PAULUS ABAD 21

Minggu, 10 Maret 2013

Bacaan: Filipi 4:1-9

4:1. Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

4:2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.

4:3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.

4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

 

PAULUS ABAD 21

Pada pertengahan tahun 2012, dua orang rekan pelayanan kami ditangkap, dihakimi massa, dan ditahan di penjara karena memberitakan Injil kepada penduduk lokal yang beragama lain. Beberapa rekannya melarikan diri karena takut mendapatkan aniaya. Namun, ada juga yang bertahan di sana, mengunjungi serta memperhatikan kebutuhan mereka. Setelah beberapa hari ditahan, salah satu dari mereka mengirimkan sebuah surat.

Ketika surat itu dibacakan dalam perkumpulan kami, saya seperti mendengar surat Rasul Paulus dibacakan. Isinya berupa ucapan syukur karena dianggap layak menderita bagi Kristus, juga penuh dengan kutipan dari Alkitab tentang penghiburan, pemeliharaan Allah, dan dorongan kepada orang-orang percaya untuk tetap memberitakan Injil.

Surat Paulus kepada jemaat di Filipi adalah salah satu surat yang ditulisnya di penjara. Meskipun dalam keadaan terpenjara, ia membangkitkan iman jemaat untuk tetap bersukacita. Jeruji penjara tidak mampu mengungkung sukacita orang percaya. Tidaklah mengherankan jika surat Filipi ini kemudian terkenal sebagai “Surat Sukacita”.

Sukacita yang dimiliki orang beriman berasal dari dalam, merupakan buah Roh (Gal 5:22), yang berarti dikerjakan oleh Roh Allah sendiri. Sukacita ini tidak terkendala oleh situasi dan kondisi apa pun di luar dirinya. Karena itulah, orang-orang percaya yang menderita masih mampu menghibur orang lain. Dalam kondisi Anda sekarang, bagaimana Anda dapat membagikan sukacita kepada orang lain? –HEM

ADA SUKACITA YANG TAK DAPAT HILANG
DALAM DIRI SETIAP ORANG PERCAYA

Dikutip : www.sabda.org

HIDUP PENUH SYUKUR

Sabtu, 15 September 2012

Bacaan : Efesus 5:18-21

5:18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,

5:19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.

5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita

 

5:21. dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

 

HIDUP PENUH SYUKUR

Fanny Crosby menulis lebih dari 8.000 lagu rohani. Meskipun buta sejak usia 6 minggu, ia tidak mempersalahkan Tuhan atas hal itu. Suatu kali seorang hamba Tuhan berkata kepadanya, “Sayang sekali ya, Sang Pencipta tidak memberi Anda penglihatan, padahal Dia memberikan banyak sekali karunia lain pada Anda.” Fanny menjawab, “Tahukah Anda, seandainya pada saat lahir saya bisa mengajukan permohonan, saya akan meminta agar dilahirkan buta?” Hamba Tuhan itu terkejut. “Mengapa?” tanyanya. “Karena bila saya naik ke surga nanti, wajah pertama yang akan saya lihat adalah wajah Sang Juru Selamat!” Sungguh sebuah hati yang berlimpah dengan rasa syukur.

Paulus mendorong jemaat di Efesus agar hidup sebagai anak Tuhan, antara lain dengan mengucap syukur atas segala sesuatu (ayat 20). Mengucap syukur “atas segala sesuatu” bukan nasihat yang mudah mengingat kesesakan yang sedang dialami sendiri oleh Paulus saat menulis surat ini (lihat pasal 3:13). Bagi Paulus, mengucap syukur merupakan bagian proses pertumbuhan anak-anak Tuhan untuk menjadi makin serupa dengan Kristus. Mengucap syukur tidak hanya menunjukkan seseorang mengalami berkat Allah, tetapi juga menunjukkan kepercayaan yang penuh kepada Allah, yakin bahwa Dia tahu yang terbaik.

