DIKTATOR YANG KEJAM?

Sabtu, 6 April 2013

Bacaan   : Ulangan 10:12-22

10:12. “Sekarang, Saudara-saudara, perhatikanlah apa yang dituntut TUHAN Allahmu dari kamu: Hormatilah TUHAN Allahmu dan lakukanlah segala perintah-Nya. Cintailah Dia dan beribadatlah kepada-Nya dengan seluruh jiwa ragamu.

10:13 Taatilah segala perintah TUHAN yang hari ini saya sampaikan kepadamu demi kebaikanmu sendiri.

10:14 TUHAN Allahmu memiliki langit tertinggi; bumi pun milik-Nya beserta segala yang ada di atasnya.

10:15 Tetapi kasih TUHAN kepada leluhurmu begitu besar, sehingga dari segala bangsa kamulah yang dipilih-Nya, dan sampai sekarang pun kamu umat-Nya yang terpilih.

10:16 Jadi mulai saat ini kamu harus taat kepada TUHAN dan janganlah berkeras kepala lagi.

10:17 TUHAN Allahmu ada di atas segala ilah dan melebihi segala kuasa. Ia Allah yang agung dan berkuasa yang harus ditaati. Ia tidak suka berpihak dan tidak juga menerima suap.

10:18 Ia membela hak yatim piatu dan janda supaya mereka diperlakukan dengan adil; Ia mengasihi orang asing yang hidup bersama bangsa kita dan memberi mereka makanan dan pakaian.

10:19 Maka kamu juga harus menunjukkan kasihmu kepada orang-orang asing itu, sebab dahulu kamu pun orang asing di Mesir.

10:20 Hormatilah TUHAN Allahmu dan beribadatlah kepada Dia saja. Hendaklah kamu tetap setia kepada-Nya dan bersumpah demi nama-Nya saja.

10:21 Pujilah Dia sebab Ia Allahmu. Dengan mata kepalamu sendiri kamu telah melihat perbuatan-perbuatan hebat dan dahsyat yang dilakukan-Nya untukmu.

10:22 Ketika nenek moyangmu pergi ke Mesir, jumlah mereka hanya tujuh puluh orang. Tetapi TUHAN Allahmu telah membuat jumlahmu sebanyak bintang-bintang di langit.”

 

DIKTATOR YANG KEJAM?

Hitler ingin membuktikan loyalitas rakyat Jerman kepadanya. Suatu malam ia menyamar sebagai orang biasa dan masuk ke gedung bioskop. Sebelum film diputar, terdengar sebuah pengumuman, “Para penonton yang terhormat, film ini melukiskan kegiatan terakhir pemimpin besar kita, Adolf Hitler!” Penonton pun serentak berdiri dan menghormat ke arah layar. Hitler begitu terharu sampai ia lupa berdiri. Tiba-tiba penonton di sampingnya berkata, “Hai, Bung, cepat berdiri! Saya tahu bagaimana perasaan Anda terhadap haram jadah itu. Tapi, kita sedang diawasi polisi rahasia!”

Anekdot itu menggambarkan penghormatan yang tidak tulus. Penghormatan yang terpaksa, dilakukan karena takut akan hukuman. Seperti itu jugakah “takut akan Tuhan” yang dimaksudkan dalam Kitab Suci? Ada orang yang taat bukan karena mengasihi Tuhan, melainkan karena takut mendapat hukuman jika ia tidak taat. Orang itu membayangkan Allah sebagai sesosok diktator kejam yang siap menghukum setiap ketidaktaatan.

Allah bukan diktator yang kejam. Sebaliknya, Dia adalah Bapa yang sangat baik dan bijaksana terhadap kita. Memang, Dia mendisiplinkan kita ketika kita melakukan kesalahan. Namun, Dia melakukannya bukan dengan mengancam dan menakut-nakuti kita. Dia mendidik kita agar kita semakin bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Dia sehingga kita semakin terlatih untuk hidup di dalam kebenaran. Dengan pengertian yang benar ini, kita pun akan memiliki sikap “takut akan Tuhan” yang benar pula. –PK

KONSEP KITA AKAN ALLAH

MENENTUKAN MOTIVASI KITA DALAM MENAATI DIA.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Iklan

DI BALIK KETAATAN

Jumat, 1 Februari 2013

Bacaan: Ibrani 11:8-19

11:8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.

11:9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.

11:10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.

11:11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.

11:12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.

11:13 Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.

11:14 Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.

11:15 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.

11:16 Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.

11:17 Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal,

11:18 walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.”

11:19 Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

DI BALIK KETAATAN

Beberapa tahun lalu, seorang pendeta senior di gereja kami dipindahkan dari Medan ke Lampung. Mutasi ini terjadi secara mendadak. Ia bergumul karena, dari segi materi, jemaat yang dilayaninya di Medan lebih kaya daripada jemaat di Lampung. Apalagi, saat itu salah seorang anaknya sedang kuliah di jurusan kedokteran di Medan, yang tentu saja membutuhkan banyak biaya. Setelah berserah dalam doa, Pak Pendeta taat pada penunjukan pemimpin gereja. Rupanya, hanya dalam beberapa bulan kemudian, seorang jemaatnya di Lampung bersedia menanggung seluruh biaya kuliah anak pendeta tersebut sampai tamat.

Ketika Tuhan memanggil Abraham, semua masih tidak jelas. Bahkan tempat tujuannya saja ia belum tahu. Banyak alasan baginya untuk tidak menaati Tuhan. Ia sudah memiliki kehidupan yang mapan di antara sanak saudaranya. Ia hanya belum punya anak. Tetapi, Abraham taat. Ia tidak selalu berhasil dengan mulus, tetapi imannya terus bertumbuh sehingga ia nantinya menjadi bapa dari semua orang beriman. Ketaatannya juga berdampak pada keselamatan dunia karena keturunannya -Yesus Kristus -menjadi berkat bagi semua kaum di muka bumi ini.

Apakah yang membuat Anda ragu menaati Allah? Ketika Anda taat, Dia akan menunjukkan jalan selangkah demi selangkah. Jalan-Nya tidak selalu mudah dan menyenangkan, namun Dia pasti menyertai dan menguatkan Anda dalam menghadapi rintangan apa pun yang muncul. Menaati Dia tidak akan membuat Anda menyesal; sebaliknya, Anda akan mengalami sukacita yang besar. –HEM

MENAATI PANGGILAN ALLAH YANG PENUH KASIH

 ADALAH SUMBER SUKACITA YANG SEJATI

Dikutip : www.sabda.org

BANGGA AKAN TUHAN

Senin, 12 November 2012

Bacaan : Yeremia 9:23-26

9:23. Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,

9:24 tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

9:25 “Lihat, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku menghukum orang-orang yang telah bersunat kulit khatannya:

9:26 orang Mesir, orang Yehuda, orang Edom, bani Amon, orang Moab dan semua orang yang berpotong tepi rambutnya berkeliling, orang-orang yang diam di padang gurun, sebab segala bangsa tidak bersunat dan segenap kaum Israel tidak bersunat hatinya.”

 

BANGGA AKAN TUHAN

Seorang pemuda yang saya kenal punya banyak tindikan, dua di masing-masing telinga, satu di dagu, dan dua di lidah. “Dulu lebih banyak lagi, ” katanya bangga. Saya bertanya bagaimana awalnya ia punya banyak tindikan, tidakkah itu terasa menyakitkan? Ia mengaku bahwa ia terpancing dengan ucapan seorang gadis bertindik yang meremehkan keberaniannya melakukan hal serupa. Dengan bertindik ia bisa membanggakan diri bahwa dirinya adalah seorang lelaki pemberani.

Anda dan saya mungkin tidak bertindik, tetapi kita tentu sama-sama punya sesuatu yang dibanggakan, atau setidaknya ingin kita banggakan, karena kita tahu itu sesuatu yang istimewa. Namun, ternyata apa yang di mata manusia istimewa, tidaklah berarti di mata Tuhan (ayat 23). Kegiatan rohani pun tidak: tanda sunat yang dimiliki bangsa Israel bukan sesuatu yang layak dimegahkan, demikian pula potongan rambut tertentu dari bangsa-bangsa lain sebagai salah satu tanda ibadah mereka (ayat 25-26). Hukuman justru sudah menanti karena hati mereka tidak tertuju pada Tuhan (ayat 26). Lalu apa yang boleh dibanggakan? Tuhan sendiri! (ayat 24). Sang Pencipta ingin agar umat-Nya bangga karena diberi kehormatan yang istimewa untuk mengenal Dia, dan menghargai kasih karunia itu dengan sungguh-sungguh berusaha memahami isi hati-Nya.

Seberapa istimewa pengenalan akan Tuhan di mata Anda? Seberapa penting itu bagi Anda? Mengenal Tuhan berbicara tentang sebuah relasi yang intim. Dimulai dari sikap hati yang penuh syukur menanggapi kasih karunia-Nya, kemauan untuk memperhatikan firman-Nya, dan ketaatan untuk melakukan apa yang disukai- Nya. –LIT

TAK KENAL TUHAN, MAKA TAK SAYANG, APALAGI BANGGA.

MAKIN KENAL, MAKIN SAYANG, MAKIN KITA BISA BERBANGGA AKAN DIA.

Dikutip : www.sabda.org

TELADAN

Sabtu, 22 September 2012

Bacaan : Titus 2:1-10

2:1. Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat:

2:2 Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.

2:3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik

2:4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya,

2:5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.

