BENDA MATI YANG SOMBONG

Jumat, 22 Juni 2012

Bacaan : Yesaya 10:5-19

10:5. Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murka-Ku dan yang menjadi tongkat amarah-Ku!

10:6 Aku akan menyuruhnya terhadap bangsa yang murtad, dan Aku akan memerintahkannya melawan umat sasaran murka-Ku, untuk melakukan perampasan dan penjarahan, dan untuk menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan.

10:7 Tetapi dia sendiri tidak demikian maksudnya dan tidak demikian rancangan hatinya, melainkan niat hatinya ialah hendak memunahkan dan hendak melenyapkan tidak sedikit bangsa-bangsa.

10:8 Sebab ia berkata: “Bukankah panglima-panglimaku itu raja-raja semua?

10:9 Bukankah Kalno sama halnya seperti Karkemis, atau bukankah Hamat seperti Arpad, atau Samaria seperti Damsyik?

10:10 Seperti tanganku telah menyergap kerajaan-kerajaan para berhala, padahal patung-patung mereka melebihi yang di Yerusalem dan yang di Samaria,

10:11 masakan tidak akan kulakukan kepada Yerusalem dan patung-patung berhalanya, seperti yang telah kulakukan kepada Samaria dan berhala-berhalanya?

10:12 Tetapi apabila Tuhan telah menyelesaikan segala pekerjaan-Nya di gunung Sion dan di Yerusalem, maka Ia akan menghukum perbuatan ketinggian hati raja Asyur dan sikapnya yang angkuh sombong.

10:13 Sebab ia telah berkata: “Dengan kekuatan tanganku aku telah melakukannya dan dengan kebijaksanaanku, sebab aku berakal budi; aku telah meniadakan batas-batas antara bangsa, dan telah merampok persediaan-persediaan mereka, dengan perkasa aku telah menurunkan orang-orang yang duduk di atas takhta.

10:14 Seperti kepada sarang burung, demikianlah tanganku telah menjangkau kepada kekayaan bangsa-bangsa, dan seperti orang meraup telur-telur yang ditinggalkan induknya, demikianlah aku telah meraup seluruh bumi, dan tidak seekorpun yang menggerakkan sayap, yang mengangakan paruh atau yang menciap-ciap.”

10:15 Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya, atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mempergunakannya? seolah-olah gada menggerakkan orang yang mengangkatnya, dan seolah-olah tongkat mengangkat orangnya yang bukan kayu!

10:16 Sebab itu Tuhan, TUHAN semesta alam, akan membuat orang-orangnya yang tegap menjadi kurus kering, dan segala kekayaannya akan dibakar habis, dengan api yang menyala-nyala.

10:17 Maka Terang Israel akan menjadi api, dan Allahnya, Yang Mahakudus, akan menyala-nyala dan akan membakar dan memakan habis puteri malu dan rumputnya pada satu hari juga.

10:18 Keindahan hutan Asyur dan kebun buah-buahannya akan dihabiskan-Nya, dari batangnya sampai rantingnya, sehingga akan menjadi seperti seorang sakit yang merana sampai mati;

10:19 dan sisa pohon-pohon hutannya akan dapat dihitung banyaknya, sehingga seorang anak dapat mencatatnya.

 

BENDA MATI YANG SOMBONG

Sepanjang sejarah, Tuhan memakai manusia sebagai alat untuk menggenapi rencana-Nya. Tuhan dapat memakai siapa pun, baik orang yang percaya maupun orang yang tidak percaya. Raja Asyur contohnya. Ia “dipakai” Tuhan untuk mendidik umat Israel. Sang penguasa ini tengah ada di puncak kejayaannya, meraih kemenangan demi kemenangan, termasuk merebut Israel Utara dan mengangkut segenap penduduknya sebagai tawanan (lihat 2 Raja-raja 17:7-23).