Bagaimana dengan ucapan syukur dalam hidup kita? Mengucap syukur atas segala sesuatu berarti lebih dari sekadar ungkapan sukacita, ucapan syukur kita menjadi ungkapan iman bahwa di dalam segala keadaan Allah senantiasa bekerja, berkarya, dan memberikan yang terbaik. –BER

SALAH SATU TOLOK UKUR PERTUMBUHAN ROHANI ADALAH

HIDUP YANG BERSYUKUR DALAM SEGALA SITUASI.

Dikutip : www.sabda.org

KASIH KARUNIA

Jumat, 7 September 2012

Bacaan : Roma 11:33-36

11:33. O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

11:34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?

11:35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?

11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

 

KASIH KARUNIA

Saat saya masih duduk di kelas 6 SD, saya memakai uang tabungan untuk membelikan ayah saya sebuah kado disaat beliau berulang tahun. Ayah tentu sangat senang menerimanya. Namun ketika Ayah melihat saya begitu berbangga hati karena telah membelikan sesuatu, sambil tersenyum beliau bertanya, “Dengan uang apa kamu membeli kado ini?” Saya pun menjawab, “Uang jajan.” Ayah bertanya lagi, “Siapa yang memberimu uang jajan?” Saya pun menjawab dengan tersipu, “Ayah.”

Kira-kira begitulah yang terjadi ketika kita melayani Tuhan. Tidak ada satu pun perbuatan baik kita yang dapat membuat Tuhan “berutang budi” kepada kita (ayat 35). Segala sesuatu yang kita miliki, baik itu talenta, uang, bahkan hidup kita, semuanya berasal dari Tuhan. Tuhan sendiri yang memampukan kita memakai semua itu bagi kemuliaan-Nya. Ayat-ayat yang kita baca adalah sebuah doksologi atau pujian yang menutup penjelasan Paulus tentang karya keselamatan yang begitu agung (pasal 1-11). Masalah pelik dosa telah diselesaikan oleh cara Allah yang tak terpikirkan dan tak terselami oleh manusia (ayat 33). Manusia tak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Jika manusia hidup dan memiliki ini itu, semua adalah kasih karunia semata.

Menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah kasih karunia Tuhan, bagaimanakah seharusnya kita mempergunakan apa yang telah Dia berikan itu? Talenta, waktu, kesehatan, uang, tempat tinggal, … segala sesuatu yang kita miliki. Dengan hati yang melimpah dengan ucapan syukur atas kasih karunia Tuhan, mari kita memikirkan bagaimana mempergunakan semua itu untuk kemuliaan-Nya. –VTA

SEGALA SESUATU YANG DARI TUHAN

SUDAH SELAYAKNYA DIGUNAKAN UNTUK MEMULIAKAN-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

MENDOAKAN PENGUASA

Jumat, 17 Agustus 2012

Bacaan : 1 Timotius 2:1-7

2:1. Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,

2:2 untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.

2:3 Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,

2:4 yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

2:5 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,

2:6 yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.

2:7 Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul–yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta–dan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran.

 

MENDOAKAN PENGUASA

Dua berita berlawanan di halaman koran yang sama: 1. Sejumlah warga mengelu-elukan presiden. 2. Para mahasiswa dan demonstran membakar foto presiden dan berikrar menggulingkannya. Itulah dua sikap rakyat terhadap pemimpin yang mereka dapati tak sempurna; yang buruk dalam mengelola negara. Sebagai warga negara sekaligus warga gereja, bagaimana sikap kita?

Paulus menasihatkan Timotius dan jemaat untuk mendoakan para penguasa agar mereka dimampukan untuk menciptakan situasi yang lebih baik bagi rakyat, kondusif bagi ibadah dan penyebarluasan berita keselamatan (ayat 2-4, 7). Dengan frase “pertama-tama” (ayat 1), Paulus memberi penekanan bahwa ini adalah sesuatu yang penting; perlu diberi prioritas. Mendoakan penguasa juga merupakan wujud pernyataan iman jemaat, bahwa mereka hanya menyembah satu Allah, yang menyatakan diri dalam Yesus Kristus (ayat 5-6), bukan kaisar Roma. Nasihat Paulus mengingatkan jemaat bahwa penguasa kejam yang tampak sangat berkuasa itu tetaplah makhluk ciptaan yang lemah dan perlu didoakan.

Kemajuan teknologi informasi kini memudahkan kita melaksanakan panggilan bersyafaat bagi para pejabat daerah, pemimpin nasional, bahkan pemimpin dunia. Mari gunakan mata iman dan mata hati ketika menonton atau membaca berita tentang para pemimpin -positif pun negatif. Merayakan kemerdekaan RI ke-67 hari ini, mari memulainya dengan pemerintah bangsa kita. –ICW

MENDUKUNG PEMIMPIN ADALAH PILIHAN WARGA NEGARA,

BERSYAFAAT UNTUK MEREKA ADALAH KEHARUSAN WARGA GEREJA.

Dikutip : www.sabda.org

TERSUNGKUR UNTUK BERSYUKUR

Rabu, 11 April 2012

Bacaan : Lukas 17:11-19

17:11. Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.

17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh

17:13 dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”

17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.

17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,

17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

17:17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?

17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”

17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

 

TERSUNGKUR UNTUK BERSYUKUR

Pengemis buta duduk di emper toko. Di sebelahnya ada papan bertuliskan, “Saya buta, kasihanilah saya”. Pria tua menghampirinya dan mengganti tulisan di papan, “Hari ini indah, sayangnya saya tak bisa melihatnya”. Tulisan di papan itu mengungkapkan hal yang sama, tetapi dengan cara berbeda. Yang pertama mengatakan bahwa pengemis itu buta; yang kedua mengatakan bahwa orang yang lalu-lalang sangat beruntung bisa melihat. Akhirnya, banyak orang memberi koin kepa-da pengemis itu setelah tulisannya diganti. Orang-orang itu bersyukur.

Bersyukur dan memuliakan Allah, itulah yang sedang diajarkan Yesus. Sepuluh orang sakit kusta memohon kesembuhan (ayat 13). Namun, Tuhan Yesus malah meminta mereka pergi memperlihatkan diri kepada imam (ayat 14). Dan, semua sembuh di tengah perjalanan. Adakah yang kembali kepada Dia? Ada! Namun, cuma satu-orang Samaria-yang kembali sambil memuliakan Allah dengan nyaring (ayat 15). Ia sujud; mengucap syukur di kaki Yesus, sebab ia bisa kembali menjalani kehidupan normal. Bagaimana dengan kesembilan orang lainnya? Datang kepada imam dan menunjukkan diri bahwa mereka tahir lebih penting daripada kembali dan bersyukur kepada Yesus.

Anugerah Allah yang “menyembuhkan” kita dari “penyakit” dosa dan maut semestinya mewujud dalam ucapan syukur. Mari melihat kembali isi doa kita. Dari sekian banyak doa permohonan, adakah ucapan syukur mengalir? Allah layak menerima syukur kita. Dia layak dimuliakan karena Pribadi-Nya dan karena apa yang telah Dia perbuat bagi kita. Selamat bersyukur! –ENO

SYUKUR MERUPAKAN PENGAKUAN BAHWA SEGALA YANG ADA

DAN TERJADI PADA KITA ADALAH BERKAT TUHAN.

Dikutip : www.sabda.org

 

ANAK ANGKAT

Minggu, 9 Oktober 2011 

Bacaan : Galatia 3:26-4:7 

3:26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.

4:7 Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

ANAK ANGKAT

Seorang ibu muda yang baru saja melahirkan berkunjung ke rumah orangtuanya. Dengan bangga ia menunjukkan bayinya kepada ibunya seraya berkata: “Ibu, bayiku sehat dan lucu. Namun ada yang agak aneh. Rambutnya hitam sekali, padahal aku dan suamiku berambut kemerahan.” Ibunya menjawab: “Kamu tak perlu heran, kan rambut ayahmu juga hitam.” Dengan cepat anak perempuannya menjawab: “Tapi Bu, itu tidak ada pengaruhnya. Bukankah aku adalah anak angkat?” Ibunya terhenyak lalu sambil tersenyum menjawab, “Ah, aku selalu lupa akan hal itu.”

Dalam kekristenan, kata “anak Allah” kerap kali dipakai dengan penuh kebanggaan. Akan tetapi, lambat laun pemahaman akan asal mula status tersebut kerap terlupakan. Kita lupa bahwa status anak Allah yang kita terima melalui iman tersebut adalah sebuah anugerah yang bermula dari penebusan Kristus (4:5). Dengan demikian, kita menjadi milik-Nya, didiami oleh Roh Allah, dan menjadi ahli waris-Nya. Ini semua membuktikan bahwa Dia mengasihi kita dengan sempurna kendati kita semula adalah “anak angkat”.

Dari pihak kita, adalah baik dan wajar untuk senantiasa mengingat asal muasal status kita. Menyadari bahwa status anak yang kita peroleh adalah karena kemurahan semata, itu akan menolong tata nilai dan perilaku kita. Kita akan senantiasa diingatkan untuk “tahu diri”, bersyukur, dan berupaya untuk hidup sepadan dengan kemurahan Allah tersebut. Apakah kita sedang terus memperjuangkan hidup yang menunjukkan ucapan syukur atas anugerah tersebut? Ataukah selama ini perilaku kita justru mencerminkan hidup yang tak tahu berterima kasih? –PBS

ANUGERAH YANG TAK TERUKUR

MEMBAWA KITA PADA HIDUP YANG PENUH UCAPAN SYUKUR

Dikutip : www.sabda.org

KEHABISAN BAHAN DOA

Jumat, 16 September 2011

Bacaan : Filipi 4:6-9 

4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu. 


KEHABISAN BAHAN DOA

Doa adalah napas hidup orang kristiani.” Saya setuju dengan pernyataan ini, tetapi sekaligus merasa bersalah karenanya. Bernapas mengacu pada aktivitas yang terus-menerus; dan tanpanya kita mati. Lantas bagaimana kehidupan doa saya? Jangankan terus-menerus, tak jarang ada hari-hari yang saya lewatkan tanpa berdoa. Saya jenuh dan merasa “kehabisan bahan”. Tampaknya, ada yang salah dengan kehidupan doa saya. Atau, mungkin ada yang salah dengan konsep doa saya.

Surat Paulus kepada jemaat di Filipi menawarkan jawaban. Dalam pasal 4, Paulus memaparkan “persediaan sumber daya” Kristus yang memadai bagi pelayanan kita. Kristus menyediakan damai sejahtera sebagai penangkis kecenderungan kita untuk khawatir (ayat 6-7). Ketika membacanya, kata “segala hal” berkata-kata dengan kuat kepada saya. Segala keinginan bahkan kekhawatiran tidak lain adalah bahan doa. Dalam keadaan apa pun, kita dapat menyatakannya kepada Tuhan, tanpa harus berlari ke kamar doa dulu. Bagaimana dengan keinginan yang egois? Ketika menyatakannya kepada Tuhan, kita merendahkan diri dan mempersilakan Dia memperbaiki dan mengarahkannya. Bagaimana dengan kekhawatiran?

Ketika kita menyerahkannya, Dia akan mengambilnya dan memberi kita damai sejahtera sebagai gantinya (ayat 7). Wah, kalau seperti ini, saya tak bakal kehabisan bahan doa: tiap hari saya punya segudang keinginan dan kekhawatiran!

Anda mungkin, mirip dengan saya, bergumul dalam kehidupan doa. Ungkapkan segala keinginan dan kekhawatiran Anda sebagai doa kepada Tuhan. Anda pun tak akan kehabisan bahan doa –ARS

BERDOA IALAH MENCURAHKAN ISI HATI KEPADA BAPA DAN SOBAT TERBAIK

MUNGKINKAH KITA KEHABISAN BAHAN DOA?

Dikutip : www.sabda.org