IBUKU, IDOLAKU

Kamis, 22 Desember 2011

Bacaan : Yesaya 49:14-23

49:14 Sion berkata: “TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.”

49:15 Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

49:16 Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.

49:17 Orang-orang yang membangun engkau datang bersegera, tetapi orang-orang yang merombak dan merusak engkau meninggalkan engkau.

49:18. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua berhimpun datang kepadamu. Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, sungguh, mereka semua akan kaupakai sebagai perhiasan, dan mereka akan kaulilitkan, seperti yang dilakukan pengantin perempuan.

49:19 Sebab tempat-tempatmu yang tandus dan sunyi sepi dan negerimu yang dirombak, sungguh, sekarang terlalu sempit untuk sekian banyak pendudukmu dan orang-orang yang mau menelan engkau akan menjauh.

49:20 Malahan, anak-anakmu yang kausangka hilang akan berkata kepadamu: “Tempat itu terlalu sempit bagiku, menyisihlah, supaya aku dapat diam di situ!”

49:21 Maka engkau akan berkata dalam hatimu: “Siapakah yang telah melahirkan sekaliannya ini bagiku? Bukankah aku bulus dan mandul, diangkut ke dalam pembuangan dan disingkirkan? Tetapi anak-anak ini, siapakah yang membesarkan mereka? Sesungguhnya, aku tertinggal seorang diri, tetapi mereka ini, dari manakah datangnya?”

49:22 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Lihat, Aku akan mengangkat tangan-Ku sebagai tanda untuk bangsa-bangsa dan memasang panji-panji-Ku untuk suku-suku bangsa, maka mereka akan menggendong anak-anakmu laki-laki dan anak-anakmu perempuan akan didukung di atas bahunya.

49:23 Maka raja-raja akan menjadi pengasuhmu dan permaisuri-permaisuri mereka menjadi inangmu. Mereka akan sujud kepadamu dengan mukanya sampai ke tanah dan akan menjilat debu kakimu. Maka engkau akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, dan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Aku tidak akan mendapat malu.”

IBUKU, IDOLAKU

Semasa saya kecil, keluarga kami ada di ambang kemiskinan. Apabila kami makan, Ibu kerap mengambil lagi lauk di piringnya, untuk dibagi ke anak-anaknya. Hingga ia tinggal berlauk garam. Jika ditegur, ia berkata, “Mama sudah cukup. Kita mesti hemat supaya bisa mendukung kakak-kakakmu yang sekolah di luar kota.” Pada kali lain, saya sakit sampai berguling-guling. Dengan gemetar, Mama memeluk dan menguatkan saya. Lalu, sambil menangis ia berlutut dan berdoa, “Bapa, jika boleh biar saya saja yang menanggung derita anak ini, tolong jamah dia.” Berbagai pengalaman tentang kasih, pengorbanan, dan perlindungan Ibu, sangat menolong saya memahami kasih Allah yang nyata. Bahkan, membawa saya untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Israel pernah kehilangan jati diri dan hidup tercela dalam pembuangan karena mengandalkan kekuatan sendiri serta bersandar kepada Mesir, sekutunya. Dalam kesusahannya, Israel kemudian menganggap Tuhan tak peduli pada penderitaan umat. Bahkan, menuduh-Nya bagai seorang ibu yang tega meninggalkan bayinya. Namun, Tuhan menuntut Isreal membuktikan hal itu. Sebab, sekalipun ada ibu yang melupakan bayinya, Tuhan sekali-kali tidak akan melupakan umat-Nya. Apabila kasih ibu sudah dianggap paling besar di bumi ini, betapa lebih besar dan kuatnya lagi kasih Allah yang tak pernah putus asa mendampingi dan menguatkan umat-Nya.

Para ibu yang terkasih, hidup Anda meninggalkan jejak yang dalam di kehidupan anak-anak. Teladanilah kasih Allah yang tak pernah melupakan anak-anak-Nya. Dan, jagalah hidup Anda agar menjadi jembatan bagi anak-anak untuk mengenal Allah –SST

IBU ADALAH SOSOK YANG SEHARUSNYA MEMBERI BANYAK KASIH

AGAR ANAK TAK HANYA KENAL DUNIA, TETAPI JUGA KENAL TUHAN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

Dalam Tujuan Allah

Shalom…salam miracle

Yesaya 49:15-16 “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” Sebelum dunia dan segalanya dijadikan, Tuhan sudah mempunyai rencana atas hidup kita. Bahkan sebelum dunia kita muncul di benak orang tua kita. Tuhan sudah mempunyai rencana atas hidup kita. Hal ini dinyatakan dalam keberadaan kita ada dalam tangan-Nya yang kuat. Tidak ada yang lahir di dunia ini karena ketidaksengajaan atau kebetulan, bahkan mereka yang lahir di luar nikah sekalipun, ada dalam kekuasaan Tuhan.