Catatan Alkitab memberitahu kita bahwa kemenangan Asyur bukanlah karena kehebatannya, melainkan karena Tuhan berkenan memakai mereka untuk menghajar umat-Nya yang murtad (ayat 6). Sayangnya, niat hati mereka jahat. Mereka justru membanggakan dan menyombongkan kekuatannya (ayat 7-11). Yesaya mengibaratkan raja Asyur seperti kapak, gergaji, gada, dan tongkat (ayat 15). Benda-benda yang tidak bernyawa dan hanya dapat berguna apabila ada yang menggerakkannya. Ironisnya, benda-benda mati itu sombong, menyangka mereka sendirilah yang hebat. Tuhan murka terhadap kesombongan Asyur. Ketika genap masanya Tuhan memulihkan Israel, segala kemegahan Asyur akan dibinasakan (ayat 12, 16-19).

Apakah kita menyadari bahwa diri kita juga merupakan alat di tangan Tuhan benda-benda mati yang tak berdaya sampai Tuhan berkenan menggunakannya bagi tujuan-tujuan-Nya yang mulia? Mari membangun sikap hati yang benar sebagai “benda-benda mati” yang tak semestinya sombong. Ketika diberi kesempatan melayani, kita mengerjakannya dengan segenap hati. Ketika dikaruniai keberhasilan, kita bersyukur dan menghormati Tuhan yang telah berkenan memakai kita. –LCM

TUHAN, TIAP KESEMPATAN DAN KEBERHASILAN ADALAH KARYA-MU.

JAGAI HATIKU AGAR SELALU KAGUM HANYA PADA-MU.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

MEMILIH NERAKA

Sabtu, 11 Februari 2012

Bacaan : Roma 1:18-32

1:18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.

1:19. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.

1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.

1:21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.

1:22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.

1:23 Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.

1:24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.

1:25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.

1:26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.

1:27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

1:28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:

1:29 penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.

1:30 Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,

1:31 tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.

1:32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

MEMILIH NERAKA

Mungkinkah Tuhan Yang Mahakasih menjebloskan manusia ke neraka? Pertanyaan ini pernah menggelisahkan batin saya cukup lama. Sampai saya memahami kebenaran firman-Nya.

Dalam surat kepada jemaat di Roma, Paulus menjelaskan tentang kabar baik keselamatan dari Tuhan. Namun sebelumnya, ia mulai dengan kabar buruk kondisi rohani umat manusia. Tuhan menyatakan Diri supaya manusia dapat mengenal-Nya dan memuliakan-Nya (ayat 19-20). Akan tetapi, manusia membelakangi penyataan-penyataan-Nya dan memberontak melawan Pencipta-Nya (ayat 21-23). Manusia lebih suka meng ikuti keinginan hatinya (ayat 24-25), hawa nafsunya (ayat 26-27), pikiran-pikirannya (ayat 28-29), dan memilih untuk berkubang dalam rupa-rupa kecemaran (ayat 30-31). Lebih celaka lagi, meski manusia tahu konsekuensi hukumannya, mereka tidak sekadar terus melawan Tuhan, tetapi juga bersukacita ketika orang lain ada dalam pemberontakan yang sama (ayat 32).

Tuhan tidak menjebloskan manusia ke neraka. Para pemberontak yang akhirnya berada di neraka memilih untuk tinggal di sana. Tuhan menghargai pilihan itu. Mengutip C.S. Lewis: “Pada akhirnya akan ada dua macam orang: orang-orang yang berkata kepada Tuhan, ‘Jadilah kehendak-Mu, ‘ dan orang-orang yang kepadanya Tuhan berkata, ‘Jadilah kehendakmu.'” Apakah kita selama ini menyambut anugerah Tuhan dengan syukur dan penyerahan diri yang sungguh? Ataukah kita lebih memilih mengikuti keinginan hati seraya menuduh Tuhan yang tidak mengikuti kemauan kita sebagai Tuhan yang kurang kasih? –JOO

Tuhan Yang Mahakasih menyediakan jalan keselamatan

Apakah Anda menyambutnya, atau justru menjauh darinya?

