutut menunjukkan penghormatan yang sangat dalam kepada Allah. Di dalam satu ayat ini, pemazmur menggunakan tiga kata Ibrani yang berbeda untuk menunjukkan bagaimana seharusnya sikap dan posisi seorang penyembah.

Yang pertama, pemazmur menggunakan kata sujud, yakni posisi berlutut dengan dahi merapat ke lantai sebagai tanda hormat kepada Tuhan yang berarti setia kepada-Nya. Kata kedua yang digunakannya ialah menyembah, yang artinya bertelut untuk memberi hormat dan menyembah Tuhan. Kemudian, ia menggunakan kata berlutut, yang berarti melipat lutut sebagai tumpuan berdiri untuk memuji Allah.

Menurut pemazmur, berlutut di hadirat Allah adalah tanda penghormatan, bukan bentuk kelakuan tidak beradab. Meskipun demikian, yang penting bukan hanya posisi tubuh kita, melainkan juga sikap kerendahan hati kita –MLW

SIKAP KITA DALAM PENYEMBAHAN LEBIH BERHARGA
DARIPADA POSISI TUBUH KITA KALA MENYEMBAH

Sumber : http://www.sabda.org

Tidak Konsisten

Kamis, 9 April 2009

Bacaan : Matius 27:15-23

27:15 Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.

 

27:16 Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas.

 

27:17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?”

 

27:18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.

 

27:19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.”

 

27:20 Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.

 

27:21 Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka: “Barabas.”

 

27:22 Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!”

 

27:23 Katanya: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Ia harus disalibkan!”

 

Tidak Konsisten

Jika Anda mengikuti perkembangan olahraga, Anda tahu bahwa penggemar olahraga dapat berubah cepat seperti cuaca. Pemain bintang sebuah tim dapat mendengar 70.000 suara pujian jika ia bermain baik — atau 70.000 suara cemoohan jika ia melakukan kesalahan.

Tokoh olahraga dapat dengan mudah kehilangan popularitasnya karena orang tidak konsisten. Mereka bersemangat mengikuti tokoh yang membuat mereka merasa senang, tetapi juga bersedia berbalik melawan orang yang sama jika semuanya tidak berjalan baik.

Kitab Suci memuat sebuah contoh ketidakkonsistenan yang jauh lebih serius. Sejumlah besar orang di Yerusalem memuji, memberi penghormatan, dan bersorak-sorai bagi Yesus pada hari Minggu saat Dia memasuki kota dengan menunggang seekor keledai (Matius 21:6-11). Namun, beberapa hari kemudian, sebagian dari orang banyak itu menuntut agar Yesus disalibkan (27:20-23). Pada hari Minggu mereka menyembah Dia, tetapi pada hari Jumat mereka tak lagi menginginkan Dia.

Dalam hubungan dengan Tuhan, janganlah kita berubah-ubah sikap. Kadang kita menyembah Yesus dengan segenap hati di hari Minggu, tetapi tepat keesokan harinya, kita hidup dengan sikap seakan-akan kehadiran-Nya mengganggu kita. Atau, di hari Minggu kita mengatakan kepada-Nya bahwa kita mengasihi Dia, tetapi kemudian kita lalai menaati Dia sepanjang minggu itu.

Janganlah menjadi pengikut Yesus yang tidak konsisten. Sembahlah Dia setiap hari — bukan hanya pada hari Minggu –JDB


Jangan jadi pengikut tak setia
Yang berkata mengasihi Tuhan
Tetapi setiap hari menjauh dari-Nya
Dan firman-Nya yang menghidupkan. –Sper

Sumber : http://www.sabda.org

MENYEMBAH ALLAH
SEHARUSNYA DILAKUKAN TERUS-MENERUS SEPANJANG WAKTU