 

Yang perlu direnungkan bukan bagaimana proses dan kejadian kita dilahirkan, namun bagaimana kita dapat menyelesaikan kehidupan sekarang ini. Allah tidak menjadikan jemaat yang pasif dan tidak menghasilkan, tetapi untuk menjadi jemaat yang produktif yang mampu menghasilkan buah, tentunya dalam kehendak dan perkenanan Tuhan. Marilah kita menggunakan kesempatan kehidupan ini dengan sebaik mungkin sebagai orang-orang percaya kepada Tuhan, terlebih mampu menikmati kehidupan dalam kelimpahan yang dijanjikan Tuhan.

 

Dalam Yohanes 10:10 “…Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Dari hal itu maka bisa kita ketahui bahwa Allah mempunyai tujuan dalam kehidupan kita. Begitu pula dengan setan yang juga mempunyai tujuan selama di bumi ini? Kebanyakan anak-anak Tuhan datang ke Gereja karena kebiasaan, karena tugas dan kewajiban. Perlu diperhatikan bahwa Kekristenan bukan tugas, bukan hanya hari Minggu dengan ibadah-ibadah raya. Kekristenan adalah pola dan gaya hidup dalam keseharian kita, dan setiap saat berjalan bersama Kristus. Yesus datang ke dunia pun dengan tujuan, Dia datang tidak hanya sekedar melihat bumi, tetapi dengan suatu tujuan besar yang berkaitan dengan kehidupan kekal umat manusia.

 

Ada beberapa hal yang harus kita benahi ketika kita mengerti Yohanes 10:10 dan tidak menikmati kelimpahan sesuai dengan ayat yang dimaksud, yakni karena sikap kita yang kurang pas di hadapan Allah. Sebagai contoh, ketika kita tidak mendapatkan sesuatu tapi tidak seperti yang kita mau, maka kita sering mengomel, ngambek, kemudian marah-marah, dan selanjutnya. Kalau kita mau menikamti kehidupan dan melakukan yang terbaik, kita harus mengucap syukur kepada Tuhan. Sikap kita menentukan keberhasilan kita, atau seseorang bisa bahagia atau tidak tergantung dari sikap orang itu sendiri.

 

Efesus 2:10 “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalam-Nya.” Rasul Paulus mengajarkan bahwa ketika kita mengenal Kristus dan menjadi warga Kerajaan Allah, maka tujuan kita adalah untuk mencari tahu mengapa Allah menciptakan kita. Dalam 2 Timotius 1:9 berkata “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.” Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa sebelum zaman dimulai, atau sebelum bumi dijadikan, Tuhan sudah mempunyai rencana yang besar atas kehidupan kita. Kita dipanggil, kita menjadi orang pilihan, karena kita berharga dan bernilai di mata Tuhan. Mungkin ada orang tua yang mengatakan kepada anaknya tidak berguna, tapi Tuhan sangat memperhatikan setiap kita. Dia sangat mencintai kita, dan kita sangat berharga di mata-Nya bahkan disebut menjadi biji mata-Nya. Selain itu kita aman dalam perlindungan-Nya. Lebih berharga lagi Dia menyebut kita bukan hamba tetapi SAHABAT.

 

Mulai sekarang ini kenakanlah manusia barumu, memakai pikiran baru siapa kita di dalam Kristus. Jangan melihat diri kita sebagai orang yang tertolak dan tidak bisa diterima, dari keluarga yang tidak berharga, atau tidak ada yang mengasihi, itu semua bukan identias kita sekarang, mungkin identitas yang lama sebelum bertobat, ketika masih menjadi milik kegelapan, tetapi sekarang kita adalah anak Allah, dan dengan demikian kita akan lebih sering mengatakan kepada Tuhan “…TERIMA KASIH TUHAN…” sehingga dalam beraktifitas, ketika pergi beribadah ke gereja dan sebagainya dengan penuh kepercayaan diri sebab bersama dengan Allah. Kita adalah umat yang telah dipanggil, maksudnya dipanggil adalah dipisahkan hanya untuk Dia, dan kemudian Allah menguduskan kita. Ketika kita menerima panggilan Allah, maka kita akan berkata “INILAH AKU TUHAN, UTUSLAH AKU..” dan kita menjadi terang dan garam bagi dunia ini.

 

Di bulan Maret ini kiranya kita semakin mengerti tujuan dan rencana Allah dalah kehidupan jemaat Tuhan di Bethany GTM, dan dukung doa senantiasa buat pembangunan Gereja kita.

 

 

Tuhan Yesus memberkati.

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA