LATIHAN LAPANGAN

Sabtu, 27 Oktober 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 16:1-5

16:1. Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani.

16:2 Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium,

16:3 dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani.

16:4 Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya.

16:5 Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya.

 

LATIHAN LAPANGAN

Kalau kita akan mengajari anak kita untuk bisa naik sepeda, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan memintanya mencatat banyak teori tentang naik sepeda? Tentunya tidak! Kita biasanya memilih untuk langsung membawanya ke jalan atau tanah lapang bersama dengan sepedanya. Dengan memegangi sepedanya dan memberikan beberapa dorongan, kita memintanya untuk langsung naik dan mengayuh. Dengan cara itulah ia akan lebih cepat untuk dapat bersepeda

Cara serupa dipakai Paulus ketika ingin mengasah Timotius untuk menjadi pelayan yang tangguh. Ia tidak meminta Timotius untuk memperbanyak ikut “seminar kepemimpinan dan pelayanan”, tetapi meminta Timotius untuk ikut “praktik pelayanan” bersamanya (ayat 3). Timotius belajar dan dilatih dengan cara melihat Paulus melayani, sekaligus dilibatkan dalam pelayanan. Mau tidak mau, ia ikut merasakan penderitaan maupun sukacita pelayanan yang dialami Paulus (lihat 2 Timotius 3:10-11). Timotius menjadi matang melalui latihan di lapangan

Mungkin Anda merasa terpanggil untuk suatu pelayanan tertentu, namun ragu dengan kemampuan Anda. Mengambil komitmen terlibat langsung selama satu periode tertentu dapat menjadi latihan terbaik Anda. Mungkin kita sedang mempersiapkan mereka yang akan melayani, seberapa jauh kita memberikan kesempatan untuk mengalami apa yang dipelajari? Apakah kita pernah menciptakan peluang untuk mempraktikkan setiap prinsip firman Tuhan yang diajarkan? Ingat, menjadi pelaku firman jauh lebih penting daripada hanya sekedar tahu tentang firman. Dan, hal itu tidak terjadi di ruang kelas, melainkan dalam lapangan kehidupan setiap hari. –PBS

PERSIAPAN PELAYANAN TERBAIK

ADALAH DENGAN IKUT AMBIL BAGIAN DI DALAMNYA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

KUASA DALAM PUJIAN

Jumat, 10 Desember 2010

Bacaan : Kisah Para Rasul 16:19-31

19Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.

20Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, katanya: “Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi,

21dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya.”

22Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka.

23Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh.

24Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.

25Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.

26Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.

27Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri.

28Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!”

29Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas.

30Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?”

31Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

KUASA DALAM PUJIAN

Ketika saya mendampingi Ayah menjalani operasi atas kanker yang dideritanya, lalu menjalani perawatan selama lebih dari dua bulan di rumah sakit, rasa khawatir serta putus asa sering menyergap. Membuat saya sangat takut dan tidak berdaya. Untuk mengurangi kegelisahan di hati, setiap malam saya melantunkan kidung pujian sembari mendampingi Ayah yang mengalami insomnia. Awalnya, saya melakukannya hanya untuk kepentingan pribadi dan menyanyi dengan sangat lirih karena takut mengganggu kenyamanan pasien lain. Namun, ternyata pasien yang lain serta keluarga-yang se-ruangan dengan Ayah-tidak keberatan saya menyanyi, malah meminta saya menyanyi untuk semua, sebab kata mereka, nyanyian yang saya naikkan menenteramkan hati mereka juga.

Saya teringat kepada Rasul Paulus dan Silas yang tetap memuji Tuhan dalam masa sulit. Tubuh mereka tentu tersiksa karena hukuman dera yang dijatuhkan, dan terkurung di penjara yang sangat tidak nyaman (ayat 23, 24). Namun, mereka tidak mengeluh dan berputus asa. Sebaliknya mereka justru berdoa dan menyanyikan pujian kepada Allah. Tidak dengan ragu, malu, apalagi takut. Mereka memuji Tuhan dengan suara lantang hingga seluruh penghuni penjara turut mendengarkan (ayat 25). Dan, mukjizat pun terjadi! (ayat 26).

Biarlah bibir kita suka menaikkan nyanyian pujian kepada Tuhan. Khususnya pada masa yang sulit dan berat. Sebab, ada kuasa dalam setiap pujian yang dinaikkan dengan segenap hati. Kuasa yang membangkitkan iman kita sendiri, yang menguatkan orang lain di sekitar kita, yang mengagungkan kebesaran Tuhan, Sang Pengendali segala peristiwa –SR

ALLAH BEKERJA MELALUI SETIAP PUJIAN

YANG KITA HANTARKAN

Sumber : www.sabda.org

BERKAT DI BALIK NYANYIAN

Senin, 30 November 2009

Bacaan : Kisah 16:19-25

16:19 Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.

16:20 Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, katanya: “Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi,

16:21 dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya.”

16:22 Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka.

16:23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh.

16:24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.

16:25. Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.

BERKAT DI BALIK NYANYIAN

Nyanyian dalam kehidupan umat kristiani memiliki tempat yang sangat penting; bukan hanya dalam ibadah formal, melainkan juga dalam hidup sehari-hari. Melalui nyanyian yang kita naikkan atau dengarkan kita bisa merasakan, bahkan mengalami, kasih dan kuasa Allah. Seperti yang dirasakan dan dialami oleh Paulus dan Silas.

Karena fitnah, Paulus dan Silas mengalami penganiayaan dan dipenjarakan (ayat 23). Bahkan juga dibelenggu dalam pasungan yang kuat (ayat 24). Tetapi, mereka tidak mengeluh ataupun berputus asa. Pada ayat 25 dikatakan demikian: “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” Lalu terjadilah gempa bumi yang hebat. Semua pintu penjara terbuka, dan mereka terlepas dari belenggu (ayat 26).

Mungkin sekarang ini Anda tengah mengalami penderitaan yang hebat; kesulitan dan persoalan bertubi-tubi datang menerpa, beban hidup terasa berat, masa depan suram tidak menentu. Anda pun seolah hidup dalam penjara kepahitan. Jangan kecil hati, naikkanlah pujian. Seperti nyanyian ini: “Tenanglah kini hatiku, Tuhan memimpin langkahku. Di tiap saat dan kerja tetap kurasa tangan-Nya. Tuhanlah yang membimbingku; tanganku di pegang teguh. Hatiku berserah penuh, tanganku di pegang teguh” (Kidung Jemaat no. 410. Judul asli: He Leadeth Me). Resapi syairnya. Hayati musiknya. Rasakan kasih dan kuasa Allah melaluinya. Mungkin masalah Anda tidak lantas selesai, tetapi setidaknya iman Anda akan dipulihkan, pengharapan Anda dikobarkan, dan kasih Anda diteguhkan –AYA

NYANYIAN PUJIAN AKAN MEMBAWA KITA

SELANGKAH LEBIH DEKAT DENGAN TUHAN

Sumber : http://www.sabda.org