PILIHAN KARTINI

Rabu, 21 April 2010

Bacaan : 1 Tawarikh 29:1-9

29:1. Berkatalah raja Daud kepada segenap jemaah itu: “Salomo, anakku yang satu-satunya dipilih Allah adalah masih muda dan kurang berpengalaman, sedang pekerjaan ini besar, sebab bukanlah untuk manusia bait itu, melainkan untuk TUHAN Allah.

29:2 Dengan segenap kemampuan aku telah mengadakan persediaan untuk rumah Allahku, yakni emas untuk barang-barang emas, perak untuk barang-barang perak, tembaga untuk barang-barang tembaga, besi untuk barang-barang besi, dan kayu untuk barang-barang kayu, batu permata syoham dan permata tatahan, batu hitam dan batu permata yang berwarna-warna, dan segala macam batu mahal-mahal dan sangat banyak pualam.

29:3 Lagipula oleh karena cintaku kepada rumah Allahku, maka sebagai tambahan pada segala yang telah kusediakan bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah Allahku dari emas dan perak kepunyaanku sendiri

29:4 tiga ribu talenta emas dari emas Ofir dan tujuh ribu talenta perak murni untuk menyalut dinding ruangan,

29:5 yakni emas untuk barang-barang emas dan perak untuk barang-barang perak dan untuk segala yang dikerjakan oleh tukang-tukang. Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada TUHAN?”

29:6 Lalu para kepala puak dan para kepala suku Israel dan para kepala pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pemimpin pekerjaan untuk raja menyatakan kerelaannya.

29:7 Mereka menyerahkan untuk ibadah di rumah Allah lima ribu talenta emas dan sepuluh ribu dirham, sepuluh ribu talenta perak dan delapan belas ribu talenta tembaga serta seratus ribu talenta besi.

29:8 Siapa yang mempunyai batu permata menyerahkannya kepada Yehiel, orang Gerson itu, untuk perbendaharaan rumah TUHAN.

29:9 Bangsa itu bersukacita karena kerelaan mereka masing-masing, sebab dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela kepada TUHAN; juga raja Daud sangat bersukacita.

PILIHAN KARTINI

Kartini pernah ditawari beasiswa untuk bersekolah di negeri Belanda, tetapi batal demi menaati orangtuanya, yang menyuruhnya menikah dengan Bupati Rembang. Ia bisa saja meratapi nasib malangnya, tetapi ia mencoba melihat kepentingan yang lebih besar.

Ia pun mengusulkan agar beasiswa itu dialihkan kepada Agus Salim, seorang pemuda Sumatra Barat. Sebuah pilihan menarik yang menunjukkan bahwa ia tidak lagi berpikir dalam lingkup Jawa, tetapi sudah dalam lingkup Indonesia. Ia memilih Agus Salim bukan berdasarkan latar sukunya, melainkan karena melihat potensi menjanjikan dalam diri pemuda itu. Dan, ia melakukannya jauh sebelum Boedi Oetomo berdiri!

Dalam konteks yang agak berbeda, sikap Kartini mirip dengan kebesaran hati Daud. Ia rindu membangun Bait Allah, tetapi Tuhan tidak berkenan karena tangannya telah menumpahkan darah. Anaknyalah yang akan membangun bait itu. Daud juga bisa kecewa dan tidak lagi peduli pada pembangunan Bait Allah. Namun, oleh kasihnya kepada Allah, ia memikirkan jalan untuk mendukung pembangunan rumah Allah. Ia merancang bangunan Bait Allah itu dan mempersiapkan sebanyak mungkin bahan-bahan yang diperlukan. Sikap Daud ini mendorong bangsa Israel untuk turut memberikan persembahan sukarela. Sumbangsih mereka tentu sangat meringankan beban Salomo dalam memenuhi panggilannya.

Impian pribadi kita bisa jadi kandas. Apakah kita akan terpuruk berputus asa? Ataukah kita tertantang untuk menemukan jalur alternatif guna tetap memberkati keluarga, gereja, masyarakat, dan bahkan bangsa kita? –ARS

SEBUAH PINTU YANG TERTUTUP BUKAN BERARTI JALAN BUNTU

TETAPI KESEMPATAN UNTUK MELIHAT PINTU LAIN TERBUKA

Sumber : www.sabda.org

Iklan

PERSEMBAHAN TERLALU BANYAK

Minggu, 20 September 2009

Bacaan : Keluaran 36:2-7

36:2 Lalu Musa memanggil Bezaleel dan Aholiab dan setiap orang yang ahli, yang dalam hatinya telah ditanam TUHAN keahlian, setiap orang yang tergerak hatinya untuk datang melakukan pekerjaan itu.

36:3 Mereka menerima dari pada Musa seluruh persembahan khusus, yang telah dibawa oleh orang Israel untuk melaksanakan pekerjaan mendirikan tempat kudus. Tetapi orang Israel itu masih terus membawa pemberian sukarela kepada Musa tiap-tiap pagi.

36:4 Dan segala orang ahli yang melakukan seluruh pekerjaan untuk tempat kudus itu, datanglah masing-masing dari pekerjaan yang dilakukannya,

36:5 dan berkata kepada Musa: “Rakyat membawa lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan.”

36:6 Lalu Musa memerintahkan, supaya dimaklumkan di mana-mana di perkemahan itu, demikian: “Tidak usah lagi ada orang laki-laki atau perempuan yang membuat sesuatu menjadi persembahan khusus bagi tempat kudus.” Demikianlah rakyat itu dicegah membawa persembahan lagi.

36:7 Sebab bahan yang diperlukan mereka telah cukup untuk melakukan segala pekerjaan itu, bahkan berlebih.

 

PERSEMBAHAN TERLALU BANYAK

Pengurus bidang misi di sebuah gereja berencana mengajak jemaat memberi persembahan rutin untuk mendukung kegiatan misi gereja. Untuk itu mereka membuat rancangan anggaran, lalu mempresentasikannya kepada jemaat. Setelah itu mereka mengajak jemaat memberi janji persembahan sukarela. Berapa jumlahnya, bukan masalah, yang penting rela. Namun, seorang jemaat menyeletuk, “Rela ya rela, tetapi kalau yang terkumpul lebih dari yang dibutuhkan, bagaimana? Rugi dong?”

Cerita tentang persembahan yang terlalu banyak juga kita baca dalam perikop Alkitab hari ini. Saat itu bangsa Israel mengumpulkan persembahan untuk membuat Kemah Suci dan segala isinya. Ternyata yang terkumpul lebih dari yang dibutuhkan, sampai-sampai Musa meminta mereka berhenti. Dan tak seperti jemaat di atas, situasi ini justru diceritakan dengan nada sukacita.

Mengapa? Karena bangsa Israel memberikan persembahan dengan hati yang rindu terlibat dalam “mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan” (ayat 5), yakni membangun Kemah Suci. Maka, mereka masing-masing memberikan apa yang mereka bisa berikan tanpa berpikir berapa yang telah terkumpul, atau membanding-bandingkan dengan persembahan orang lain. Jadi, ketika ternyata yang terkumpul terlalu banyak, mereka tidak menyesal atau merasa rugi. Melainkan bersukacita karena itu artinya pekerjaan Tuhan bisa segera dirampungkan.

Apabila ada kesempatan lagi untuk memberi bagi pekerjaan Tuhan, izinkan hati kita bersukacita memberi. Sebab dari setiap pemberian sukarela kita, pasti ada pekerjaan Tuhan yang dapat diselesaikan -ALS

BERIKAN PERSEMBAHAN TANPA BERHITUNG-HITUNG

SEBAB BERKAT TUHAN TIAP HARI PUN SUDAH TAK TERHITUNG

Sumber : www.sabda.org