MEMBIARKAN YUE YUE

Minggu, 17 Februari 2013

Bacaan: 2 Timotius 3:1-9

3:1. Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.

3:2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,

3:3 tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,

3:4 suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

3:5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

3:6 Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu,

3:7 yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.

3:8 Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.

3:9 Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang.

MEMBIARKAN YUE YUE

Yue Yue, gadis cilik berumur 2 tahun, tergeletak di jalan karena ditabrak sebuah mobil van di Foshan, Guang Dong, China. Banyak orang -mulai dari yang berjalan kaki, yang bersepeda, sampai yang bermobil -melewatinya. Akan tetapi, mereka berlalu begitu saja, membiarkannya terkapar bersimbah darah, sampai sebuah truk melindasnya kembali.

Kejadian ini salah satu potret pedih akan betapa semakin tipisnya kepedulian sosial di dunia ini. Ya, bukan hanya di China, di berbagai belahan bumi lain pun kita kerap diperhadapkan pada sikap acuh tak acuh yang memilukan seperti itu. Firman Tuhan sudah mengingatkan kita akan datangnya masa-masa seperti ini. Masa ketika manusia lebih mencintai dirinya sendiri dan ketika kasih manusia terhadap sesamanya semakin dingin. Banyak orang semakin menggebu-gebu mengejar kesuksesan dan ambisi pribadinya sehingga akhirnya menjadi hamba uang. Hanya keuntungan materiil yang diperhitungkan, termasuk dalam berhubungan dengan sesama. Tidak sedikit pula yang rajin beribadah, namun mengingkari kekuatan ibadah itu sendiri karena mereka tidak menjadi pelaku firman (ay. 1-6).

Kondisi itu semakin hari akan semakin intensif belaka. Namun, orang percaya semestinya tidak terhanyut oleh kecenderungan tersebut. Tuhan menghendaki umat-Nya hidup dengan sikap yang berbeda dari dunia. Kita adalah tubuh-Nya di dunia ini, yang berperan untuk menyatakan kasih kepedulian-Nya kepada orang-orang di sekitar kita, khususnya mereka yang telantar dan tersisih. –SST

DUNIA DAPAT MERASAKAN KASIH ALLAH YANG TIDAK KELIHATAN

 MELALUI KARYA DAN PELAYANAN GEREJA-NYA YANG KELIHATAN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

MELATIH IMAN

Rabu, 6 Februari 2013

Bacaan: Roma 5:1-11

5:1. Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

 

5:6. Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

5:7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar–tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati–.

5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

5:9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.

5:10 Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!

5:11 Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.

 

MELATIH IMAN

Saya punya teman yang senang berolahraga beladiri. Dia sudah mencapai tingkat tertinggi dan menyandang sabuk hitam. Untuk mencapainya, sudah barang tentu ia harus rela babak belur ketika berlatih. Tak ayal ia mengalami benturan, pukulan, hajaran. Latihan-latihan berat ini berguna sekali untuk melatih ketahanan, ketangkasan, dan kepekaannya dalam menerima serangan. Semakin tinggi tingkatan yang hendak dicapai, semakin berat pula latihan yang harus dijalani.

Ketika kita menghadapi masalah yang bertubi-tubi di dalam hidup kita sering kali kita merasa masalah itu seakan hendak meremukkan kita dengan hajaran, pukulan, bahkan benturan yang membanting-banting emosi kita. Masalah yang datang silih berganti itu seperti tidak memberikan waktu bagi kita untuk bernapas lega atau sedikit santai menjalani hidup. Nas hari ini mengingatkan, Tuhan ingin kita bertekun di dalam setiap penderitaan yang tengah kita hadapi. Dengan bertekun, kita mengembangkan kehidupan iman yang tahan uji, dan iman yang tahan uji ini menimbulkan pengharapan yang tidak mengecewakan.

