PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH

PESAN GEMBALA

09 MEI 2010

PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH

Shalom…Salam miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati…Allah telah menyediakan perlengkapan perang bagi kita untuk menghadapi peperangan rohani. Rasul Paulus tidak menulis bahwa kita harus memakai perlengkapan perang kita, melainkan dia tuliskan bahwa kita harus memakai perlengkapan perang Allah. Prajurit atau para ksatria di Eropa pada abad pertengahan ketika menghadapi peperangan, maka mereka memakai perlengkapan perang lengkap dan mengenakan pelindung kepala serta topeng wajah mereka. Mereka nampak kuat, bertenaga dan merupakan pejuang-pejuang yang sangat terlatih dan sangat diperhitungkan oleh musuh. Tanpa memperhatikan kelemahan tubuh yang ada di dalam baju perang mereka itu, mereka kelihatan sebagai pejuang yang sangat berani dan tangguh.

Ketika kita memakai perlengkapan senjata Allah, kita nampak sangat kuat dan tangguh. Kemudian harus kita lakukan untuk memenangkan pertempuran. Kuasa yang ada pada kita harus dipergunakan, kita berbicara seperti Allah, berjalan seperti Allah, bertindak seperti Allah. Kita harus hidup dalam kuasa Allah. Kita tidak boleh masuk ke dalam pertempuran dengan kekuatan kita sendiri. Efesus 6:10-11, “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.”

Paulus mengingatkan kepada kita bahwa peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging , tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa dan kekuatan roh-roh jahat. Perjuangan kita bukanlah di alam jasmani, tetapi di dalam alam rohani, “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerntah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara, sebab itu ambilah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera, dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.”

Rasul Paulus mengulangi kata “berdiri” sebanyak 3 kali. Pertama ketika dia mengatakan bahwa pada saat hari yang jahat tiba, kita akan sanggup untuk berdiri dengan teguh. Lalu dia berkata setelah kita selesai melakukan segala sesuatu, kita harus berdiri. Dan ketiga ketika dia berkata berdirilah tegap dengan baju zirah keadilan dan kaki kita berdasarkan kerelaan untuk memberitakan injil damai sejahtera. Kebenaran itu ialah firman Allah sendiri. Agar menjadi perlindungan bagi kita, kita harus tahu apa yang firman Allah katakan. Baju zirah keadilan kita adalah keadilan Allah. Kita tidak diminta untuk menjadi sempurna tetapi kita diminta untuk tidak melakukan dosa dalam hidup kita, agar baju zirah ini dapat tetap berada pada tempatnya. Kaki kita berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera. Kerelaan ini adalah bagian kita dan hal ini dilakukan dengan mempelajari firman Allah.

Paulus menulis kepada anak rohaninya yang bernama Timotius demikian:”Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang bererus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” Kita harus mengenakan perisai iman untuk memadamkan semua panah api dari si jahat. Panah api itu adalah pikiran, godaan, penyakit dan strategi setan lainnya yang dilemparkan kepada kita. Kita harus memadamkan itu semua dengan iman kepada Allah dan iman dalam firman-Nya. Ketopong keselamatan dikenakan ketika kita menerima keselamatan. Ini adalah sebuah keselematan yang bukan hanya memberikan kehidupan kekal bagi kita tetapi juga yang memulihkan kita sebagaimana yang Allah inginkan pada saat penciptaan. Ketopong keselamatan memampukan kita untuk memperbaharui pikiran kita kepada pewahyuan yang sempurnaakan keselamatan kita. Roma 12:2a, “janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…”. Pembaharuan pikiran ini datang melalui penyucian pikiran kita dengan air kehidupan yaitu firman Allah yang kita baca, pelajari dan renungkan. Efesus 5:26, “untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman.”. Kita diberikan satu senjata penyerang ampuh dan itu adalah Pedang Roh yaitu firman Allah. Paulus memberitahu kita lebih lanjut mengenai pedang Roh dalam kitab Ibrani; “sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati.” Ibrani 4:12.

Firman Allah adalah ikat pinggang kebenaran, penutup kaki dan pedang kita. Jadi tidak perlu untuk diragukan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA.

Iklan

DITAJAMKAN SESAMA

Sabtu, 12 Desember 2009

Bacaan : Amsal 27:17-19

27:17. Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

27:18. Siapa memelihara pohon ara akan memakan buahnya, dan siapa menjaga tuannya akan dihormati.

27:19. Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.

DITAJAMKAN SESAMA

Pernahkah Anda melihat seseorang menajamkan sebilah pisau dengan cara menggosoknya dengan lempengan besi? Besi menajamkan besi. Proses penajaman itu mungkin terasa tidak enak. Timbul panas dari gesekan yang terus-menerus serta memerlukan energi. Namun, lihatlah hasilnya: pisau yang diasah menjadi semakin tajam dan dapat digunakan secara maksimal.

Gambaran ini dipakai dalam firman Tuhan untuk mengingatkan bahwa bukan hanya besi yang dapat menajamkan besi, melainkan manusia juga “menajamkan” sesamanya! Tuhan membentuk karakter seseorang tidak secara otomatis, tetapi melalui proses “penajaman” dengan melibatkan orang-orang di sekitarnya. Dalam sebuah komunitas, mungkin kita menghadapi berbagai perbedaan, kritik, atau perlakuan yang kurang menyenangkan. Namun, sadarkah kita bahwa melalui semua itu kita sedang dibentuk menjadi seorang yang tabah, tangguh, dan berprinsip?

Ada kalanya kita berdoa agar Tuhan memberi kesabaran, tetapi Dia mengizinkan seseorang menguji kesabaran kita. Ada kalanya kita berdoa agar Tuhan memberi kekuatan, tetapi Dia mengizinkan kita berhadapan dengan mereka yang mengucapkan kata-kata yang menjatuhkan semangat. Pernahkah Anda mengalami hal seperti ini? Jika ya, janganlah mengeluh dan menjadi seorang yang tidak tahan uji. Jalanilah dengan kesadaran bahwa Tuhan dapat memakai setiap orang yang kita jumpai untuk ikut “menajamkan” sisi-sisi kehidupan kita agar lebih berkualitas dan berguna. Laluilah proses penajaman dengan tegar, walau mungkin tidak mudah. Karena kita tahu bahwa dengan cara itu, kualitas hidup kita sedang dimurnikan –HA

APA YANG TIDAK KITA SUKAI DARI SESAMA

DAPAT DIPAKAI TUHAN UNTUK MENAJAMKAN KARAKTER KITA

Sumber : www.sabda.org