KUASA DALAM PUJIAN

Jumat, 10 Desember 2010

Bacaan : Kisah Para Rasul 16:19-31

19Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.

20Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, katanya: “Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi,

21dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya.”

22Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka.

23Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh.

24Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.

25Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.

26Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.

27Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri.

28Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!”

29Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas.

30Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?”

31Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

KUASA DALAM PUJIAN

Ketika saya mendampingi Ayah menjalani operasi atas kanker yang dideritanya, lalu menjalani perawatan selama lebih dari dua bulan di rumah sakit, rasa khawatir serta putus asa sering menyergap. Membuat saya sangat takut dan tidak berdaya. Untuk mengurangi kegelisahan di hati, setiap malam saya melantunkan kidung pujian sembari mendampingi Ayah yang mengalami insomnia. Awalnya, saya melakukannya hanya untuk kepentingan pribadi dan menyanyi dengan sangat lirih karena takut mengganggu kenyamanan pasien lain. Namun, ternyata pasien yang lain serta keluarga-yang se-ruangan dengan Ayah-tidak keberatan saya menyanyi, malah meminta saya menyanyi untuk semua, sebab kata mereka, nyanyian yang saya naikkan menenteramkan hati mereka juga.

Saya teringat kepada Rasul Paulus dan Silas yang tetap memuji Tuhan dalam masa sulit. Tubuh mereka tentu tersiksa karena hukuman dera yang dijatuhkan, dan terkurung di penjara yang sangat tidak nyaman (ayat 23, 24). Namun, mereka tidak mengeluh dan berputus asa. Sebaliknya mereka justru berdoa dan menyanyikan pujian kepada Allah. Tidak dengan ragu, malu, apalagi takut. Mereka memuji Tuhan dengan suara lantang hingga seluruh penghuni penjara turut mendengarkan (ayat 25). Dan, mukjizat pun terjadi! (ayat 26).

Biarlah bibir kita suka menaikkan nyanyian pujian kepada Tuhan. Khususnya pada masa yang sulit dan berat. Sebab, ada kuasa dalam setiap pujian yang dinaikkan dengan segenap hati. Kuasa yang membangkitkan iman kita sendiri, yang menguatkan orang lain di sekitar kita, yang mengagungkan kebesaran Tuhan, Sang Pengendali segala peristiwa –SR

ALLAH BEKERJA MELALUI SETIAP PUJIAN

YANG KITA HANTARKAN

Sumber : www.sabda.org

Iklan

TERLALU BETAH

Selasa, 31 Agustus 2010

Bacaan : Filipi 3:17-4:1

3:17. Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.

3:18 Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.

3:19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.

3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,

3:21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.

4:1. Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

TERLALU BETAH

Merhan Karimi Nasseri, warga Iran, dicabut kewarganegaraannya ketika menaiki pesawat terbang menuju Paris. Paspornya diambil. Tanpa bukti kewarganegaraan, setiba di Paris ia tidak diizinkan meninggalkan bandara. Selama sebelas tahun ia tinggal di Terminal 1; mandi di toilet bandara, dan hidup dari bantuan staf bandara. Pada 1999, pemerintah Prancis akhirnya memberinya izin untuk tinggal dan bekerja. Sekarang ia bebas pergi kemana pun. Anehnya, ia memilih tetap tinggal di bandara-sudah telanjur betah. Setelah dibujuk beberapa hari, baru ia mau pergi.

Sebuah bandara, sebesar dan sebagus apa pun, bukan rumah. Begitu juga dunia ini bukan rumah sejati kita. Rasul Paulus mengingatkan, kita adalah warga surga. Kita tinggal di dunia hanya sementara. Maka, jangan sampai terlalu lekat dengan daya tarik dan kenikmatannya. Paulus prihatin melihat orang kristiani yang hidup “sebagai seteru salib Kristus” (ayat 18). Gaya hidupnya masih mementingkan perkara duniawi. Yang dikejar melulu soal makanan, kenikmatan, kemewahan, kehormatan, dan keuntungan. Sebagai warga surga, cara hidup kristiani seharusnya berbeda-mengejar hal yang bernilai kekal, seperti kasih, keadilan, dan kebenaran.

Orang yang terlalu lekat pada dunia akan takut meninggalkan dunia ini apabila saatnya tiba. Segala hal yang telah telanjur digenggam erat biasanya sangat sulit dilepaskan. Maka, bersyukurlah jika terkadang Tuhan mengizinkan kita mengalami kehilangan, baik benda, kuasa, maupun kekasih tercinta. Semuanya menyadarkan bahwa dunia bukan rumah kita. Semuanya fana dan akan lenyap –JTI

SAAT HATI TERPIKAT OLEH SILAUNYA DUNIA

SURGA TIDAK LAGI TAMPAK MEMESONA

Sumber : www.sabda.org

USIA SENJA

Rabu, 7 Oktober 2009

Bacaan : Filipi 3:20-4:1

3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,

3:21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.

4:1. Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

USIA SENJA

Jika Anda sekarang ini masih muda dan lincah, Anda mungkin akan kesulitan untuk bersimpati terhadap perasaan orang-orang yang sudah tua. Namun, orang-orang yang sudah separuh baya dan mulai memasuki usia senja dapat memahami perkataan Daud, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua” (Mazmur 37:25). Dan karena penuaan acap kali disertai dukacita serta kehilangan, maka tidak tertutup kemungkinan ada banyak orang yang dengan sia-sia berharap bahwa masa muda mereka tidak akan pernah berakhir.

Akan tetapi, dengarkanlah perkataan seorang penulis esai kristiani dan sekaligus ahli teologi, F.W. Boreham, “Suatu hari nanti, hari-hari saya akan berangsur menjadi senja. Masa senja saya pun akan tiba…. Kemudian, saya yakin akan ada fajar yang menyingsing dan menggantikan senja itu. Fajar tersebut lebih cerah daripada fajar yang selama ini saya alami. Setelah warna terakhir dari matahari menghilang, maka terbitlah hari baru yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya; suatu hari yang akan mengembalikan semua hal yang telah diambil oleh hari-hari lama saya, suatu hari yang tidak akan pernah berangsur menjadi senja.”

Oleh sebab itu, di mana pun kita berada dalam perjalanan menuju surga, kita dapat bersukacita apabila berjalan bersama Tuhan Yesus. Dan, karena kita tahu bahwa Bapa surgawi yang setia akan tinggal bersama kita sampai akhir perjalanan di bumi ini, kita dapat senantiasa mengucap syukur atas usia kita yang semakin bertambah dan perjalanan hidup kita yang mau tidak mau semakin mendekati garis akhir –VCG

HIDUP ADALAH KRISTUS DAN MATI ADALAH KEUNTUNGAN –Rasul Paulus

Sumber : www.sabda.org

Ketika Dunia Berbalik Menyerang Kita

Bacaan: Lukas 22:47-53

Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?– Lukas 22:48

Ini tidak adil. Ini sangat tidak manusiawi. Bahkan sangat tidak masuk akal dilakukan oleh manusia-manusia yang berakal budi. Bukankah Yesus tidak pernah melakukan yang buruk? Sedikitpun tidak. Ia selalu berbuat baik. Ia selalu memberi pertolongan, bahkan ketika saatNya belum tiba pun, Ia tetap menyelamatkan muka keluarga mempelai di Kana. Ia tidak pernah menggosipkan orang lain, apalagi memfitnahnya. PerkataanNya manis, lembut dan menyegarkan siapa saja yang letih. Ia tidak pernah meminta atau menuntut lebih, Ia selalu memberi. Ia tidak pernah menjadi batu sandungan, Ia menjadi berkat. Ia membuat mujijat dan memberikannya kepada mereka yang butuh mujijat. Tak terhitung lagi kaki lumpuh yang bisa berjalan, atau mata buta yang celik, si bisu yang akhirnya berujar, atau si tuli yang sekarang bisa enjoy dengar musik easy listening.

Yesus buat semuanya itu. Tapi apa yang Ia dapat? Pengkhianatan. Olokan. Cercaan. Tatapan sinis. Bahkan paduan suara yang sedemikian kompak, “Salibkan Dia!” Bisa jadi yang berteriak lantang adalah mereka yang pernah mengecap kebaikanNya atau bahkan yang mengalami sendiri mujijatNya. Dua belas murid yang Ia andalkan juga tiba-tiba melempem. Nyalinya ciut dan memilih menyelamatkan diri masing-masing. Meski semula mereka gembar-gembor bahwa nyawa pun akan dipertaruhkan demi guruNya. Pengkhianatan. Bukan hanya Yudas saja, tapi sebenarnya semua murid mengkhianati Dia, karena membiarkan Dia sendirian menanggung semuanya itu.

Yesus dikhianati oleh orang-orang yang selama tiga tahun terakhir ini selalu bersamaNya. Yesus disalibkan oleh orang-orang yang pernah ditolongNya. Mungkin saja mereka yang memaki Yesus adalah mereka juga yang pernah dibuatnya bicara dari kebisuan. Yesus mengalami semuanya itu, tapi Ia tetap teguh. KasihNya tidak tergoncang. Pengkhianatan tak mampu mengubah kasihNya. Meski dunia berbalik melawanNya, Ia tetap mengampuni. Teladan hidup yang luar biasa.

Bagaimana jika dunia berbalik melawan kita? Bagaimana jika orang yang pernah kita tolong memberikan ciuman Yudas? Marilah kita belajar dari Yesus. Hidup yang dikuasai kasih. Memang berat. Daging kita berontak. Logika kita tidak bisa menerima. Bagaimana mungkin mengasihi mereka yang berbalik melawan kita. Tapi itulah kasih. Kasih bukanlah kasih kalau tidak bisa mengasihi musuh kita.

Apakah kita tetap mengasihi mereka yang berbalik melawan kita?

(Kwik)

» Artikel Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit

PELAYANAN YANG PENUH BUAH (1)

PESAN GEMBALA

9 AGUSTUS 2009

Edisi 86 Tahun 2

 

PELAYANAN YANG PENUH BUAH (1)

Shalom… Salam miracle…

Jemaat yang diberkati Tuhan, hari ini kita belajar dalam Injil Yohanes 4:1-42 (baca terlebih ayat-ayat ini), dimana Tuhan Yesus bertemu dengan wanita Samaria. Dalam pembacaan pasal 1 ini, ada banyak prinsip-prinsip yang dapat kita teladani ketika Yesus melayani perempuan Samaria tersebut.

 

  1. MEMPRIORITASKAN KEHENDAK ALLAH

Ketika Yohanes mengatakan kepada kita yang membaca kisah ini bahwa “Yesus harus melintasi daerah Samaria” (Yohanes 4:4). Apakah sebenarnya yang mendorong Dia untuk melakukan hal tersebut? Sebenarnya ada 2 jalan yang bisa Dia lewati untuk sampai ke daerah Galilea, yaitu rute yang melalui Samaria dan rute yang satunya adalah melewati Lembah Yordan. Meskipun jalan yang melalui Samaria merupakan rute alternatif atau suatu arah alternatif, tetapi rute ini jarang dilewati oleh orang-orang Yahudi, disebabkan  adanya pertentangan eksistensi antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Samaria dan secara keturunan kesukuan Yesus termasuk orang Yahudi, tetapi Yesus memilih rute ini. Hal ini bukan disebabkan karena jaraknya yang lebih pendek, atau lebih cepat sampai atau alasan-alasan lainnya, tetapi dikarenakan suara yang disampaikan secara pribadi dari Bapanya yang di Surga. Inilah yang dimaksud memprioritaskan kehendak Allah.

 

Allah mempunyai misi tersendiri supaya Yesus melakukan dan menggenapinya. Allah mengetahui di jalan tersebut ada hati yang lapar dan haus akan kebenaran Allah. Allah meletakkan suara tersebut di dalam hati Yesus yang akhirnya membawa Dia pada rute yang telah ditetapkan dan kepada suatu tempat pertemuan yang tepat, yaitu sumur Yakub.

 

Saudara, kita juga perlu memiliki kepekaan yang demikian dan kemampuan untuk dapat melihat serta menerjemahkan saran Allah di dalam roh kita. Ada banyak kesempatan bagi Allah untuk bersaksi dengan cara khusus tetapi Dia perlu mempunyai keyakinan bahwa kita tidak hanya mendengar tetapi juga menaati saran-saranNya.

 

Untuk menjamin bahwa kita memiliki kepercayaan kepada Allah kita perlu memprioritaskan kehendak-Nya dan menyerahkan terlebih dahulu di atas semua komitmen kita. Kita dapat melihat sikap seperti ini di dalam kehidupan Yesus bahkan sejak Ia berumur belasan tahun. Ia bertanya kepada Maria dan Yusuf “tidakkah engkau mengetahui bahwa Aku harus melakukan kehendak Bapa?” (Lukas 2:49). Di sini sangat terlihat walaupun Ia sangat menghormati orang tuanya di dunia dan di dalam asuhan mereka, Dia memberikan kehendak BapaNya yang di Sorga sebagai prioritas yang tertinggi.

 

Pada kesempatan lain Ia mengatakan “kesukaanKu adalah mengerjakan kehendak BapaKu yang di Sorga yang telah mengutus Aku”. Kita juga harus menjadi sumber kesukaan untuk menaati kehendak Bapa kita.  

 

  1. KASIHNYA YANG TULUS KEPADA ORANG BERDOSA

Pada ayat 4 Yesus mengatakan bahwa “harus pergi melalui Samaria”, hal ini dilakukan bukan karena kondisi geografis atau adanya pertentangan dengan yang lainnya, namun yang sebenarnya adalah Yesus sengaja ingin melewati Samaria untuk memberitakan kabar kesukaan kepada perempuan Samaria dan para tetangganya di Samaria.

 

KasihNya kepadanya (orang berdosa) yang membuat Yesus melakukan hal ini. Dia sangat dikenal sebagai “sahabat orang berdosa”. Sebutan tersebut tidak membuatNya risih atau terganggu. Karena orang-orang yang terhina itulah sehingga Dia mendatangiNya, seperti yang dilakukanNya ketika mendatangi perempuan Samaria. Dia tidak bermaksud menghakiminya, tetapi rindu untuk memberikan belas kasihan dengan tulus kepada mereka yang berdosa, bahkan memberikan pertolonganNya. Yang patut kita teladani adalah “melihat orang-orang berdosa dengan cara pandang Allah”. Sebagai orang Kristen kita harus hati-hati untuk tidak menganggap diri kita benar atau menganggap orang lain salah tanpa melibatkan Kristus……(BERSAMBUNG)

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati….Amien.

 

 

Gembala Sidang,

Pdt.Ir.Joko Susanto, MA