Dikutip : www.sabda.org

NANTIKANLAH PENGERTIAN TUHAN

PESAN GEMBALA

21 MARET 2010

EDISI 118 TAHUN 3

NANTIKANLAH PENGERTIAN TUHAN

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati Tuhan.

Nantikanlah pengertian dari Allah, “Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang kutnjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan dan terhadap para lawan Aku balikkan tanganKu” Janganlah bersandar kepada alasan-alasan yang terbatas atau pada kecakapan/kecerdasan manusia belaka. Dalam keseharian kita sering dihadapkan pada peperangan rohani. Peperangan rohani hanya akan dimenangkan melalui ketaatan dalam mengikuti kemauan Allah yang sudah diberikanNya melalui Roh Kudus.

Bila kita mendengar kepada Allah dengan ketergantugan seperti seorang anak kecil, maka Ia akan menuntun kita masuk ke dalam kemenangan. Ayat-ayat yang ada di dalam Alkitab penuh dengan nasehat untuk menanti-nantikan Tuhan. Mazmur 40:2 berkata: “Aku sangat menantik-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong.Kita sudah dijanjikan bahwa Allah akan berbicara bila kita mau mencari Dia. Yohanes 10:27 mengatakan: ”Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.”

Ketika kita menanti-nantikan Tuhan dan memberi ruang gerak kepadaNya untuk bergerak, maka Ia selalu bergerak. Teladan dari Yesus adalah bahwa Dia senantiasa meminta petunjuk kepada Bapa perihal firman yang seharusnya Ia katakan. Yohanes 12:49-50 “sebab Aku berkata-kata bukan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan Dan Aku tahu, bahwa perintahNya itu adalah hidup, yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan , Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaKu.”

Alkitab memperingatkan kita tentang dosa kesombongan kita yang mencoba untuk memperluas kerajaan Allah tanpa meminta arah yang jelas dari Dia. Mari kita melihat bangsa Israel, setelah kemenangan besar di Yerikho, umat Israel mengalami suatu kekalahan yang menyakitkan di Ai. Kekalahan itu karena mereka tidak meminta petunjuk dari Tuhan, atau tidak menanti dan berharap kepada Tuhan, maka dikemudian hari mereka masih melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang, inilah yang dinamakan kebebalan umat Israel. Ini menjadi peringatan bagi umat Tuhan sekarang ini, seringkali hati kita bisa dengan cepat diperdaya masuk ke dalam rasa kepercayaan yang berlebihan, bahwa kita sudah merasa memiliki pengertian akan kebenaran yang tinggi dan akhirnya merasa bisa. Harus kita ingat bahwa musuh kita adalah bapanya penipu. Kita tidak akan bisa menandingina, kecuali kalau Roha Allah menyertai dan memimpin kita. Galatia 5:16, “maksudku ialah: hiduplah oleh Roh”. Tidak lama setelah kekalahan di Ai, bangsa Israel ditipu habis-habisan oleh suku bangsa Gideon. Mereka membuat perjanjian yang lancang dengan musuh mereka karena mereka mempercayai alasa dan keputusan sendiri dan TIDAK meminta keputusan Tuhan.

Jemaat yang dikasihi Tuhan…

Kita bisa saja membuat rencana yang besar, dan kemudian dengan mantap membuat keputusan, tetapi Allah sendirilah yang sanggup meraih kemenangan. Dia hanya memberkati apa yang sudah Dia mulai dengan rencanaNya. Untuk itu kiranya kita tetap bertindak sesuai dengan rencanaNya, sehingga Allah memberkati kita. Tetaplah berharap kepada Allah.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Memperoleh Kesatuan dan Damai Sejahtera

PESAN GEMBALA

07 MARET 2010

EDISI 116 TAHUN 3

Memperoleh Kesatuan dan Damai Sejahtera

Shalom… Salam Miracle.

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, seringkali kita mendengar ajaran tentang kerendahan hati, dimana setiap orang mendahulukan kepentingan diri sendiri. Alkitab memerintahkan kita menganggap orang lain lebih utama dari diri sendiri, Filipi 2:3-4, “Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.”

Orang yang memiliki hati yang remuk tidak mudah tersinggung atau marah. Tetapi tidak demikian dengan orang yang memiliki keakuan yang besar. Percekcokan dan konflik berhenti bila kita memiliki hati yang remuk, Amsal 13:10,”Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasehat mempunyai hikmat.”

Kepribadian yang kasar, pemarah, sombong, suka mendominasi, suka menuntut, dan keras perlu diremukkan. Orang-orang di sekitar kita tidak boleh merasakan roh kita; mereka harus merasakan Roh Allah yang bekerja melalui kita. Bila orang lebih merasakan roh kita daripada Roh Allah, itu berarti kita membutuhkan hati yang remuk. Dan ini memerlukan banyak penghancuran.

Hati yang tidak remuk dimiliki oleh orang yang tidak disiplin dan dididik secara benar ketika ia masih kecil. Hanya TUAN-TUAN yang sering seringkali mudah tersinggung, bukan anak domba-anak domba.

Orang yang rendah hati dan memiliki hati yang lembut dan remuk, tidak pernah tersinggung seperti orang disebutkan dalam Amsal 18:19. orang menjadi tersinggung karena keakuannya terluka. Kasih karunia telah ditolaknya dan ia telah mengeraskan hatinya serta menjadi pahit hati, Ibrani 4:16, ”Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

Bandingkan denganIbrani 12:15, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan mudah tumbuh AKAR YANG PAHIT yang menimbulkan KERUSUHAN dan MENCEMARKAN BANYAK ORANG”. Orang menjadi tersinggung karena memelihara suatu luka hati dan mencebloskan dirinya sendiri ke dalam suatu lubang yang dalam. Ia tidak dapat disembuhkan, tidak dengan permintaan maaf atau apapun juga, sebelum mengalami jamahan Allah.

Hati yang mudah tersinggung yang dibiarkan tidak diobati akan menjadi SANGAT JAHAT. Dihari-hari terakhir banyak orang akan tersinggung, dan ini akan membuat mereka saling membenci dan mengkhianati (Matius 24:10). Apakah kita sadar betapa seriusnya problem kita bila membiarkan hati kita tersinggung? Saya ingin mengulangi hal ini. Orang yang tersinggung itu bukan anak domba, ia adalah seorang Tuan, sombong serta tidak memiliki hati yang remuk. Ia memiliki suatu pendapat yang tinggi tentang dirinya sendiri dan “SOK PENTING”. Ia mempertahankan hak-haknya dan menuntut pembelaan atas dirinya.

Salah satu tipuan yang memperdayai seseorang yang tersinggung adalah ia percaya bahwa ia memiliki hak untuk tersinggung, dan bahwa ia dibenarkan untuk marah dan melukai orang-orang lain. (Ia tidak benar-benar percaya bahwa Allah memakai ketidakadilan untuk meningkatkan kerohanian untuk meningkatkan kerohanian anak-anakNya).

Karena itu, hatinya mulai tersipu. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari lubang yang menyeramkan ini adalah dengan menjadi ANAK DOMBA, menyerahkan hak-hak kita, dan meneladani Kapten Keselamatan kita yang memeprcayakan segala ketidakadilan yang ia alami kepada Bapa Surgawi-Nya.

I Petrus 2:21-23, ”Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulutNya. Ketika Ia dicaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, Yang menghakimi dengan adil.”

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tersinggung. Neraka dipenuhi dengan orang-orang yang tersinggung, yang menolak kasih karunia Allah ketika mereka disakiti. Mereka meninggal dengan memegang erat kepahitan mereka terhadap Allah dan orang-orang yang tidak mau mereka maafkan. Kini mereka sendiri tersiksa dengan pelanggaran-pelanggaran yang tidak mau mereka maafkan dalam diri orang lain. Akan sangat penting bagi kita anak-anakNya untuk senantiasa rendah hati dan menikmati damai sejahtera bersama dengan kasih Tuhan.

Allah tinggal bersama mereka yang rendah hati. Hadirat Tuhan ditolak oleh hati yang keras, tetapi kekerasan tidak dimiliki oleh orang yang rendah hati. Allah menolak orang yang sombong, karena kesombongan juga menolakNya. Allah tidak akan berjalan dengan orang yang sombong. Ia berjalan bersama orang yang rendah hati karena Ia sendiripun rendah hati. Dalam hati yang lembut Allah menuliskan hukum-hukumNya, tetapi Allah tidak dapat bekerja di hati yang keras. Hati yang keras itu tidak peka dan tidak mampu mendengar suara Roh yang lembut. Allah membimbing orang-orang yang lembut hati.

Salam mujizat…

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

RAJAWALI JATUH

Kamis, 10 September 2009

Bacaan : Obaja 1:1-7

1:1. Penglihatan Obaja. Beginilah firman Tuhan ALLAH tentang Edom–suatu kabar telah kami dengar dari TUHAN, seorang utusan telah disuruh ke tengah bangsa-bangsa: “Bangunlah, marilah kita bangkit memeranginya!” —

1:2 Sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil di antara bangsa-bangsa, engkau dihinakan sangat.

1:3 Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?”

1:4 Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, –demikianlah firman TUHAN.

1:5 Jika malam-malam pencuri atau perampok datang kepadamu–betapa engkau dibinasakannya–bukankah mereka akan mencuri seberapa yang diperlukannya? Jika pemetik buah anggur datang kepadamu, bukankah mereka akan meninggalkan sisa-sisa pemetikannya?

1:6 Betapa kaum Esau digeledah, betapa harta bendanya yang tersembunyi dicari-cari!

1:7 Sampai ke tapal batas engkau diusir oleh semua teman sekutumu; engkau diperdayakan, dikalahkan oleh sahabat-sahabatmu. Siapa yang makan sehidangan dengan engkau memasang jerat terhadap engkau. –Tidak ada pengertian padanya.

 

RAJAWALI JATUH

Tentang kesombongan, C.S. Lewis menulis, “Berhadapan dengan Allah, manusia berhadapan dengan Sosok yang keunggulannya dalam segala aspek tak tertandingi. Kalau Anda tidak melihat Allah sebagaimana adanya-dan dengan demikian melihat diri Anda secara mutlak tidak sebanding dengan Dia-Anda sama sekali tidak mengenal Allah. Selama Anda sombong, Anda tidak mungkin mengenal Allah. Orang yang sombong selalu memandang ke bawah, merendahkan orang lain dan segala sesuatu: dan, tentu saja, selama Anda melihat ke bawah, Anda tidak akan dapat melihat sesuatu yang ada di atas Anda.”

Sikap semacam itu diperlihatkan bangsa Edom. Mereka membanggakan kehebatan dan pengaruh mereka di tengah bangsa-bangsa lain. Mereka memegahkan perbentengan yang tinggi dan kokoh. Mereka menyombongkan kekayaan dan kemakmuran. Mereka mengandalkan persekutuan dengan negara-negara sahabat. “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?” pikir bangsa itu.

Mereka lalai; tidak memperhitungkan keberadaan Allah. Allah yang sanggup meninggikan dan merendahkan bangsa-bangsa semudah membalikkan telapak tangan. Terhadap bangsa Edom, Dia berfirman, rajawali pongah itu akan dijatuhkan.

Kesombongan berkaitan dengan cara pandang kita terhadap Allah serta siapa atau apa yang kita andalkan. Apakah kita menghormati Dia melalui sikap, ucapan, dan tindakan kita? Manakah andalan kita: diri sendiri, keunggulan yang kita miliki, atau Allah? Kiranya kita dijauhkan dari keangkuhan Edom dan belajar merendahkan diri di hadapan Allah -ARS

KESOMBONGAN MENDATANGKAN KEJATUHAN

Sumber : www.sabda.org