NYANYIAN ALAM

Senin, 10 September 2012

Bacaan : Mazmur 19:1-7

19:1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (19-2) Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;

19:2 (19-3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.

19:3 (19-4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;

19:4 (19-5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,

19:5 (19-6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.

19:6 (19-7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.

19:7. (19-8) Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.

 

NYANYIAN ALAM

Apa buktinya Allah ada?” selalu menjadi topik hangat dalam diskusi keagamaan. Ini bukan saja pertanyaan yang muncul dari mereka yang tidak percaya adanya Allah, namun juga dari kalangan yang memercayai adanya Allah. Logika berpikir yang sangat mendasar untuk menjawabnya adalah: segala ciptaan ada karena ada penciptanya. Makin rumit suatu ciptaan, makin hebat pula penciptanya.

Logika inilah yang juga dipakai pemazmur dalam merenungkan keberadaan Allah. Ia melihat betapa Allah meninggalkan sangat banyak jejak dan bukti tentang keberadaan-Nya melalui alam semesta. Percaya bahwa langit, matahari, dan segala kompleksitas alam di sekitar kita itu ada dengan sendirinya adalah sebuah ide konyol dari mereka yang menekan bisikan nurani. Keindahan, kemegahan dan keteraturan jagat raya menyiratkan ada arsitek agung di baliknya. Buah karya Allah, yaitu bumi dan segala isinya adalah salah satu cara Allah untuk membisikkan keberadaan-Nya.

Keberadaan alam semesta tidak hanya layak menjadi alat pembuktian namun sepantasnya menimbulkan pesona dan hormat kepada Sang Pencipta. Kalau langit saja bisa menceritakan pekerjaan Tuhan yang mulia, betapa lebih lagi kita sebagai ciptaan-Nya yang paling agung, yang dibuat seturut gambar-Nya. Sudah selayaknya kita juga menjadi pencerita kemuliaan-Nya dan pemberita pekerjaan tangan-Nya. Seberapa besar kekaguman kita kepada-Nya dan seberapa banyak cerita hidup kita menjadikan orang kagum kepada-Nya? –PBS

KETIKA KITA TERPESONA TERHADAP ALAM SEMESTA,

NYATAKAN KEKAGUMAN KEPADA PENCIPTA-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BUKAN MAKANAN

Sabtu, 4 Agustus 2012

Bacaan : Yesaya 55:1-13

55:1. Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!

55:2 Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.

55:3 Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.

55:4 Sesungguhnya, Aku telah menetapkan dia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, menjadi seorang raja dan pemerintah bagi suku-suku bangsa;

55:5 sesungguhnya, engkau akan memanggil bangsa yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak mengenal engkau akan berlari kepadamu, oleh karena TUHAN, Allahmu, dan karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang mengagungkan engkau.

 

55:6. Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

55:7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.

55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

55:9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

55:10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,

55:11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

55:12 Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan.

55:13 Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.

 

BUKAN MAKANAN

Mungkin Anda suka gemas melihat tingkah anak kecil. Saya juga. Pernah suatu kali saya membantu teman saya menyuapi anaknya. Sudah susah disuapi, lari ke sana ke mari, anak itu malah meraup mainan yang tergeletak di lantai dan memasukkannya ke dalam mulut. “Itu bukan makanan!” seru saya khawatir dan merebut mainan itu. Anda bisa tebak yang terjadi selanjutnya. Ya, ia pun menangis hebat.

Teguran Tuhan melalui nabi Yesaya ibarat orangtua yang prihatin melihat kebodohan anaknya. Mereka tidak mendengarkan Tuhan, mengandalkan pemikiran mereka sendiri, tak menyadari bahwa yang mereka upayakan itu sia-sia belaka (ayat 3). Padahal, Tuhan sudah menyediakan segala yang baik bagi umat-Nya, jika saja mereka mau datang dan menaati perkataan-Nya. Ada pemeliharaan hari lepas hari, bahkan janji keselamatan melalui Mesias yang akan diberikan atas seluruh bumi melalui Israel (ayat 3-5). Kasih dan pengampunan tersedia bagi orang yang mencari-Nya, rancangan-Nya sempurna (ayat 6-9). Firman-Nya memberi kehidupan dan pertumbuhan (ayat 10- 11). Seharusnya ini menjadi jaminan bagi Israel untuk senantiasa berpaut kepada Tuhan.

Sayangnya umat Israel lebih sering lari ke sana ke mari, menjauh dari Tuhan, mengejar apa yang dipandang mereka baik. Seperti banyak dari kita juga, bukan? Kita meraup hal-hal yang tidak seharusnya mengisi hidup kita. Kita pikir itu tidak berbahaya. Kita sangka itu lebih baik dari Tuhan. Hari ini, mari kembali mendengarkan Tuhan. Dia tahu apa yang terbaik bagi kita, jangan abaikan teguran-Nya. Berhentilah mencari kepuasan di luar Tuhan. Datanglah pada-Nya sekarang juga! –ELS

MENGAPA MENCARI KEPUASAN YANG SIA-SIA

JIKA TUHAN SUDAH MENYEDIAKAN YANG SEJATI.

Dikutip : www.sabda.org

PINJAMAN

Kamis, 30 September 2010

Bacaan : 1 Korintus 15:1-11

15:1. Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.

15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu–kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.

15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,

15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;

15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.

15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.

15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.

15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.

15:9 Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.

15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

15:11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

PINJAMAN

Dalam puisinya I Lend This Child To You, Edgar A. Guest menyampaikan sebuah pesan indah. Berikut adalah petikannya: Aku akan pinjamkan bagimu untuk sesaat/Seorang anak milik-Ku, kata-Nya/Untuk kaucintai semasa ia hidup/Dan untuk ditangisi saat ia meninggal/Mungkin selama enam atau tujuh tahun/Atau dua puluh dua atau tiga/Tapi maukah kau-sampai Aku memanggilnya pulang-menjaganya untuk-Ku?/Maukah engkau memberikan padanya seluruh kasihmu?/Tanpa berpikir pekerjaan itu akan sia-sia/Atau membenci-Ku saat Aku datang memanggil-untuk mengambilnya kembali?

Sebuah puisi yang mencelikkan mata para orangtua. Ketika dunia mengatakan bahwa apa-apa yang ada di hidup kita adalah milik kita sendiri, puisi ini mengembalikan kita pada realita. Bahwa segala sesuatu yang selama ini kita anggap milik kita, sesungguhnya hanya pinjaman dari Tuhan. Termasuk anak-anak yang dipercayakan pada kita. Mereka milik Tuhan, dan suatu saat harus dikembalikan pada pemilik-Nya. Maka, bagaimanakah sikap bertanggung jawab dari seorang yang “hanya dipinjami”?

Karena anak adalah “pinjaman Tuhan” yang bernilai kekal, maka kita harus menyampaikan Injil kepadanya-seperti yang terurai dalam bacaan hari ini. Agar ia sungguh-sungguh mengenal dan memercayai Kristus, Pribadi yang akan “mengambilnya kembali” dan memintanya mempertanggungjawabkan hidupnya. Dan tidak ada kata “nanti” atau “besok” untuk melakukannya. Sebab kita tak tahu kapan Tuhan hendak memintanya kembali. Doakan, bimbing, dan dampingi anak kita untuk menjadikan Kristus Raja di hidupnya! –AW

KETIKA TUHAN MEMINJAMKAN ANAK-ANAK DI HIDUP KITA

DIA HANYA MINTA KITA MENUNJUKKAN

JALAN PULANG YANG BENAR

Sumber : www.sabda.org

SAAT IMAN GOYAH

Sabtu, 9 Januari 2010

Bacaan : Kisah 7:54-60

7:54. Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi.

7:55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.

7:56 Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”

7:57 Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia.

7:58 Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.

7:59 Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.”

7:60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.

SAAT IMAN GOYAH

Blandina adalah nama seorang perempuan kristiani yang meninggal karena sebuah penganiayaan di Lyon, Prancis, pada tahun 177. Ia mengalami siksaan begitu rupa, tetapi ia tetap mempertahankan imannya kepada Tuhan Yesus. Sampai-sampai, walaupun sang penyiksa sudah kelelahan dan frustrasi menyiksanya, ia tetap pada pendirian dan keyakinannya.

Kematian Blandina ini mengikuti jejak kematian Stefanus, martir kristiani pertama yang kisahnya tercatat dalam Kisah Para Rasul 7. Saat itu penganiayaan terhadap jemaat kristiani semakin nyata terjadi. Aniaya itu dimulai dengan ancaman kepada Rasul Petrus dan Rasul Yohanes dalam Kisah Para Rasul 4 dan 5. Kemudian disusul dengan hukuman mati bagi Stefanus. Namun, mereka semua rela dan bahkan bersukacita atas terjadinya penganiayaan tersebut (Kisah Para Rasul 5:41). Ini dimungkinkan karena iman keyakinan mereka akan Yesus sangat teguh. Keyakinan ini dapat terbangun karena mereka sudah melihat sendiri karya Tuhan Yesus dalam hidup mereka.

Dalam hidup kita sebagai orang percaya, ada masa-masa ketika iman kita menjadi goyah. Pada saat itu kita mungkin mempertanyakan tentang keberadaan Allah, tentang kasih-Nya, tentang kehidupan, tentang kematian, tentang kebangkitan Yesus, dan sebagainya. Di saat-saat demikian, mari kita mengenang kisah para martir kristiani di masa lalu seperti Stefanus dan Blandina. Mungkinkah mereka rela mati jikalau mereka tidak sungguh-sungguh yakin bahwa iman yang mereka miliki, dan juga kita miliki ini, sungguh-sungguh benar? -ALS

KESETIAAN DAN PENGORBANAN PARA MARTIR KRISTIANI

ADALAH SALAH SATU BUKTI KUAT TENTANG KEBENARAN IMAN KITA

Sumber : www.sabda.org

MORNING CALL

Senin, 4 Januari 2010

Bacaan : Ibrani 10:19-31

10:19. Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,

10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,

10:21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.

10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.

10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

10:26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.

10:27 Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.

10:28 Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi.

10:29 Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?

10:30 Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi umat-Nya.”

10:31 Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.

MORNING CALL

Morning call adalah kegiatan membangunkan pada pagi hari dengan cara menelepon. Dulu saya tidak mengerti manfaatnya, karena berpikir bahwa tidak ada bedanya antara bangun karena bunyi jam weker atau karena bunyi telepon. Hingga pada suatu pagi, seorang teman membangunkan saya melalui morning call karena kami akan bersaat teduh bersama. Ternyata, ketika saya dibangunkan oleh bunyi telepon dari teman tersebut, saya bangun dengan lebih bersemangat karena sadar bahwa ada orang lain yang juga tengah berjuang untuk bangun pagi-pagi dan bersiap untuk beraktivitas bersama kita.

Kesadaran bahwa kita tidak sendirian juga penting dimiliki dalam menjalani hidup sebagai orang kristiani-yang acap kali harus berjuang melawan arus dunia. Sebab ini adalah perjuangan yang melelahkan dan kerap membuat kita putus asa. Kesadaran bahwa kita tidak sedang berjuang sendiri akan menguatkan kita kembali. Ini pula sebabnya penulis kitab Ibrani menasihati kita untuk menyediakan waktu berkumpul dengan sesama orang percaya. Di sana kita akan diingatkan bahwa ada orang lain yang juga berjuang hidup untuk Tuhan. Di sana kita juga akan mendapat penguatan, nasihat, dan teguran yang akan memampukan kita untuk terus berjalan di jalan Tuhan.

Banyak hal yang dapat menghalangi kita untuk hadir dalam kegiatan persekutuan. Bisa karena alasan pekerjaan, keluarga, kondisi fisik, mood, dan sebagainya. Namun, jika kita mau dan rindu menjalani hidup sesuai kehendak-Nya, tidak bisa tidak, kita harus menyediakan diri untuk berkumpul dan bersekutu dengan sesama orang percaya -ALS

BERSEKUTU DENGAN SESAMA UMAT TUHAN

MENGUATKAN KITA UNTUK TERUS MELANGKAH DI JALAN TUHAN

Sumber : www.sabda.org

SIKAPKU, PILIHANKU

Rabu, 2 Desember 2009

Bacaan : Filipi 4:1-8

4:1. Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

4:2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.

4:3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.

4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

SIKAPKU, PILIHANKU

Sikap adalah pilihan pribadi. Apabila pikiran dipenuhi hal negatif, sehingga keluar sikap buruk seperti murung, putus asa, dendam, kita tidak boleh menyalahkan orang lain atau kondisi di sekitar, sebab itu pilihan kita. Seandainya kita mau mengubah pikiran ke hal yang optimis dan positif, maka sikap kita pun akan mengikuti. Yang unik, dalam waktu yang bersamaan, otak kita tak dapat memikirkan dua hal sekaligus. Jadi, kita harus memilih.

Hari ini kita diminta memikirkan semua yang benar, mulia, manis, sedap didengar, bajik, dan patut dipuji (ayat 8). Mungkin hidup Anda saat ini sungguh terasa pahit, getir, dan sulit, tetapi mari kita lihat Paulus. Ketika ia menasihati jemaat Filipi yang menghadapi tekanan dan kesulitan hidup, Paulus sendiri sebenarnya sedang sangat susah. Ia menuliskan surat itu dari dalam penjara, dalam kondisi teraniaya karena Injil. Namun, ia memilih bersikap positif dan optimis. Jadi, ia bisa melihat peluang untuk memberitakan Injil kepada para narapidana, pegawai penjara, bahkan pejabat istana yang menangani kasusnya (Filipi 1:12-14). Bahkan, ia menghibur banyak jemaat yang ditimpa kesulitan melalui suratnya, sebab dalam penjara ia punya banyak waktu untuk menulis, berdoa, dan memuji Tuhan.

Paulus dapat melakukan hal ini karena ia memilih untuk menambatkan hatinya kepada Allah; memenuhi hatinya dengan kasih kepada jiwa-jiwa terhilang dan jemaat yang dilayaninya. Maka, penjara hanya bisa mengurung tubuhnya. Sedang pikirannya tetap dipenuhi oleh semua yang benar, mulia, manis, sedap didengar, bajik, dan patut dipuji. Jika Anda sedang susah, mengapa harus menjadi lebih susah dengan memilih sikap pesimis atau negatif? Ayo bangkitlah! –SST

SEBUAH HARI CERAH BISA DIMENDUNGKAN OLEH KEMURUNGAN

SEBUAH HARI MENDUNG BISA DICERAHKAN OLEH SENYUMAN

Sumber : www.sabda.org

PIHAK YANG MENANG

Sabtu, 10 Oktober 2009

Bacaan : Kolose 2:6-15

2:6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.

2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

2:8 Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.

2:9 Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,

2:10 dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.

2:11 Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa,

2:12 karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.

2:13. Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita,

2:14 dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib:

2:15 Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.

PIHAK YANG MENANG

Zaman sekarang, hanya sedikit orang yang memercayai ide penyembahan berhala bahwa dunia berada di bawah kendali para dewa perang, misalnya Artemis, Pan, dan Apollo. Namun demikian, orang-orang skeptis yang sangat terpelajar ternyata malah mengakui keberadaan “kekuatan-kekuatan” yang tidak mampu kita kendalikan. Sebagai contoh, mereka mengaitkan ketidakmampuan kita untuk mencegah terjadinya kekerasan di berbagai tempat di dunia ini dengan sesuatu yang mereka sebut “kekuatan internasional”. Dan mereka berbicara tentang “kekuatan ekonomi” yang berada di luar kendali kita. Misalnya, jutaan orang masih menderita kelaparan meskipun tersedia cukup makanan di dunia ini bagi setiap orang di muka bumi.

Alkitab dengan sangat gamblang mengakui keberadaan makhluk roh atau kekuatan yang tidak kelihatan, tetapi sangat nyata. Di dalam Efesus 6:11,12, Rasul Paulus menyebutkan bahwa peperangan kita yang terutama adalah melawan pasukan malaikat pemberontak yang dipimpin oleh Setan. Kabar buruknya adalah para malaikat pemberontak itu ternyata lebih pintar dan kuat daripada kita. Namun, kabar baiknya adalah Tuhan Yesus telah mengalahkan mereka melalui peristiwa kematian-Nya di atas kayu salib: “Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka” (Kolose 2:15).

Ada banyak hal yang berada di luar kendali kita, tetapi kita tidak perlu merasa gentar. Kita yang telah percaya kepada Yesus, berada di pihak yang menang –HVL

SETAN MUNGKIN MEMENANGKAN BEBERAPA PEPERANGAN
TETAPI IA TIDAK DAPAT KELUAR SEBAGAI PEMENANG

Sumber : www.sabda.org