MEMINTA HIKMAT

Selasa, 29 Januari 2013

Bacaan: Yakobus 1:1-8

1:1. Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.

1:2. Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya.

1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

MEMINTA HIKMAT

Seorang pemain golf profesional baru saja membuat pukulan bagus. Sayang, bolanya masuk ke sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang dibuang sembarangan. Menurut peraturan, jika ia sengaja mengeluarkan bola itu, maka ia mendapat hukuman. Namun kalau ia memukul bola bersama kantong kertas itu, ia tidak mungkin bisa memukul dengan baik. Si pemain pun berpikir sejenak untuk mencari hikmat. Tak lama kemudian, ia mengambil korek dari sakunya dan membakar kantong kertas tadi. Sesudah itu, ia dapat memukul bola golf itu lagi dengan pukulan terbaiknya.

Di perjalanan hidup ini, kerap kita menjumpai peristiwa yang tak terduga dan belum pernah kita alami. Sebagian di antaranya bisa jadi berupa ujian yang berat (ayat 1-3)–baik dalam berkeluarga, dalam membesarkan anak, dalam bekerja, dalam bergaul, dalam melayani Tuhan, dan dalam banyak aspek lain lagi. Kita membutuhkan hikmat untuk menghadapinya. Namun, dalam kondisi sulit, wawasan dan pengalaman kita bisa terasa tak cukup. Sebagai anak Tuhan, di mana kita dapat memperoleh hikmat untuk dapat memilih sikap dan tindakan yang tepat?

Yakobus memberi kita kelegaan bahwa bila kita merasa kekurangan hikmat, kita boleh memintanya kepada Allah (ay. 5). Asal kita meminta dengan iman, Dia akan memberikan hikmat itu tanpa syarat. Dia akan memberi kita hikmat praktis untuk mengatasi kesulitan kita. Dia akan memberi kita hikmat untuk dapat melihat sebuah keadaan sebagaimana Allah melihat sehingga kita tahu bagaimana bersikap secara tepat bagi setiap pribadi dan dalam setiap situasi. –AW

LIHATLAH MASALAH DARI CARA ALLAH MELIHAT

 MAKA IA TAKKAN TAMPAK SESULIT KETIKA IA PERTAMA TERLIHAT

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

JANGAN KAGET!

Sabtu, 16 April 2011

Bacaan : 1 Petrus 4:12-19

12Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.

13Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

14Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.

15Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.

16Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

17Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?

18Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?

19Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.

JANGAN KAGET!

Berita-berita mengenai pembakaran gereja, penganiayaan orang kristiani, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, kerap membuat kita bertanya-tanya, “Mengapa ini harus terjadi? Bukankah kita melakukan hal yang baik? Bukankah kita melayani Tuhan? Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Apa salah kita?” Kita kaget, terkejut, bahkan mungkin meragukan Tuhan. “Tidakkah Tuhan sanggup melindungi anak-anak-Nya? Kalau Dia Mahakuasa, mengapa Dia membiarkan gereja-Nya dianiaya?”

Pertanyaan ini juga pernah muncul di gereja pada abad mula-mula. Namun dalam suratnya Petrus menegaskan bahwa kita tak perlu heran jika api siksaan datang (ayat 12). Kita juga tak perlu “gembar-gembor” sebab bagi orang percaya penderitaan bukan hal luar biasa (ayat 12). Sebaliknya, Petrus menasihati kita supaya bersukacita, bahkan berbahagia ketika menghadapi penderitaan (ayat 13, 14). Petrus, adalah orang yang sama yang pernah menegur Yesus ketika mengatakan bahwa Dia harus menderita (lihat Matius 16:21-23). Petrus yang dulu tidak setuju Mesias harus menderita, kini sadar bahwa penderitaan di dunia karena nama Kristus bukan hal yang hina atau memalukan. Malahan justru suatu kemuliaan (ayat 14, 16).

Ketika penderitaan atau aniaya kita alami, ada dua hal yang bisa kita lakukan. Pertama, berdoa dan bertanya pada Tuhan, apakah penderitaan ini terjadi karena kesalahan kita? (ayat 15). Kedua, jika kita tidak melakukan hal yang salah, tetapi kita menderita, maka kita jangan malu atau sedih. Sebaliknya, kita bisa memegang erat pengharapan dalam firman Tuhan bahwa kita patut berbahagia jika dihina karena Kristus, karena itu berarti Roh Allah menyertai kita –GS

KITA TIDAK MENGHARAPKAN PENDERITAAN

TETAPI JIKA KITA HARUS MENGHADAPINYA PERCAYALAH TUHAN SETIA

Dikutip dari : www.sabda.org

Berita-berita mengenai pembakaran gereja, penganiayaan orang kristiani, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, kerap membuat kita bertanya-tanya, “Mengapa ini harus terjadi? Bukankah kita melakukan hal yang baik? Bukankah kita melayani Tuhan? Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Apa salah kita?” Kita kaget, terkejut, bahkan mungkin meragukan Tuhan. “Tidakkah Tuhan sanggup melindungi anak-anak-Nya? Kalau Dia Mahakuasa, mengapa Dia membiarkan gereja-Nya dianiaya?”

Pertanyaan ini juga pernah muncul di gereja pada abad mula-mula. Namun dalam suratnya Petrus menegaskan bahwa kita tak perlu heran jika api siksaan datang (ayat 12). Kita juga tak perlu “gembar-gembor” sebab bagi orang percaya penderitaan bukan hal luar biasa (ayat 12). Sebaliknya, Petrus menasihati kita supaya bersukacita, bahkan berbahagia ketika menghadapi penderitaan (ayat 13, 14). Petrus, adalah orang yang sama yang pernah menegur Yesus ketika mengatakan bahwa Dia harus menderita (lihat Matius 16:21-23). Petrus yang dulu tidak setuju Mesias harus menderita, kini sadar bahwa penderitaan di dunia karena nama Kristus bukan hal yang hina atau memalukan. Malahan justru suatu kemuliaan (ayat 14, 16).

Ketika penderitaan atau aniaya kita alami, ada dua hal yang bisa kita lakukan. Pertama, berdoa dan bertanya pada Tuhan, apakah penderitaan ini terjadi karena kesalahan kita? (ayat 15). Kedua, jika kita tidak melakukan hal yang salah, tetapi kita menderita, maka kita jangan malu atau sedih. Sebaliknya, kita bisa memegang erat pengharapan dalam firman Tuhan bahwa kita patut berbahagia jika dihina karena Kristus, karena itu berarti Roh Allah menyertai kita –GS

KITA TIDAK MENGHARAPKAN PENDERITAAN

TETAPI JIKA KITA HARUS MENGHADAPINYA PERCAYALAH TUHAN SETIA

Dikutip dari : www.sabda.org

IKUT MENGEMBARA

Senin, 14 Desember 2009

Bacaan : Ulangan 1:34-40

1:34 “Ketika TUHAN mendengar gerutumu itu, Ia menjadi murka dan bersumpah:

1:35 Tidak seorangpun dari orang-orang ini, angkatan yang jahat ini, akan melihat negeri yang baik, yang dengan sumpah Kujanjikan untuk memberikannya kepada nenek moyangmu,

1:36 kecuali Kaleb bin Yefune. Dialah yang akan melihat negeri itu dan kepadanya dan kepada anak-anaknya akan Kuberikan negeri yang diinjaknya itu, karena dengan sepenuh hati ia mengikuti TUHAN.

1:37 Juga kepadaku TUHAN murka oleh karena kamu, dan Ia berfirman: Juga engkau tidak akan masuk ke sana.

1:38 Yosua bin Nun, pelayanmu, dialah yang akan masuk ke sana. Berilah kepadanya semangat, sebab dialah yang akan memimpin orang Israel sampai mereka memiliki negeri itu.

1:39 Dan anak-anakmu yang kecil, yang kamu katakan akan menjadi rampasan, dan anak-anakmu yang sekarang ini yang belum mengetahui tentang yang baik dan yang jahat, merekalah yang akan masuk ke sana dan kepada merekalah Aku akan memberikannya, dan merekalah yang akan memilikinya.

1:40 Tetapi kamu ini, baliklah, berangkatlah ke padang gurun, ke arah Laut Teberau.”

IKUT MENGEMBARA

Dua belas orang diutus untuk mengintai Kanaan. Sepuluh orang membawa kabar buruk yang menciutkan hati bangsa Israel. Dua orang, Yosua dan Kaleb, bersikap lain. Mereka percaya pada Tuhan yang berjanji akan menyerahkan tanah itu kepada Israel. Mereka yakin, Tuhan pasti memampukan bangsa itu menghadapi kesulitan yang menghadang. Namun, bangsa Israel tetap tidak mau percaya. Tuhan murka, sehingga bangsa itu harus mengembara selama empat puluh tahun di padang gurun.

Menariknya, Yosua dan Kaleb juga ikut menanggung konsekuensi tersebut. Mereka tidak diistimewakan dengan boleh memasuki Kanaan lebih awal. Mereka harus ikut mengembara bersama bangsa yang tegar tengkuk itu. Artinya, hari demi hari mereka juga harus mempertahankan iman di tengah orang-orang sebangsa yang tidak percaya. Selama empat puluh tahun!

Perjuangan yang berat, tetapi mereka berhasil melewatinya. Mereka akhirnya memasuki Kanaan bersama angkatan baru bangsa Israel. Hal ini menunjukkan bahwa mereka berpegang pada janji Tuhan dengan sepenuh hati. Pengembaraan itu bukan penghukuman bagi mereka, melainkan masa pemurnian iman.

Iman kepada Tuhan memang tidak selalu mendatangkan hasil secara langsung. Yang lebih sering terjadi, iman kita malah akan diuji lebih jauh melalui keadaan dan lingkungan yang tidak mendukung. Pengalaman Yosua dan Kaleb menunjukkan bahwa iman justru diperkuat dan dimurnikan oleh tantangan tersebut. Teladan mereka menggugah kita untuk tidak menjadi ciut hati dalam menghadapi ujian iman hari demi hari –ARS

IMAN YANG TIDAK TERUJI BUKANLAH IMAN YANG BERHARGA

Sumber : www.sabda.org

LEBIH BANYAK BERKAT LAGI

Jumat, 10 Juli 2009

Bacaan : 1Raja-raja 19:1-8

19:1. Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang,

19:2 maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.”

19:3 Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.

19:4 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

19:5 Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!”

19:6 Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.

19:7 Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.”

19:8 Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.

 

LEBIH BANYAK BERKAT LAGI

Ada sebuah dongeng tentang seorang raja yang ingin menguji rakyatnya. Ia meletakkan sebuah batu besar di tengah jalan. Orang pertama yang lewat, menggerutu lalu berbalik dari jalan itu. Orang kedua, mengeluh dan memilih mengitari batu. Sedang orang ketiga, ia berpikir sebentar lalu menyingkirkan batu besar itu agar tidak menjadi penghalang. Hasilnya, bukan saja tidak ada lagi penghalang di jalan tersebut, tetapi ternyata Raja telah menyediakan hadiah besar bagi siapa saja yang menggulingkan batu tersebut. Baca lebih lanjut