Edisi Natal 2009

PESAN GEMBALA

25 DESEMBER 2009

EDISI NATAL

Ada dua macam pandangan tentang sejarah. Yang pertama, sejarah sebagai lingkaran. Sejarah dipandang sebagai rentetan peristiwa yang berputar dan berulang kembali tanpa arah dan tujuan. Seperti perputaran matahari atau bulan, sejarah adalah perputaran peristiwa yang tak berujung pangkal. Sejarah adalah ibarat lingkaran yang tidak ada habis-habisnya. Apa yang dulu lenyap akan muncul lagi untuk kemudian lenyap lagi dan kemudian muncul lagi.

Yang kedua, sejarah sebagai garis lurus. Sejarah dipandang sebagai rentetan peristiwa yang berkaitan satu sama lain dan mempunyai satu arah dan suatu tujuan. Jadi, sejarah mempunyai makna. Sejarah adalah ibarat garis lurus yang terus memajang dan bahkan menanjak menuju masa depan.

Pandangan kedua inilah yang dikembangkan umat Israel sepanjang kitab Perjanjian Lama. Umat itu menghayati peristiwa demi peristiwa sebagai titik demi titik yang terus memajang dan membentuk garis lurus.

Penghayatan umat itu mulai timbul karena mereka menyaksikan dan mengalami perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah. Misalnya, pembebasan dari perbudakan di Mesir, penyebrangan di Laut Merah, perjanjian dengan Allah di Sinai dan puluhan peristiwa lainnya sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian. Umat mulai biasa berpikir, berorientasi dan berpengharapan mengarah ke masa depan.

Apa isi pengharapan itu? Datangnya Mesias, datangnya Kerajaan Allah. Pengharapan itu bukan timbul karena umat mencita-citakan sesuatu yang belum ada. Sebaiknya, pengharapan itu timbul karena umat sudah menyaksikan perbuatan Allah di masa lampau, dalam  hal ini, sepanjang perjalanan “exodus” ke tanah perjanjian.

Lalu terjadilah kelahiran Yesus. Kejadian ini adalah satu titik dan momen yang menentukan dalam garis sejarah. Yesus datang sebagai pewujud yang mula-mula dalam Kerajaan Allah yang dinantikan itu. Yesus berkata, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allaah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 4:18, 19). Sebab itu, kelahiran dan kedatangan Yesus membuka babak baru dalam garis sejarah. Sejarah memasuki babak di mana tanda-tanda Kerajaan Allah mulai ditampakkkan oleh Yesus. Tanda-tanda yang ditampakkan Yesus secara sempurna, yaitu keadaan baru di bumi ini dan dimana kedaulatan dan pemerintahan Allah ditaati manusia.

Mungkin Anda berkata, “Mengapa tidak langsung saja Yesus mendirikan Kerajaan Allah yang sempurna itu, dan mengapa masih banyak ketidakberesan di dunia padahal Yesus sudah datang?”

Baiklah pertanyaan Anda dijawab dengan satu contoh. Dalam Perang Dunia II seluruh daratan Eropa dikuasai Hilter. Pada suatu hari, tibalah saat yang menentukan. Pasukan sekutu mendarat untuk membebaskan Eropa. Hari itu disebut “D-Day” atau “Decision Day” atau Hari Penentuan. Tetapi D-day tidak berarti bahwa daratan Eropa langsung menjadi bebas. Sama sekali tidak. Yang terjadi adalah peningkatan dan percepatan pertempuran. D-Day malah menimbulkan pertempuran besar yang mengakibatkan banyak penderitaan. Pertempuran itulah yang kemudian membebaskan daratan Eropa. Akhirnya seluruh daratan Eropa bebas. Itulah yang disebut “V-Day” yaitu “Victory Day” atau Hari Kemenangan.

Natal adalah D-Day. Yesus datang dengan Injil yang membebaskan, yaitu berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaharuan yang tersedia bagi manusia (Markus 1:15), serta kebebasan, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan yang dikehendaki Allah untuk dunia (Lukas 4:18-21). Sesudah mengutip ayat-ayat itu, Tuhan Yesus menegaskan, “Pada hari ini genaplah nas ini…” (Lukas 4:21).

Lalu apa yang harus kita lakukan? Dalam perumpamaan di Matius 24 Yesus berkata,”Berjaga-jagalah kamu.” Ini bukan berarti menunggu atau meramalkan masa depan. Melainkan turut bekerja dengan Yesus menampakkan tanda-tanda Kerajaan Allah itu. Akan tibalah nanti suatu “V-Day”, dimana Allah sendiri akan menyempurnakan Kerajaan-Nya itu (Baca Wahyu 21).

Sekarang kita hidup dalam babak sejarah antara D-Day dan V-Day. Inilah babak peningkatan dan percepatan tugas. Babak untuk mendengarkan dan memperdengarkan Injil. Sekarang kita hidup di babak sejarah dimana, dalam garis lurus yang memanjang dan menanjak ke masa depan, kita diberi kesempatan menjadi “kawan sekerja Allah” (I Korintus 3:9). Dan Yesus berkata, “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang” (Matius 24:46)

Iklan