MEMBACA ADIKARYA

Jumat, 2 Maret 2012

Bacaan : Yesaya 6

6:1. Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.

6:2 Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.

6:3 Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”

6:4 Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap.

 

6:5. Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”

6:6 Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah.

6:7 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.”

6:8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”

 

6:9. Kemudian firman-Nya: “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan!

6:10 Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.”

6:11 Kemudian aku bertanya: “Sampai berapa lama, ya Tuhan?” Lalu jawab-Nya: “Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi.

6:12 TUHAN akan menyingkirkan manusia jauh-jauh, sehingga hampir seluruh negeri menjadi kosong.

6:13 Dan jika di situ masih tinggal sepersepuluh dari mereka, mereka harus sekali lagi ditimpa kebinasaan, namun keadaannya akan seperti pohon beringin dan pohon jawi-jawi yang tunggulnya tinggal berdiri pada waktu ditebang. Dan dari tunggul itulah akan keluar tunas yang kudus!”

 

MEMBACA ADIKARYA

 

Saya takjub ketika membaca Les Miserables karya Victor Hugo, salah satu novel terbaik sepanjang masa. Penggambaran watak tokohnya amat detail dan konfliknya begitu memikat. Pengalaman itu mengajarkan paling tidak dua hal. Pertama, kerendahan hati: kecil sekali kemungkinannya saya mampu menggarap karya seelok itu. Kedua, meningkatkan citarasa sastrawi, membuat saya ingin membaca lebih banyak adikarya lainnya.

Yesaya mengalami hal yang jauh lebih hebat dari membaca novel adikarya: ia memandang kemuliaan Tuhan! Dan, pengalaman dahsyat itu mengubah hidupnya secara radikal. Menyaksikan kemuliaan Tuhan Yang Mahakudus, segera ia tersadar akan kenajisannya sebagai makhluk berdosa (ayat 5). Syukurlah, kemuliaan Tuhan itu sekaligus menjadi jawaban bagi keberdosaannya: perjumpaan ilahi itu menyucikan dirinya (ayat 6-7). Berbekal pengudusan dan kerendahan hati, Yesaya pun siap menjadi utusan Tuhan (ayat 8), menjalankan amanat yang Dia berikan (ayat 9-13).

Bagaimana kita melawan dosa? Cobalah membaca satu atau beberapa ayat yang memaparkan kemuliaan Tuhan. Hapalkanlah. Renungkanlah. Yakinilah kebenarannya. Biarlah Firman itu memenuhi pikiran dan hati kita. Mintalah pertolongan Roh Kudus untuk mengingatnya kembali di tengah kesibukan sehari-hari dan memunculkan ide untuk menerapkannya. Firman itu akan meningkatkan citarasa rohani kita; menguatkan kita untuk menepiskan tipu daya dosa; membuat kita lebih merindukan kemuliaan Tuhan daripada kesenangan duniawi; kemudian, siap menjadi utusan-Nya. –ARS

PERJUMPAAN DENGAN KEMULIAAN TUHAN

MELEMAHKAN DAYA PIKAT DOSA DALAM HIDUP KITA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

Dalam Tujuan Allah

Shalom…salam miracle

Yesaya 49:15-16 “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” Sebelum dunia dan segalanya dijadikan, Tuhan sudah mempunyai rencana atas hidup kita. Bahkan sebelum dunia kita muncul di benak orang tua kita. Tuhan sudah mempunyai rencana atas hidup kita. Hal ini dinyatakan dalam keberadaan kita ada dalam tangan-Nya yang kuat. Tidak ada yang lahir di dunia ini karena ketidaksengajaan atau kebetulan, bahkan mereka yang lahir di luar nikah sekalipun, ada dalam kekuasaan Tuhan.

 

Yang perlu direnungkan bukan bagaimana proses dan kejadian kita dilahirkan, namun bagaimana kita dapat menyelesaikan kehidupan sekarang ini. Allah tidak menjadikan jemaat yang pasif dan tidak menghasilkan, tetapi untuk menjadi jemaat yang produktif yang mampu menghasilkan buah, tentunya dalam kehendak dan perkenanan Tuhan. Marilah kita menggunakan kesempatan kehidupan ini dengan sebaik mungkin sebagai orang-orang percaya kepada Tuhan, terlebih mampu menikmati kehidupan dalam kelimpahan yang dijanjikan Tuhan.

 

Dalam Yohanes 10:10 “…Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Dari hal itu maka bisa kita ketahui bahwa Allah mempunyai tujuan dalam kehidupan kita. Begitu pula dengan setan yang juga mempunyai tujuan selama di bumi ini? Kebanyakan anak-anak Tuhan datang ke Gereja karena kebiasaan, karena tugas dan kewajiban. Perlu diperhatikan bahwa Kekristenan bukan tugas, bukan hanya hari Minggu dengan ibadah-ibadah raya. Kekristenan adalah pola dan gaya hidup dalam keseharian kita, dan setiap saat berjalan bersama Kristus. Yesus datang ke dunia pun dengan tujuan, Dia datang tidak hanya sekedar melihat bumi, tetapi dengan suatu tujuan besar yang berkaitan dengan kehidupan kekal umat manusia.

 

Ada beberapa hal yang harus kita benahi ketika kita mengerti Yohanes 10:10 dan tidak menikmati kelimpahan sesuai dengan ayat yang dimaksud, yakni karena sikap kita yang kurang pas di hadapan Allah. Sebagai contoh, ketika kita tidak mendapatkan sesuatu tapi tidak seperti yang kita mau, maka kita sering mengomel, ngambek, kemudian marah-marah, dan selanjutnya. Kalau kita mau menikamti kehidupan dan melakukan yang terbaik, kita harus mengucap syukur kepada Tuhan. Sikap kita menentukan keberhasilan kita, atau seseorang bisa bahagia atau tidak tergantung dari sikap orang itu sendiri.

 

Efesus 2:10 “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalam-Nya.” Rasul Paulus mengajarkan bahwa ketika kita mengenal Kristus dan menjadi warga Kerajaan Allah, maka tujuan kita adalah untuk mencari tahu mengapa Allah menciptakan kita. Dalam 2 Timotius 1:9 berkata “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.” Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa sebelum zaman dimulai, atau sebelum bumi dijadikan, Tuhan sudah mempunyai rencana yang besar atas kehidupan kita. Kita dipanggil, kita menjadi orang pilihan, karena kita berharga dan bernilai di mata Tuhan. Mungkin ada orang tua yang mengatakan kepada anaknya tidak berguna, tapi Tuhan sangat memperhatikan setiap kita. Dia sangat mencintai kita, dan kita sangat berharga di mata-Nya bahkan disebut menjadi biji mata-Nya. Selain itu kita aman dalam perlindungan-Nya. Lebih berharga lagi Dia menyebut kita bukan hamba tetapi SAHABAT.

 

Mulai sekarang ini kenakanlah manusia barumu, memakai pikiran baru siapa kita di dalam Kristus. Jangan melihat diri kita sebagai orang yang tertolak dan tidak bisa diterima, dari keluarga yang tidak berharga, atau tidak ada yang mengasihi, itu semua bukan identias kita sekarang, mungkin identitas yang lama sebelum bertobat, ketika masih menjadi milik kegelapan, tetapi sekarang kita adalah anak Allah, dan dengan demikian kita akan lebih sering mengatakan kepada Tuhan “…TERIMA KASIH TUHAN…” sehingga dalam beraktifitas, ketika pergi beribadah ke gereja dan sebagainya dengan penuh kepercayaan diri sebab bersama dengan Allah. Kita adalah umat yang telah dipanggil, maksudnya dipanggil adalah dipisahkan hanya untuk Dia, dan kemudian Allah menguduskan kita. Ketika kita menerima panggilan Allah, maka kita akan berkata “INILAH AKU TUHAN, UTUSLAH AKU..” dan kita menjadi terang dan garam bagi dunia ini.

 

Di bulan Maret ini kiranya kita semakin mengerti tujuan dan rencana Allah dalah kehidupan jemaat Tuhan di Bethany GTM, dan dukung doa senantiasa buat pembangunan Gereja kita.

 

 

Tuhan Yesus memberkati.

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA