ADA POHON ARA

Rabu, 2 Januari 2013

Bacaan: Lukas 19:1-10

19:1. Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.

19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

19:9 Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.

19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

ADA POHON ARA

Orang banyak berdesak-desakan menjejali jalan itu. Zakeus, karena tubuhnya pendek, tidak bisa menembus kerumunan orang tersebut. Pandangannya teralang. Tapi ia sangat ingin melihat Yesus. Ia tidak putus asa; segera ia mencari cara lain. Ternyata di dekatnya ada sebatang pohon ara. Segera ia memanjatnya, agar sewaktu Yesus lewat, ia dapat melihat-Nya dari ketinggian. Dan… berhasil! Bukan hanya melihat Yesus, tetapi Yesus bahkan memanggilnya dan menumpang di rumahnya (ay. 5). Itulah awal perubahan dalam kehidupan Zakeus.

Mungkin pada tahun lalu kita menghadapi jalan buntu atau kegagalan dalam hidup. Hal itu membuat kita cenderung takut untuk merencanakan sesuatu pada tahun baru ini. Takut gagal lagi. Kita lebih banyak merenungi pintu yang tertutup daripada memikirkan jalan keluar. Kita tidak melihat pohon ara yang bisa kita panjat. Kita mulai putus asa dengan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak melangkah ke mana-mana, hanya diam di tempat, dan akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

Dari Zakeus, kita dapat belajar untuk tidak berputus asa apa pun kondisi yang ada. Kita perlu meneguhkan keinginan untuk mengupayakan yang terbaik dalam hidup ini. Mengapa kita tidak mulai melihat peluang di sekeliling kita? Kadang hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan, itu yang akan mengubah atau membawa kehidupan kita menjadi lebih baik. Bawalah setiap pergumulan dan rencana kita tahun ini kepada Tuhan dan biarlah Dia memampukan kita menyelesaikannya. Masih ada pohon ara yang dapat kita panjat tahun ini. –IST

JANGAN HANYA TERFOKUS PADA PINTU YANG TERTUTUP.

 LIHATLAH, MASIH ADA JENDELA YANG TERBUKA!

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

SAHABAT YESUS

Kamis, 6 Desember 2012

Bacaan: Yohanes 15:9-17

15:9. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.

15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

SAHABAT YESUS

Bagaimana perasaan Anda jika hari ini telepon berdering dan seseorang di seberang sana mengabarkan bahwa Anda terpilih untuk menghadiri jamuan makan malam di istana presiden? Untuk lebih meyakinkan Anda, ia menyebutkan identitas lengkap Anda berikut nomor-nomor dokumen kewarganegaraan Anda. Begitu telepon ditutup Anda mungkin tidak tahan untuk tidak menceritakannya kepada seisi rumah, bahkan teman-teman dekat Anda.

Bagaimana perasaan Anda mendengar Yesus berkata, bahwa Dia mengasihi Anda, dan Anda adalah sahabat-Nya? Adakah perasaan bangga, terhormat, sekaligus gentar menyelimuti, karena Tuhan Yang Mahakuasa, menganggap kita begitu berharga? Dia tidak harus melakukannya. Dia bukan Pribadi kesepian yang membutuhkan sahabat. Namun, bukankah seringkali kita menggambarkan Tuhan seperti layaknya seseorang yang memelas meminta persahabatan kita. Seolah-olah karena Tuhan sudah berkorban begitu banyak, kita harus memperhatikan dan membalas budi baik-Nya: “Tuhan sungguh ingin bersahabat dengan kita! Tidakkah kita juga mau bersahabat dengan-Nya?”

Menjadikan kita sahabat itu sepenuhnya pilihan Yesus, bukan sesuatu yang tergantung kita (ayat 16). Kita tidak sedang diajak bersimpati dengan-Nya, kita sedang menerima kehormatan yang besar dari-Nya! Dengan tegas Yesus memberitahukan syarat untuk menerima kehormatan itu: taatilah perintah-Nya, perhatikanlah semua firman-Nya (ayat 14-15). Tidak lagi dengan mental seorang pesuruh yang hanya mengikuti instruksi, tetapi sebagai sahabat yang melakukan sesuatu dengan kasih. Apakah Anda sahabat Yesus? –LIT

MENJADI SAHABAT YESUS ADALAH SEBUAH KEHORMATAN,

 BUKAN AJAKAN BERSIMPATI APALAGI SEBUAH PAKSAAN.

Dikutip : www.sabda.org

SEBELUM BEREAKSI

Jumat, 23 November 2012

Bacaan : Filipi 4:2-9

4:2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.

4:3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.

4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

 

SEBELUM BEREAKSI

Surat dari seorang rekan membuat apa yang sudah saya rencanakan jadi berantakan. Berbagai pemikiran berbaris di kepala saya. Kemarahan atas isi suratnya. Kekhawatiran akan persepsi orang yang dibentuk olehnya. Penilaian jelek saya tentang karakter rekan tersebut. Juga skenario balasan untuk mematahkan argumennya. Sukar memikirkan hal-hal yang baik tentang orang itu maupun cara-cara yang bersahabat untuk menyelesaikan masalah. Pemikiran negatif saya memicu reaksi yang negatif pula.

Paulus tampaknya menyadari kecenderungan reaksi semacam ini. Mungkin itulah sebabnya, di tengah perselisihan antara Euodia dan Sintikhe di jemaat Filipi (ayat 2), ia memberi nasihat untuk mengarahkan fokus pemikiran pada hal-hal yang positif (ayat 8). Bukan berarti mengabaikan masalah, melainkan tidak terus berputar-putar dalam masalah. Memikirkan apa yang Tuhan ingin dilakukan anak-anak-Nya adalah langkah yang seharusnya diambil. Menjunjung kebenaran dan berani mengakui kesalahan. Mengambil putusan yang objektif. Menegur kesalahan dengan kasih, memberi dorongan semangat. Berinisiatif untuk memulihkan hubungan. Fokusnya bukan membenarkan diri sendiri, tetapi melakukan apa yang berkenan di hati Tuhan. Ini adalah kesaksian yang indah bagi orang-orang yang melihatnya.

Apa yang kita biarkan menguasai pikiran kita akan sangat memengaruhi tindakan-tindakan kita. Ketika kemarahan, keluhan, kesedihan, mulai menguasai diri, tahan diri untuk langsung bereaksi. Datanglah pada Tuhan memohon damai sejahtera-Nya melingkupi. Minta pertolongan Tuhan untuk mengarahkan pikiran kita pada hal-hal yang berkenan di hati-Nya. –ELS

TUHAN, KUASAI PIKIRANKU DENGAN PIKIRAN-MU,

AGAR AKU DAPAT MELAKUKAN HAL-HAL YANG MENYUKAKAN HATI-MU.

Dikutip : www.sabda.org

LATIHAN LAPANGAN

Sabtu, 27 Oktober 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 16:1-5

16:1. Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani.

16:2 Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium,

16:3 dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani.

16:4 Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya.

16:5 Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya.

 

LATIHAN LAPANGAN

Kalau kita akan mengajari anak kita untuk bisa naik sepeda, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan memintanya mencatat banyak teori tentang naik sepeda? Tentunya tidak! Kita biasanya memilih untuk langsung membawanya ke jalan atau tanah lapang bersama dengan sepedanya. Dengan memegangi sepedanya dan memberikan beberapa dorongan, kita memintanya untuk langsung naik dan mengayuh. Dengan cara itulah ia akan lebih cepat untuk dapat bersepeda

Cara serupa dipakai Paulus ketika ingin mengasah Timotius untuk menjadi pelayan yang tangguh. Ia tidak meminta Timotius untuk memperbanyak ikut “seminar kepemimpinan dan pelayanan”, tetapi meminta Timotius untuk ikut “praktik pelayanan” bersamanya (ayat 3). Timotius belajar dan dilatih dengan cara melihat Paulus melayani, sekaligus dilibatkan dalam pelayanan. Mau tidak mau, ia ikut merasakan penderitaan maupun sukacita pelayanan yang dialami Paulus (lihat 2 Timotius 3:10-11). Timotius menjadi matang melalui latihan di lapangan

Mungkin Anda merasa terpanggil untuk suatu pelayanan tertentu, namun ragu dengan kemampuan Anda. Mengambil komitmen terlibat langsung selama satu periode tertentu dapat menjadi latihan terbaik Anda. Mungkin kita sedang mempersiapkan mereka yang akan melayani, seberapa jauh kita memberikan kesempatan untuk mengalami apa yang dipelajari? Apakah kita pernah menciptakan peluang untuk mempraktikkan setiap prinsip firman Tuhan yang diajarkan? Ingat, menjadi pelaku firman jauh lebih penting daripada hanya sekedar tahu tentang firman. Dan, hal itu tidak terjadi di ruang kelas, melainkan dalam lapangan kehidupan setiap hari. –PBS

PERSIAPAN PELAYANAN TERBAIK

ADALAH DENGAN IKUT AMBIL BAGIAN DI DALAMNYA

Dikutip : www.sabda.org

BUKAN KANKER PERAMPASNYA

Rabu, 17 Oktober 2012

Bacaan : Mazmur 51

51:1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud, (51-2) ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba. (51-3) Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!

51:2 (51-4) Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!

51:3 (51-5) Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

51:4 (51-6) Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

51:5 (51-7) Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

51:6 (51-8) Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

 

51:7. (51-9) Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

51:8 (51-10) Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!

51:9 (51-11) Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku!

51:10 (51-12) Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

51:11 (51-13) Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

51:12 (51-14) Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

51:13 (51-15) Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

 

51:14. (51-16) Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!

51:15 (51-17) Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!

51:16 (51-18) Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.

51:17 (51-19) Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

51:18 (51-20) Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem!

51:19 (51-21) Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya; maka orang akan mengorbankan lembu jantan di atas mezbah-Mu.

 

BUKAN KANKER PERAMPASNYA

Saya hampir tidak percaya apa yang saya lihat. Wajah yang bersinar penuh sukacita di depan saya adalah seorang pasien kemoterapi karena kanker getah bening stadium empat yang dideritanya. Terakhir kami bertemu wajahnya suram bukan main, dan napasnya sesak karena 80 persen paru-parunya penuh sel kanker. Kini, dengan leluasa ia bertutur bagaimana Tuhan memakai kondisi sulit itu untuk membongkar banyak kepahitan, kebencian, dan masalah-masalah yang tertimbun di hatinya. Ketika semua itu dibereskan, sukacita mengalir deras, dan ajaibnya, kondisi fisiknya ikut mengalami kemajuan. Perebut sukacita yang sesungguhnya sudah disingkirkan

Kisahnya mengingatkan saya pada Daud yang kehilangan sukacita ketika ia berbuat dosa. Dalam Mazmur pengakuannya, ia melukiskan bagaimana dosa yang dipendam membuat batinnya bergumul, dan tulangnya remuk (ayat 5, 10). Ketika dosa dibereskan, Daud kembali menjadi orang yang berbahagia (bandingkan Mazmur 32:1-2), dan kebaikan-kebaikan Allah spontan mengalir dari bibirnya (ayat 15-16). Daud sadar bahwa sukacita itu sangat erat kaitannya dengan Roh Tuhan yang berdiam dalam dirinya (ayat 13). Kerelaan untuk taat juga merupakan karya Roh Tuhan (ayat 14)

Apakah hari ini Anda sedang kehilangan sukacita? Salah satu perampas sukacita adalah dosa. Periksalah apakah ada kebencian, kepahitan, ketidakmauan mengampuni, atau dosa lain yang belum dibereskan di hadapan Tuhan. Akui dan tinggalkan dosa. Biarkan Tuhan memerdekakan Anda, dan memberikan buah-buah sukacita melalui kehadiran Roh-Nya. –ELS

DALAM HUBUNGAN YANG HARMONIS DENGAN TUHAN,

SITUASI SULIT TAK BERKUASA MERAMPAS SUKACITA KITA

Dikutip : www.sabda.org

ESTER AHN KIM

Jumat, 5 Oktober 2012

Bacaan : Mazmur 119:41-56

119:41. Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, keselamatan dari pada-Mu itu sesuai dengan janji-Mu,

119:42 supaya aku dapat memberi jawab kepada orang yang mencela aku, sebab aku percaya kepada firman-Mu.

 

119:43. Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu.

119:44 Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya.

 

119:45. Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu.

119:46 Aku hendak berbicara tentang peringatan-peringatan-Mu di hadapan raja-raja, dan aku tidak akan mendapat malu.

119:47 Aku hendak bergemar dalam perintah-perintah-Mu yang kucintai itu.

119:48 Aku menaikkan tanganku kepada perintah-perintah-Mu yang kucintai, dan aku hendak merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu.

 

119:49. Ingatlah firman yang Kaukatakan kepada hamba-Mu, oleh karena Engkau telah membuat aku berharap.

119:50. Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku.

119:51. Orang-orang yang kurang ajar sangat mencemoohkan aku, tetapi aku tidak menyimpang dari Taurat-Mu.

119:52. Aku ingat kepada hukum-hukum-Mu yang dari dahulu kala, ya TUHAN, maka terhiburlah aku.

 

119:53. Aku menjadi gusar terhadap orang-orang fasik, yang meninggalkan Taurat-Mu.

119:54. Ketetapan-ketetapan-Mu adalah nyanyian mazmur bagiku di rumah yang kudiami sebagai orang asing.

119:55. Pada waktu malam aku ingat kepada nama-Mu, ya TUHAN; aku hendak berpegang pada Taurat-Mu.

119:56 Inilah yang kuperoleh, bahwa aku memegang titah-titah-Mu.

 

ESTER AHN KIM

Jika Anda sudah tahu akan dijebloskan ke dalam penjara untuk waktu yang lama, apakah yang akan Anda lakukan? Sebagian orang mungkin ingin memaksimalkan waktu yang tersisa untuk menikmati hal-hal yang disenangi. Ester Ahn Kim, seorang kristiani di Korea, tahu bahwa ia pasti dipenjara karena ia menolak bersujud dalam kuil yang dibangun penjajah di negaranya. Menariknya, sebagai persiapan, ia melatih diri untuk menghafal lebih dari seratus pasal Alkitab, karena tahu ia tak akan diizinkan menyimpan Alkitabnya. Tuhan memakai kesiapannya untuk membawa banyak orang mengenal Juru Selamat dan mengalami hidup yang diubahkan selama ia hidup di balik terali besi

Persiapan Ester menunjukkan di mana hatinya berada. Ia tak mungkin bersusah payah menghafalkan isi Alkitab jika ia tidak menganggapnya cukup penting dan berharga. Ia tak ingin berpisah dengan Firman Tuhan. Kecintaan yang juga kita baca dari Mazmur 119. Pemazmur tak ingin berhenti memperkatakan Firman Tuhan, baik bagi dirinya sendiri (ayat 43-45), maupun bagi orang-orang di sekitarnya (ayat 42, 46). Firman Tuhan menjadi sumber pengharapan (ayat 50), sukacita (ayat 47), tuntunan (ayat 51), penghiburan (ayat 52), nyanyian (ayat 54), dan upahnya (ayat 56)

Kecintaan Ester dan pemazmur terhadap firman Tuhan membuat saya menginginkan keintiman yang lebih lagi dengan Tuhan. Dan jujur, disiplin yang lebih lagi. Bukan supaya dapat bermegah dengan banyaknya Firman Tuhan yang saya hafal, tetapi supaya saya makin peka mendengarkan suara Roh-Nya, dan hidup saya makin mengalirkan kasih-Nya. Adakah Anda juga memiliki kerinduan yang sama? –MEL

KETIKA FIRMAN TUHAN MELEKAT DALAM INGATAN,

MASALAH KITA HADAPI DENGAN PENUH KESIAPAN

Dikutip : www.sabda.org

STOP KOMPROMI!

Kamis, 20 September 2012

Bacaan : Galatia 5:16-26

5:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.

5:17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

5:18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.

5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

5:26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

 

STOP KOMPROMI!

Lagu band Seurieus Rocker Juga Manusia (2004) sangat populer pada masanya, dan judul itu sering digunakan sebagai plesetan. Dengan latah kita juga berkata: “orang Kristen juga manusia” atau “pendeta juga manusia” – artinya masih rentan terhadap dosa. Di satu sisi, memang benar sebagai manusia kita tak boleh pongah karena kita masih dapat jatuh dalam dosa. Di sisi lain, kerap ungkapan itu dijadikan dalih untuk membenarkan pelanggaran.

Alkitab menentang keras kompromi terhadap dosa. Keinginan daging, yang membuahkan dosa dan berbagai tindak kejahatan (ayat 19-21, 26), bertentangan dengan keinginan Roh Tuhan (ayat 17). Misalnya saja: hidup yang dikuasai nafsu bertolak belakang dengan pengendalian diri; perseteruan tidak sejalan dengan kasih; kepentingan diri sendiri dan kemurahan adalah dua sikap yang kontras. Mengikuti keinginan Roh tidak dapat dikompromikan dengan keinginan daging. Paulus mengingatkan, ini tidak sama dengan sekadar memenuhi hukum Taurat (ayat 18). Hukum menunjukkan apa yang salah, Roh menuntun orang melakukan apa yang benar. Tidak ada hukum yang menentang pimpinan Roh, karena Roh pasti menuntun pada kebenaran (ayat 23).

Di tengah berbagai situasi yang mengundang kompromi dengan dosa, kita perlu terus-menerus menyadari identitas kita sebagai milik Kristus. Tidak cukup kita menyadari apa yang salah, tetapi juga melakukan apa yang benar, apa yang seturut dengan keinginan Roh Tuhan. –BER

KATAKAN YA PADA ROH DAN TIDAK PADA DOSA.

KEDUANYA TIDAK MUNGKIN DIPERSATUKAN.

Dikutip : www.sabda.org