TERJUN BEBAS

Senin, 28 Juni 2010

Bacaan : Ratapan 3:19-27

3:19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”

3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

3:21. Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

3:27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.

TERJUN BEBAS

Selama 45 tahun, hidup Ken Karpman nyaris sempurna. Ia lulus dari salah satu universitas terbaik di Amerika dan menikah dengan gadis impiannya. Kariernya sebagai pialang saham terus menanjak dan memberinya penghasilan hingga Rp8, 8 miliar per tahun. Lalu tibalah saat itu. Tahun 2008 resesi menghantam perekonomian Amerika. Hidup Karpman pun “terjun bebas” dalam sekejap. Ia kehilangan pekerjaan, tabungan, dan hartanya.

Guna menghidupi keluarga, Karpman mengambil langkah drastis. Ia melamar pekerjaan sebagai pengantar piza dengan penghasilan yang amat pas-pasan, bahkan untuk orang kebanyakan. Kehidupannya pun berubah 180 derajat, tetapi ia tidak menyesalinya, “Ini hanya sebuah proses. Saya mensyukuri tiap sen yang saya dapat. Ada pelajaran berharga dari setiap potong piza yang saya antar, yaitu kerendahan hati.”

Yeremia juga pernah merasakan perubahan drastis ketika bangsa Israel ditaklukkan Babel. Yerusalem hancur. Semua berubah dalam sekejap. Dari bangsa merdeka, menjadi bangsa terjajah. Patah arangkah Yeremia? Tidak. Ia sungguh percaya Tuhan tidak pernah meninggalkan bangsanya. Karena itu ia tetap bisa melihat karya Tuhan, “Tak berkesudahan kasih Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, ” begitu ia berkata.

Hidup di dunia ini memang serba tidak pasti. Apa yang ada kini, bisa tiba-tiba hilang tak berbekas. Hari ini kita berhasil, besok gagal. Usaha yang semula maju mendadak bangkrut. Kita semula sehat, tiba-tiba sakit. Namun, tak usah khawatir. Sejauh kita berjalan bersama Tuhan, semua itu takkan “melumpuhkan” kita. Bersama Tuhan, kita akan siap menghadapi perubahan apa pun yang terjadi –AYA

KETIKA MENGALAMI PERUBAHAN DRASTIS DALAM HIDUP

INGATLAH KASIH SETIA TUHAN TAK PERNAH BERUBAH

Sumber : www.sabda.org

SUPERHERO YANG SESUNGGUHNYA

Jumat, 23 April 2010

Bacaan : 2 Timotius 3:10-17

3:10. Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku.

3:11 Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.

3:12 Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,

3:13 sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.

3:14 Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.

3:15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

3:17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

SUPERHERO YANG SESUNGGUHNYA

Pernahkan Anda membayangkan seorang superhero seperti Batman, Superman, atau Spiderman benar-benar muncul dalam kehidupan nyata, dan mereka benar-benar datang untuk membuat bumi ini bersih dari segala tindak kejahatan? Entah pernah atau tidak kita berpikir demikian, tetapi yang jelas tentunya kita semua merindukan dunia ini dapat bersih dari para pelaku kejahatan, seperti perampok, penodong, atau para koruptor.

Namun, Alkitab memuat pernyataan tentang dunia yang sangat jauh dari harapan kita; dunia yang akan semakin jahat (ayat 13). Dan di tengah kejahatan yang semakin bertambah, Paulus menasihati Timotius untuk menjadi seorang “superhero”, bukan dengan memakai kekuatan fisik, melainkan dengan tetap melakukan perbuatan baik (ayat 17). Ya, dunia yang penuh dosa ini memang tidak akan pernah bisa lepas dari kejahatan. Dan kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan, sebab itu berarti melipatgandakan kejahatan. Kejahatan hanya bisa dikalahkan dengan kebaikan. Lalu bagaimana caranya? Dengan berpegang pada kebenaran Allah (ayat 14). Apabila semua orang berpegang kepada firman Tuhan, dunia ini akan bertambah baik.

Jadi, siapakah “superhero” yang sesungguhnya? Harapan bagi kedamaian dunia? Kita: orang-orang yang berpegang kepada kebenaran firman Tuhan. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain muncul untuk memberikan kedamaian dunia. Kedamaian haruslah dimulai dari diri kita sendiri. Tatkala kita berbuat baik, dan berpegang pada firman Allah, walaupun mungkin dunia semakin jahat, kita telah memberikan sedikit kedamaian-minimal bagi orang-orang yang ada di sekitar kita –RY

DI TENGAH DUNIA YANG MAKIN JAHAT

JANGANLAH KITA JEMU BERBUAT KEBAIKAN

Sumber : www.sabda.org

MERASA DIMUSUHI TUHAN

Rabu, 15 April 2009

Bacaan : Mazmur 102:1-23

102:1. Doa seorang sengsara, pada waktu ia lemah lesu dan mencurahkan pengaduhannya ke hadapan TUHAN. (102-2) TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu.

 

102:2 (102-3) Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku!

 

102:3 (102-4) Sebab hari-hariku habis seperti asap, tulang-tulangku membara seperti perapian.

 

102:4 (102-5) Hatiku terpukul dan layu seperti rumput, sehingga aku lupa makan rotiku.

 

102:5 (102-6) Oleh sebab keluhanku yang nyaring, aku tinggal tulang-belulang.

 

102:6 (102-7) Aku sudah menyerupai burung undan di padang gurun, sudah menjadi seperti burung ponggok pada reruntuhan.

 

102:7 (102-8) Aku tak bisa tidur dan sudah menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh.

 

102:8 (102-9) Sepanjang hari aku dicela oleh musuh-musuhku, orang-orang yang mempermainkan aku menyumpah dengan menyebut namaku.

 

102:9 (102-10) Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan,

 

102:10 (102-11) oleh karena marah-Mu dan geram-Mu, sebab Engkau telah mengangkat aku dan melemparkan aku.

 

102:11 (102-12) Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang, dan aku sendiri layu seperti rumput.

 

102:12. (102-13) Tetapi Engkau, ya TUHAN, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap turun-temurun.

 

102:13 (102-14) Engkau sendiri akan bangun, akan menyayangi Sion, sebab sudah waktunya untuk mengasihaninya, sudah tiba saatnya.

 

102:14 (102-15) Sebab hamba-hamba-Mu sayang kepada batu-batunya, dan merasa kasihan akan debunya.

 

102:15 (102-16) Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu,

 

102:16 (102-17) bila TUHAN sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya,

 

102:17 (102-18) sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka.

 

102:18 (102-19) Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN,

 

102:19 (102-20) sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi,

 

102:20 (102-21) untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh,

 

102:21 (102-22) supaya nama TUHAN diceritakan di Sion, dan Dia dipuji-puji di Yerusalem,

 

102:22 (102-23) apabila berkumpul bersama-sama bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan untuk beribadah kepada TUHAN.

 

102:23. (102-24) Ia telah mematahkan kekuatanku di jalan, dan memperpendek umurku.

 

MERASA DIMUSUHI TUHAN

pertobatan1

“Suami saya selalu menunjukkan sikap permusuhan. Apa pun yang saya lakukan dianggap salah. Saya harus bagaimana?” Keluh seorang ibu pada pendetanya. “Sudahkah Ibu berdoa memohon Tuhan melunakkan hatinya?” tanya Pendeta. Ibu itu menjawab, “Saya merasa Tuhan pun sedang memusuhi saya! Memang semuanya gara-gara saya. Beberapa tahun lalu saya pernah selingkuh. Sejak saat itu, biarpun sudah bertobat, saya merasa baik suami maupun Tuhan memusuhi saya!” Baca lebih lanjut