2:6 Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal

2:7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,

2:8 sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.

2:9 Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah,

2:10 jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.

TELADAN

Saya mengenal seorang bapak yang sangat rajin mendorong anaknya datang beribadah di gereja. Setiap Minggu pagi ia akan membangunkan anaknya, membantunya bersiap-siap, lalu mengantarnya ke sekolah minggu. Namun, setelahnya, ia sendiri tidak mengikuti kebaktian dan pergi ke tempat lain. Entah bagaimana anak ini memahami makna ibadah di gereja dengan teladan bapaknya yang demikian. Tanpa pemahaman yang benar, kemungkinan ia akan meninggalkan gereja setelah bapaknya tiada.

Sikap yang demikian tidaklah disarankan Paulus kepada Titus, anak rohaninya yang sedang melayani di Kreta. Titus dinasihatkan agar menjadi seorang yang dapat diteladani. Ia harus lebih dulu melakukan apa yang baik ketika menasihatkan orang untuk menguasai diri dalam segala hal (ayat 6).

Titus diharapkan untuk setia memberitakan firman dengan benar (ayat 8) dan juga dapat menghidupi apa yang diajarkannya, sebab pemberitaan yang keliru dan kesaksian yang buruk dari umat Tuhan akan memberi celah bagi orang untuk tidak menghormati Tuhan (bandingkan ayat 5). Sebaliknya, teladan yang diberikan dengan penuh kerendahan hati membuat lawan tak bisa mencela dan Tuhan dipermuliakan (bandingkan ayat 10).

Sudahkah kita menjadi teladan dalam pelayanan kita? Apakah ucapan dan tindakan kita sudah selaras dalam kebenaran? Adakah hal-hal yang perlu kita perbaiki agar pelayanan tidak terhalang? Dalam keterbatasan kita, menjadi teladan pasti melibatkan banyak aspek hidup pribadi yang perlu dikoreksi. Namun, jika hal itu akan membuat Tuhan makin dihormati orang, bukankah kita akan bersukacita melakukannya? –SLI

SEBAGAIMANA YANG DILAKUKAN KRISTUS,

MENJADI TELADAN BERARTI MELAKUKAN LEBIH DULU.

Dikutip : www.sabda.org

PERLU DIRANGKUL

Minggu, 26 Agustus 2012

Bacaan : 2 Korintus 2:5-11

2:5. Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya–supaya jangan aku melebih-lebihkan–,hati beberapa orang di antara kamu.

2:6 Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu,

2:7 sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat.

2:8 Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia.

2:9 Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu.

2:10 Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, –seandainya ada yang harus kuampuni–,maka hal itu kubuat oleh karena kamu di hadapan Kristus,

2:11 supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.

 

PERLU DIRANGKUL

Pernahkah Anda melakukan kesalahan? Bagaimana perasaan Anda ketika dalam situasi yang demikian, orang-orang menyerang dan menyalahkan Anda? Ada dua kemungkinan. Anda akan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, menarik diri agar tidak melakukan kesalahan baru. Atau, Anda akan membela diri, berusaha menunjukkan bahwa Anda bukan satu-satunya yang patut dipersalahkan. Masalah tidak dibereskan secara objektif, hubungan pun terancam rusak.

Merusak hubungan antar sesama anggota tubuh Kristus adalah strategi favorit Iblis. Ia tahu anak-anak Tuhan harus saling melengkapi untuk mengerjakan tujuan-tujuan Tuhan di dunia ini. Paulus sangat menyadarinya. Sebab itu, ia memberi peringatan kepada jemaat di Korintus. Tersirat dari bacaan kita, mereka sedang memiliki masalah dengan salah seorang saudara. Teguran demi teguran diberikan. Tapi orang yang bersalah tidak butuh lebih banyak teguran, melainkan pengampunan dan penghiburan untuk menolongnya kembali ke dalam persekutuan dan memperbaiki sikapnya (ayat 7). Tanpa itu ia akan terus terpuruk dengan rasa bersalah dan tidak ditolong untuk bertumbuh.

“Kasihi dia dengan sungguh-sungguh, ” (ayat 8), adalah nasihat yang juga harus dipraktikkan dalam komunitas kita hari ini. Tuhan rindu kita saling membangun dalam pekerjaan baik yang memuliakan Dia. Sebaliknya, Iblis berusaha membuat kita saling menyakiti, sehingga Tuhan yang kita sembah tidak dihormati orang. Bagaimana kita bersikap satu sama lain? Kesalahan perlu ditegur, tetapi orang yang bersalah perlu dirangkul untuk bangkit kembali. Jangan biarkan Iblis beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya! –MEL

ORANG YANG BERSALAH MEMBUTUHKAN PENGAMPUNAN.

JUGA, DORONGAN UNTUK KEMBALI HIDUP MEMULIAKAN TUHAN.

Dikutip : www.sabda.org

MENAATI PEMERINTAHKU

Rabu, 15 Agustus 2012

Bacaan : Roma 13:1-7

13:1. Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.

13:2 Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.

13:3 Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.

13:4 Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.

13:5 Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.

13:6 Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah.

 

13:7. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.

 

MENAATI PEMERINTAHKU

Siap aturan yang dikeluarkan pemerintah selalu mengundang pro dan kontra. Bukan hanya di negara kita, melainkan juga di negara-negara lain, dan hal itu bahkan sudah terjadi sejak zaman Rasul Paulus. Bagaimana seorang pengikut Kristus harus bersikap?

Bacaan kita hari ini mengingatkan dua hal penting. Pertama, pemerintah ada karena perkenan Allah (ayat 1). Entah mereka baik atau buruk, Tuhanlah yang mengizinkan mereka berkuasa. Kepada Pilatus yang menyalibkan-Nya, Yesus berkata: “Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas” (Yohanes 19:11). Kita tunduk pada pemerintah, bukan berdasarkan baik tidaknya mereka, tetapi karena kita menghormati Allah yang menetapkan mereka. Yang kedua, karena pemerintah ditetapkan oleh Allah, maka otoritas tertinggi ada di tangan Allah. Pemerintah yang memimpin menurut cara Allah akan memimpin dengan adil (ayat 3). Jika perintah mereka berlawanan dengan firman Tuhan, yang mutlak harus ditaati adalah Tuhan. Beberapa contoh sikap dalam Alkitab: dua bidan di Mesir yang tidak menaati Firaun; Daniel yang melanggar titah Raja Darius, Petrus dan Yohanes yang menolak perintah mahkamah agama. Mereka tidak kasar berontak, tetapi dengan jelas dan tegas menyampaikan kebenaran apa pun risikonya.

Apakah selama ini perkataan dan perbuatan kita mencerminkan bahwa kita menghormati dan menaati pemerintah kita? Ingatlah, kita menaati mereka karena kita menghormati Tuhan. Apakah kita juga peka melihat adanya kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai firman Tuhan? Orang-orang kristiani perlu dengan kasih dan keberanian menunjukkan bahwa kita lebih taat pada Tuhan daripada manusia. –LAN

HORMATI TUHAN DENGAN MENAATI PEMERINTAH

DAN MENGINGATKAN MEREKA KETIKA MENYIMPANG DARI ATURAN-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

KDRT

Rabu, 25 Juli 2012

Bacaan : 1 Petrus 3:1-7

3:1. Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya,

3:2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.

3:3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah,

3:4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

3:5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya,

3:6 sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman.

3:7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.

 

KDRT

Dalam situs telaga.org, Pendeta Tadius Gunadi menengarai bahwa Kekerasan dalam Rumah Tangga (KdRT) adalah persoalan yang kompleks. Menurut pengamatannya, kekerasan kerap digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan kemarahan; mengumbar kekuasaan; menyeimbangkan posisi dalam pernikahan. Apa jadinya jika nilai-nilai ini dianut oleh anggota keluarga kita.

Rasul Petrus, dalam suratnya yang pertama, mengangkat nilai-nilai yang penting dalam keluarga. Yang pertama dan diulang dalam 6 dari 7 ayat bacaan kita (dan selalu sama gemanya dalam bagian lain di Alkitab), adalah tentang ketundukan isteri kepada suami. Perhiasan terindah bagi seorang isteri adalah ketundukan kepada Allah, yang tercermin dari ketundukannya pada sang suami (ayat 3-5). Dandanan lahiriah mungkin bisa menundukkan suami sesaat, namun isteri yang hidup murni dan saleh dapat membawa suaminya menundukkan diri di bawah kebenaran firman Allah. Meski hanya satu ayat, pesan senada disampaikan pada para suami. Ketundukan pada Allah akan membawa suami menghargai isteri sebagai sesama pewaris kasih karunia- Nya, bukan memanfaatkan atau menyerang kelemahan-kelemahannya. Suami yang tidak merawat hubungan dengan isterinya dengan baik, akan mengalami kesulitan juga dalam menikmati hubungan yang indah dengan Allah (ayat 7).

Jadi, jika meneladan dan mengikuti firman Allah, keluarga semestinya bukan sasana untuk mengumbar kekerasan, baik dalam bentuk perkataan yang memojokkan, maupun tindakan fisik yang menyakitkan. Mari kembali pada rancangan Tuhan. Sama-sama menempatkan ketundukan dan kasih pada Tuhan di atas segalanya. Kiranya kasih yang bersumber dari Allah tinggal dengan limpahnya di tengah keluarga kita. –NDR

KDRT = KASIH DALAM RUMAH TANGGA