Selama kita hidup dan bernapas kita akan selalu menemui masalah yang harus kita hadapi dan kita selesaikan. Masalah itu adalah pelatihan bagi otot iman kita agar semakin kuat, dan menjadi sarana bagi Tuhan untuk menunjukkan kasih-Nya sehingga kita semakin mengenal dan mengasihi-Nya. Selain itu, kita akan semakin terampil di dalam menjalani hidup dan dinamikanya –RE

MASALAH DAN TANTANGAN HIDUP ADALAH AJANG LATIHAN

 UNTUK MENGEMBANGKAN DAN MEMPERKUAT OTOT IMAN

Dikutip : www.sabda.org

BERITAKAN KEMATIAN-NYA

Kamis, 5 April 2012

Bacaan : 1 Korintus 11:17-34 

11:17. Dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan.

11:18 Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.

11:19 Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji.

11:20 Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan.

11:21 Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk.

11:22 Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji.

 

11:23. Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti

11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”

11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”

11:26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.

11:27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.

11:28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.

11:29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.

11:30 Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.

11:31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.

11:32 Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.

11:33 Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain.

11:34 Kalau ada orang yang lapar, baiklah ia makan dahulu di rumahnya, supaya jangan kamu berkumpul untuk dihukum. Hal-hal yang lain akan kuatur, kalau aku datang.

BERITAKAN KEMATIAN-NYA

Coba perhatikan sikap jemaat, termasuk diri kita sendiri, saat mengikuti Perjamuan Kudus. Beberapa orang melakukannya dalam rutinitas dan tanpa rasa. Bahkan, beberapa orang lebih suka membahas rasa anggur dan jenis roti yang dipakai, yang mungkin tak sesuai dengan seleranya. Tak pelak lagi, di banyak gereja, Perjamuan Kudus nyaris kehilangan maknanya.

Jemaat di Korintus juga sempat mengalami hal yang sama. Mereka melakukan rutinitas Perjamuan Kudus tanpa menghayati maknanya (ayat 20). Paulus mengingatkan, Perjamuan Kudus diperintahkan oleh Kristus sendiri, dan setiap kali kita makan roti dan minum anggur, kita sebe-narnya sedang memberitakan kematian Tuhan (ayat 23-26). Kematian ini tidak akan pernah sama dengan kematian siapa pun. Bukan kematian akibat tidak mampu melawan maut yang menjemput, melainkan kematian yang direncanakan dan digenapi sebagai wujud kasih yang besar. Tubuh yang tercabik dan darah yang tercurah bercerita tentang luputnya manusia yang berdosa dari murka Allah oleh pengorbanan Kristus. Melalui Perjamuan Kudus, jemaat Tuhan memberitakan kematian-Nya sampai Dia datang kembali (ayat 26).

Sebab itu, tak boleh kita mengangkat roti dan cawan dengan sikap remeh, apalagi angkuh. Kita adalah sesama pendosa yang menerima anugerah pengampunan melalui kematian Yesus. Tiap kali menghadap meja perjamuan, izinkan berita ini memenuhi sanubari kita dengan rasa takjub sekaligus hormat kepada Tuhan. Banyak orang yang belum memahami dan mengalami karya-Nya. Kitalah yang seharusnya memperkenalkan makna roti dan cawan kepada mereka. –PBS

YESUS SUDAH MATI BAGI KITA SUPAYA KITA HIDUP BAGI DIA.

MARI MENJADI PEWARTA KEMATIAN-NYA HINGGA DIA DATANG.

Dikutip : www.sabda.org

BANG SANDY

Jumat, 8 Januari 2011

Bacaan : Yakobus 1:12-15

12Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

13Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.

14Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

15Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

BANG SANDY

Bang Sandy, demikian kami memanggilnya. Saya mengenalnya saat saya dan teman-teman dari NDC (No Drugs Community) sedang mengadakan kampanye antinarkoba di sekolah-sekolah. Bang Sandy adalah salah seorang narasumber yang bersaksi tentang keterikatan pada narkoba, seperti yang pernah ia alami. Ia bahkan sampai terinfeksi HIV. Hidupnya hancur berantakan, kesehatannya terus memburuk. Namun, ketika ia mengenal Yesus, sedikit demi sedikit hidupnya berubah. Bukan saja secara rohani, melainkan juga secara jasmani. Kesehatannya membaik, walau tidak dapat sembuh seratus persen. Saat ini ia aktif melayani Tuhan.

Sangat sulit untuk melepaskan diri, saat kita sudah “terikat” pada sesuatu. Sayangnya, sesuatu yang negatif kadang justru mengikat lebih kuat dibanding sesuatu yang positif. Keterikatan dosa sesungguhnya berawal dari keinginan untuk mencoba. Dan apabila kita memutuskan untuk mencicipinya, kita akan “diseret dan dipikat olehnya” (ayat 14). Mulanya selalu terasa nikmat, tetapi selanjutnya, hanya merusak dan menghancurkan. Tak hanya fisik, tetapi juga hati dan jiwa. Akhirnya, dosa itu melahirkan maut (ayat 15).

Banyak dosa saat ini yang mewujud dalam berbagai tawaran yang tampak menarik. Jangan pernah menginginkan atau mencobanya, karena sekali kita merasakan nikmatnya, kita akan terikat, makin lama makin kuat. Memang sulit bagi kita yang sudah terikat dosa, untuk melepaskan diri. Akan tetapi, dengan komitmen kuat, doa dan dukungan saudara-saudara seiman, serta campur tangan Tuhan, pasti kita dapat terlepas dari itu semua –GK

KETERIKATAN DOSA SEPERTI PUSARAN AIR

YANG TERUS MEMBAWA KITA BERPUTAR DI DALAMNYA

Sumber : www.sabda.org

JANGKAR YANG KOKOH

Jumat, 11 Juni 2010

Bacaan : Roma 5:1-5

5:1. Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

JANGKAR YANG KOKOH

Dua minggu setelah gempa besar mengguncang Haiti, tim SAR pesimis. Mana mungkin masih ada orang yang bisa bertahan hidup, setelah lebih dari 10 hari tidak makan, tidak minum, dengan tubuh terjepit reruntuhan? Mereka keliru! Emanuel Buteau ditemukan masih hidup. Segera pemuda ini dilarikan ke Rumah Sakit darurat. Setelah pulih, wartawan bertanya, “Apa yang membuatmu bisa bertahan?” Ia menjawab: “Selama terjepit, saya terus berseru memohon pertolongan Tuhan. Pengharapan saya tidak sia-sia. Kuasa-Nya bekerja!”

Pengharapan itu bagai jangkar. Begitu ditancapkan ke dasar laut, kapal menjadi mantap. Punya pegangan. Tidak diombang-ambingkan ombak. Pengharapan membuat orang beriman bisa berjalan mantap, walau janji Tuhan belum genap. Rasul Paulus berkata, kita sudah “beroleh jalan masuk” menuju keselamatan, walau belum sepenuhnya “menerima kemuliaan Allah” (ayat 2). Apa yang meyakinkan kita bahwa kelak kemuliaan Allah itu akan kita terima? Pengharapan! Dengan pengharapan, biar jalan di depan sulit, hati tidak menjadi pahit. Malahan makin tekun dan tahan uji, karena yakin yang terbaik pasti akan datang (ayat 4, 5).

Harapan kita sering keliru. Kadang kita mengharapkan jalan yang mudah. Atau, berharap hidup berjalan sesuai skenario kita. Harapan seperti itu bisa mengecewakan. Namun, pengharapan bahwa kita akan menerima kemuliaan Allah adalah jangkar yang kokoh. Marabahaya bisa datang. Usaha bisa kandas. Cita-cita bisa tidak kesampaian. Namun, pengharapan membuat kita yakin: ini bukan akhir segalanya. Yang terbaik masih akan datang! –JTI

KETIKA ANDA DIOMBANG-AMBINGKAN ANEKA PERSOALAN

JANGAN LUPA TANCAPKAN JANGKAR PENGHARAPAN

KEPADA TUHAN

Sumber : www.sabda.org

KETEKUNAN

PESAN GEMBALA

14 FEBRUARI 2010

EDISI 113 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di gereja Bethany yang diberkati Allah.

Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus mengalir atas hidup kita di dalam kasih setia-Nya yang selalu baru setiap hari. Mari perhatikan dengan seksama bagaimana hidup kita..!! sebab hari-hari ini kita harus lebih bersungguh-sungguh beribadah, lebih berkonsentrasi dalam melakukan kehendak Allah, lebih menyukakan hati Tuhan dan lebih bisa membawa diri untuk mempermuliakan nama Tuhan.

Mengapa demikian?

Sebab saat ini kita sedang masuk ke dalam era akhir zaman. Pengaruh dunia sekuler demikian maraknya, belum lagi tantangan dan persoalan yang kita hadapi, sehingga tatkala kita lengah, maka hal itu harus melintasi Samaria, padahal ada jalur lain yang mudah ditempuh dan lebih aman secara manusia sebau bisa mempengaruhi dan menggeser iman kita, apalagi jika kita tidak bersungguh-sungguh.

Tuhan Yesus sendiri memberikan suatu peringatan :”waspadalah! Sebab Aku mengutus kamu seperti domba di tengah-tengah serigala, hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16). Sebab bisa saja yang terdahulu menjadi yang terakhir, sedangkan yang terakhir bisa menjadi yang terdahulu.

Jangan menjadi terlena tetapi waspadalah, jangan sampai terbawa oleh arus dunia. Tanda-tanda akhir zaman sudah mulai digenapi. Allah berkehendak supaya hidup kita berkenan kepada-Nya, bukan untuk suatu masa tertentu tetapi untuk seterusnya.

Lalu bagaimana supaya kita berkenan? Salah satu kuncinya adalah bertekun di dalam Dia. Bertekun itu artinya rajin dan setia untuk terus hidup di dalam firman-Nya setiap hari dan setiap waktu, dan hidup dengan mengandalkan Tuhan.

Ada banyak alasan mengapa kita harus bertekun, namun hal yang perlu disadari adalah selama kita menumpang di dunia ini, kita masih bertemu dengan masalah dan tantangan baik besar maupun kecil, dari yang mudah sampai dengan yang sukar. Dan perlu dicatat, kalau hari-hari ini kita diizinkan untuk menghadapi masalah, bahkan masuk ke dalam kesengsaraan, maka hal ini dimaksudkan supaya kita bertekun di dalam Dia, sebab ketekunan itu akan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan kepada Allah (Roma 5:3-4). Dan apabila ketekunan itu menjadi buah yang matang, hal itu akan menghantar kita kepada kesempurnaan, karena-Nya iman yang kita miliki harus kita kerjakan dan bangun dengan penuh ketekunan.

Ada pertanyaan dari seorang penginjil muda kepada pemimpin rohaninya demikian “mengapa injil sekarang susah masuk kepada orang-orang yang mampu atau kaya?” Jawab seniornya demikian “sebab penghasilan mereka tinggi secara otomatis segala kebutuhan terpenuhi jadi everything is fine, bahkan mereka terkadang berkata “buat apa ke gerja?” toh semua serba ada dan tercukupi”.

Jemaat yang dikasihi Tuhan..

Mari kita perhatikan bahwa kita datang kepada Tuhan ukan hanya karena Tuhan mampu menjawab doa-doa kebutuhan sehari-hari kita saja, tetapi ada satu alasan yang jauh lebih penting yaitu supaya kita didamaikan dengan Allah dan diselamatkan. Untuk itu perlu ketekunan, sebab kita harus bersungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada iman kita kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, dan kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada dengan berlimpah-limpah, maka kita dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan Yesus Kristus (2 Petrus 1:5-8).

Pada akhirnya ketekunan kita sebagai orang-orang kudus-Nya akan menghantar kita masuk ke Kerajaan Allah.

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Kasih karunia