HARVEY PEKAR

Kamis, 20 Oktober 2011

Bacaan : Markus 4:1-20 

4:1. Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu.

4:2 Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka:

4:3 “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.

4:4 Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

4:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.

4:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

4:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah.

4:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.”

4:9 Dan kata-Nya: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

4:10 Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.

4:11 Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,

4:12 supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.”

4:13 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?

4:14 Penabur itu menaburkan firman.

4:15 Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.

4:16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,

4:17 tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.

4:18 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu,

4:19 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

4:20 Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”

HARVEY PEKAR

Harvey Pekar, dalam novel grafisnya yang berjudul The Quitter, menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh kecemasan sehingga selalu gelisah di sekolah, gagal kuliah, dan berganti-ganti pekerjaan. Sebenarnya, ia sudah sukses dengan komik yang berjudul American Splendor, menang di Festival Cannes dan Sundance, mendapat pujian dari USA Today dan New York Times, juga mendapat kontrak-kontrak besar. Namun di halaman terakhir, Pekar berkata: “Mungkin aku akan selalu cemas … sekalipun buku-buku yang kutulis laku keras. Aku bermimpi bisa hidup tenang tanpa masalah dalam jangka panjang. Tetapi umurku sekarang sudah 65. Jadi, apa itu akan terjadi?”

Yesus mengibaratkan kecemasan seperti semak duri. Tuhan dapat menyentuh kita melalui firman-Nya lewat Alkitab atau peristiwa sehari-hari. Akan tetapi, apabila kita masih menyimpan “semak duri”, maka “benih iman” kita tak dapat bertumbuh. Yesus memaparkan dengan gamblang sumber-sumber kecemasan manusia: kekhawatiran dunia ini, tipu daya kekayaan, keinginan-keinginan akan hal yang lain (ayat 19). Hal-hal itu membelenggu kita dan membuat kita tak berbuah.

Harvey Pekar, jenius komik yang hatinya terikat kecemasan, akhirnya meninggal pada Juli 2010 lalu. Ia mengidap kanker. Namun, sumber utama kematiannya bukan kanker, melainkan terlalu banyak mengkonsumsi obat anti depresi. Ini mendorong kita untuk memeriksa diri: Apakah “semak duri” masih mengimpit hidup kita? Apakah firman Tuhan dan kebenaran-Nya sudah kita nomor duakan? Mari belajar berserah kepada Tuhan, sehingga benih firman Tuhan dan kebenaran-Nya di hati kita, dapat bertumbuh dan berbuah –OLV

KENDALIKAN DAN SERAHKAN KECEMASAN ANDA KEPADA TUHAN

SEBELUM KECEMASAN ITU MENGENDALIKAN KITA

Dikutip : www.sabda.org

SARANG SEMUT

Kamis, 6 Oktober 2011

Bacaan : Ayub 1:1-22 

1:1. Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.

1:2 Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.

1:3 Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.

1:4. Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka.

1:5 Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.

1:6. Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.

1:7 Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.”

1:8 Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

1:9 Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?

1:10 Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.

1:11 Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.”

1:12 Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.” Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.

1:13. Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung,

1:14 datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: “Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya,

1:15 datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

1:16 Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

1:17 Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

1:18 Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung,

1:19 maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

1:20. Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,

1:21 katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

1:22 Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

SARANG SEMUT

Suatu kali ketika pindah rumah, saya menemukan sebuah sarang semut di salah satu lemari dapur di rumah tersebut. Sebuah gundukan sarang semut yang sudah sangat besar. Saya pun mengambil obat anti serangga. Tak butuh waktu lama beberapa menit saja sarang dan koloni semut yang mungkin sudah dibangun selama berbulan-bulan itu hancur berantakan.

Apa yang terjadi pada sarang dan koloni semut itu kurang lebih sama dengan yang pernah dialami oleh Ayub. Awalnya, kehidupan Ayub sangatlah sukses. Ia adalah “… yang terkaya dari semua orang di sebelah timur” (ayat 3). Ia juga memiliki keluarga besar yang baik. Akan tetapi, suatu hari Allah mengizinkan seluruh kesuksesan tersebut diambil dari hidupnya. Segala hal yang telah ia bangun selama bertahun-tahun, tiba-tiba lenyap habis dalam satu hari saja.

Inilah realitas tentang betapa rapuhnya kesuksesan manusia. Segala keberhasilan yang dibangun selama bertahun-tahun, dapat lenyap begitu saja. Karena itu, bodohlah kalau kita menjadi sombong hanya karena saat ini kita merasa lebih berhasil daripada orang lain. Lebih bodoh lagi, kalau kita menggantikan Allah dengan kesuksesan kita. Sebab itu, hendaklah kita menggantungkan hidup hanya kepada Sang Pemberi segala keberhasilan tersebut. Lepaskan keterikatan pada segala keberhasilan kita. Agar kita menjadi pribadi yang tetap kuat berpegang kepada Tuhan dalam segala kondisi. Bahkan apabila kesuksesan tersebut diizinkan Tuhan hilang dari hidup kita seperti Ayub, kita dapat tetap berkata bahwa Tuhan berdaulat atas apa pun yang kita punya –ALS

BETAPA RAPUHNYA KESUKSESAN MANUSIA

MAKA JANGAN SANDARKAN HIDUP KITA PADANYA

Dikutip : www.sabda.org

Doa Puasa Raya Hari Ke-40 Sabtu, 3 September 2011

revelation, dan kepandaian. Jangan ekstrim pada salah satu saja.

Mana yang kita kejar terlebih dahulu? Bersamaan, karena sejak Roh Allah

ada dalam diri kita, jangan dibiarkan saja, Roh Allah sangat gentle, tidak

memaksa. Pada waktu dunia ini kacau, karena kerjaan Lucifer, Roh Allah tinggal

di permukaan air. Waktu Roh Allah ada di bumi, semuanya rusak, gambaran

manusia yang rusak, tapi bersyukur, kemurahan Allah ada di permukaan

air, maka terjadi revelation, hikmat,kalo bumi ini terang bagus, maka Tuhan

berkata jadialah terang,kemudian Tuhan menjadikan segala sesuatunya, Roh

Allah dan hikmat Tuhan ini berjalan bersama sama. Kita semua ini gelap rusak

karena dosa, sejak ada Roh Kudus, mulailah ada hikmat. Sejak Roh Kudus

ada dalam diri saudara, yang dulu gelap menjadi terang. Segala sesuatunya

menjadi teratur. Itu kemurahan kalo ada Roh Kudus dalam diri kita. Semua

dipulihkan Tuhan, karena semua percaya Yesus Kristus.

Kata yang sangat populer adalah “selamat”. Tidak ada yang selamat kalau

tidak terima Tuhan Yesus.

Mazmur 73:22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekatMu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan

nasihat-Mu engkau menuntun aku, dan kemudian engkau mengangkat aku ke

dalam kemuliaan.

Daud ini diantara saudara-saudara nya dia simple, pengetahuan tidak terlalu

baik. Dia dibiarkan mengawasi domba-domab saja, tidak seperti kakak nya.

Kumpulannya dengan domba, seperti hewan, tapi untungnya dia dekat dengan

Tuhan, dan itu permulaan yang baik. Daud diangkat menjadi raja, karena ada

wisdom. Dia tidak tinggal diam,dia menerima wahyu Tuhan.Wisdom dari

Tuhan. Berjalan dengan hikmat Tuhan.

Belajar termasuk character building. Belajar itu penting, dengan belajar

dapat membedakan yang baik dan yang jahat.

1 Korintus 2: 6 – 9 Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di

kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini,

dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa

yang akan ditiadakan. Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang

tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah

bagi kemuliaan kita. Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya,

sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan

yang mulia. Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh

mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul

di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang

mengasihi Dia.”Gereja Bethany Indonesia |94|

Ini Wahyu. Wahyu tidak dapat disebut wisdom tanpa pengetahuan.

Hamba Tuhan yang hanya mengandalan pengetahuan Tuhan, tidak diberkati,

tapi jika mengandalkan revelation kemudian confirm, maka diberkati.

Terkadang kita rohani, kadang kita tersinggung. Waktu saya tersinggung, apa

roh kudus ada dalam diri saya? Tidak.

Orang yang biasanya penuh Roh Kudus, kalau dia tersinggung, jadi jelek.

Maka tidak dapat dipertanggungjawabkan, apakah revelation itu dari dia

sendiri. Karena posisinya tidak benar. Kalau ada nubuat, mesti diconfirm dulu

oleh teologia. Kembali ke posisi rohani kembali, perlu waktu pemulihan.

Selama ini seorang Kristen yang pandai saja, dia punya teologia, punya

program dan research, dia mempunyai program character building bagus. Itu

modal orang kristen pandai. Apa cukup? Tidak. Modal orang yang roh saja,

wahyu, visi, dipimpin Roh Kudus, punya iman dan nubuatan. Dua hal ini

digabung.

1 Korintus 2:10 Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh

Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi

dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang

terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam

dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam

diri Allah selain Roh Allah.

Sebenarnya saudara mengerti seluruh kehendak Allah. Karena Roh Kudus

pada diri saudara. Memiliki pikiran Kristus itu wisdom. Dia yang berhasil

1 Korintus 2:14 – 16 Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang

berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan

ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai

oleh orang lain. Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga

ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.

Pikiran Kristus itu membawa pada sukses, damai sejahtera, dan

bahagia.

TUHAN YeSUS MEMBeRKATI

ANAK BAGI BANGSA

Sabtu, 20 Agustus 2011

Bacaan : Mazmur 144:12-15

144:12 Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!

144:13 Semoga gudang-gudang kita penuh, mengeluarkan beraneka ragam barang; semoga kambing domba kita menjadi beribu-ribu, berlaksa-laksa di padang-padang kita!

144:14 Semoga lembu sapi kita sarat; semoga tidak ada kegagalan dan tidak ada keguguran, dan tidak ada jeritan di lapangan-lapangan kita!

144:15 Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya! Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN!

ANAK BAGI BANGSA

Belaian Sayang” adalah lagu karya artis serbabisa Bing Slamet yang dinyanyikan kembali oleh beberapa penyanyi terkenal Indonesia. Lagu indah ini mengungkapkan harapan orangtua bagi anaknya yang masih bayi. Sebagian liriknya berbunyi: ibu menjaga, ayah mendoa, agar kau kelak jujur melangkah; jangan engkau lupa tanah pusaka, tanah air kita Indonesia. Bing memandang ideal jika se-orang anak bertumbuh menjadi orang yang saleh dan berguna bagi bangsanya.

Hal ideal tersebut sesungguhnya tidak jauh dari apa yang Alkitab tuliskan. Mazmur 144 menyatakan bahwa suatu bangsa akan berbahagia jika anak-anaknya yang lelaki dan perempuan bertumbuh sehat dan kuat. Sebagai “tanam-tanaman” dan “tiang-tiang penjuru, ” kiprah dan karya anak-anak lelaki dan perempuan diharapkan menopang dan menunjang bangsa. Di sini kita melihat bagaimana Alkitab mengaminkan pemahaman umum bahwa anak-anak (muda) adalah tulang punggung bangsa. Suatu bangsa akan sukses dan terpandang jika anak-anaknya sadar bahwa mereka harus berbakti kepada bangsanya. Di sini pula orang kristiani mendapat dimensi tambahan yang penting dan alkitabiah dalam mengasuh anak. Kita harus mendidik anak-anak kita untuk berguna bagi bangsa juga-bukan hanya bagi Allah dan bagi keluarga!

Saat ini, sudahkah kita terapkan dimensi tambahan itu? Sudahkah kita mengarahkan anak-anak kita untuk menggenapi seruan Alkitab ini, agar anak-anak kita juga mengambil peran untuk membangun bangsa Indonesia tercinta? Bangsa ini membutuhkan karya mereka, sumbangsih positif mereka –ST

ANAK-ANAK ADALAH SUMBANGAN BERHARGA

UNTUK MEMPERKOKOH GEREJA DAN BANGSA

Dikutip : http://www.sabda.org

KESUKSESAN

Kamis, 14 April 2011

Bacaan : Yesaya 6:8-13

8Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”

9Kemudian firman-Nya: “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan!

10Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.”

11Kemudian aku bertanya: “Sampai berapa lama, ya Tuhan?” Lalu jawab-Nya: “Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi.

12TUHAN akan menyingkirkan manusia jauh-jauh, sehingga hampir seluruh negeri menjadi kosong.

13Dan jika di situ masih tinggal sepersepuluh dari mereka, mereka harus sekali lagi ditimpa kebinasaan, namun keadaannya akan seperti pohon beringin dan pohon jawi-jawi yang tunggulnya tinggal berdiri pada waktu ditebang. Dan dari tunggul itulah akan keluar tunas yang kudus!”

KESUKSESAN

Ada beragam definisi kesuksesan. Bagi sebagian orang, kesuksesan adalah kondisi ketika seseorang sudah memiliki uang dan harta dalam jumlah tertentu. Atau, jika sudah memiliki pengikut setia yang banyak. Atau, jika berhasil menjadi yang terbaik dalam bidang tertentu. Atau, jika sudah memiliki keluarga yang harmonis. Bermacam definisi ini muncul, tergantung pada tata nilai dan latar belakang seseorang. Namun, secara umum kesuksesan kerap diukur berdasarkan pencapaian atau buah yang diperoleh.

Definisi kesuksesan bagi Tuhan, khususnya dalam konteks panggilan-Nya kepada Yesaya, beda dengan yang umumnya manusia pegang. Hari ini kita membaca bagaimana Yesaya diutus untuk menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel. Uniknya, Tuhan sudah mengatakan bahwa Israel tidak akan memedulikan Yesaya. Pelayanan Yesaya akan tidak berbuah. Dengan kata lain, berdasarkan definisi umum, Yesaya akan gagal. Namun demikian, Tuhan tetap menyuruh Yesaya menjalani panggilan-Nya tersebut dan hanya memintanya setia. Itulah arti kesuksesan bagi Tuhan, yaitu setia kepada panggilan-Nya sampai akhir, bagaimanapun beratnya situasi.

Definisi kesuksesan ini penting kita miliki dalam menjalani hidup. Tuhan tidak menuntut kita memiliki pencapaian yang spektakuler. Atau, tampak terpandang di mata orang-orang. Karenanya, jangan malu kalau kita tampak “kalah” berprestasi dibandingkan orang lain. Jangan pula tergoda mengambil jalan pintas yang tidak sesuai firman-Nya, hanya agar dipandang berhasil oleh dunia. Melainkan, berusahalah dinilai sukses oleh Tuhan dengan terus berusaha setia kepada panggilan-Nya –ALS

BAGI TUHAN KESUKSESAN KITA

TERUTAMA DIUKUR DARI KESETIAAN KITA

Dikutip dari : www.sabda.org

ELING

Selasa, 1 Juni 2010

Bacaan : Ulangan 26:1-11

26:1. “Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, dan engkau telah mendudukinya dan diam di sana,

26:2 maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana.

26:3 Dan sesampainya kepada imam yang ada pada waktu itu, haruslah engkau berkata kepadanya: Aku memberitahukan pada hari ini kepada TUHAN, Allahmu, bahwa aku telah masuk ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang kita untuk memberikannya kepada kita.

26:4 Maka imam harus menerima bakul itu dari tanganmu dan meletakkannya di depan mezbah TUHAN, Allahmu.

26:5 Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan TUHAN, Allahmu, demikian: Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya.

26:6 Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat,

26:7 maka kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami.

26:8 Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat.

26:9 Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

26:10 Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya TUHAN. Kemudian engkau harus meletakkannya di hadapan TUHAN, Allahmu; engkau harus sujud di hadapan TUHAN, Allahmu,

26:11 dan haruslah engkau, orang Lewi dan orang asing yang ada di tengah-tengahmu bersukaria karena segala yang baik yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu dan kepada seisi rumahmu.”

ELING

“Agama: eks kristen.” Saya kaget membaca informasi ini di akun Facebook mantan teman sekolah saya. Dulu ia termasuk rajin ke gereja. Tidak jelas apa yang terjadi atas dirinya dalam dua puluh tahun terakhir. Yang jelas kini ia telah menjadi orang berada. Memimpin perusahaan ternama. Kerja kerasnya mengumpulkan harta rupanya tidak dipandang sebagai berkat Tuhan, melainkan hasil usaha sendiri. Sayang! Ia kehilangan sikap eling. Sikap ingat asal-usul, sadar bahwa kita bisa menjadi seperti sekarang selamat, sukses, sehat karena campur tangan Tuhan.

Orang Israel punya cara unik untuk menjaga sikap eling. Setiap kali panen tiba, tiap keluarga harus menyisihkan hasil panen mereka untuk dipersembahkan. Sebelum diberikan, sang ayah harus memberi kesaksian tentang kebaikan Tuhan pada masa lalu, di depan imam dan keluarganya. Ia menceritakan bagaimana Tuhan telah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, menuntun di sepanjang jalan sampai tiba di Tanah Perjanjian. Ia harus menyatakan bahwa hasil panen yang ada di tangannya adalah bukti pemeliharaan Tuhan. Lalu persembahan diberikan dan semuanya sujud di hadapan Tuhan. Ritual ini menolong mereka untuk terus mengakui penyertaan Tuhan. Eling. Tidak takabur.

Supaya kita selalu eling, sering-seringlah bersaksi tentang kebaikan Tuhan. Anda baru sembuh dari sakit? Mendapat berkat? Mengalami pertolongan Tuhan? Jangan diam saja. Saksikan pada keluarga dan rekan. Katakan bahwa semua itu Anda alami karena kebaikan Tuhan. Niscaya Anda akan selalu eling. Dan, tidak pernah menjadi “eks kristen” –JTI

TUHAN MEMBERI ANDA HIDUP SELAMA 86.400 DETIK HARI INI

BERAPA YANG ANDA GUNAKAN UNTUK MENGINGAT KEBAIKAN-NYA?

Sumber : www.sabda.org

TIDAK LUPA MASA LALU

Kamis, 6 Mei 2010

Bacaan : 1 Timotius 1:12-17

1:12. Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku–

1:13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.

1:14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

1:15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.

1:16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.

1:17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.

TIDAK LUPA MASA LALU

Ada sebuah dongeng tentang Akhan, kepala istana kepercayaan Baginda Raja, yang memiliki kebiasaan aneh. Setiap pagi sebelum memulai pekerjaannya, ia pergi ke sebuah ruangan yang terletak di belakang istana, dan beberapa saat lamanya berdiam diri di sana. Kebiasaannya itu lama-lama diketahui Baginda Raja. Diam-diam Baginda Raja memeriksa ruangan itu, dan didapati di sana beberapa benda asing: lemari kecil dan kursi tua di pojok ruangan, lalu topi dan sandal petani, serta cangkul di dekatnya.

Baginda Raja pun memanggil Akhan dan bertanya tentang benda-benda itu. Akhan menjelaskan, “Saya adalah anak petani miskin ketika Baginda membawa dan membesarkan saya di istana. Saya menjadi seperti sekarang karena perkenan dan kebaikan Baginda. Setiap hari saya masuk ke ruangan itu dan melihat benda-benda tersebut, untuk mengingatkan diri sendiri, siapa saya dulu.”

Paulus juga tidak pernah melupakan atau menutupi masa lalunya yang kelam. Dan karena itu ia jadi selalu ingat akan kasih karunia Allah dalam hidupnya. “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi telah dikasihi-Nya, ” begitu ia menulis (ayat 13). Tidak heran kalau dalam kondisi apa pun Paulus tidak pernah kekurangan sukacita dan rasa syukur kepada Tuhan.

Mari kita pun senantiasa mengingat kembali rahmat dan kebaikan Tuhan dalam hidup kita pada masa lalu; supaya kalau sekarang sukses, kita tidak menjadi sombong dan lupa diri. Sebaliknya kalau tengah dirundung kesusahan, kita tidak menjadi kecil hati atau putus asa, tetap bisa bersyukur dan bersukacita. –AYA

BAGAIMANA KITA MENGINGAT DAN MEMAKNAI MASA LALU

AKAN SANGAT MENENTUKAN LANGKAH KITA PADA MASA KINI

Sumber : www.sabda.org