PELAYANAN YANG PENUH BUAH (4)

PESAN GEMBALA

30 AGUSTUS 2009

Edisi 89 Tahun 2

 

PELAYANAN YANG PENUH BUAH (4)

 

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat yang diberkati Tuhan, hari ini kita akan melanjutkan pembahasan minggu lalu dalam Injil Yohanes 4:1-42 ((baca terlebih dahulu ayat-ayat ini) dimana Tuhan Yesus bertemu dengan perempuan Samaria. Dalam pembacaan pasal 1 ini, ada banyak prinsip-prinsip yang dapat kita teladani ketika Yesus melayani perempuan Samaria tersebut.

  1. MEMPRIORITASKAN KEHENDAK ALLAH
  2. KASIHNYA YANG TULUS KEPADA ORANG BERDOSA
  3. MENARUH PERHATIAN KEPADA BANYAK ORANG DAN BERSOSIALISASI.
  4. MEMBANGUN FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENARIK PERHATIAN
  5. TIDAK MENGHAKIMI DAN MENGHUKUM ORANG

Wanita Samaria muncul sebagai figur orang yang berdosa. Namun Yesus tidak menunjukkan sikap yang angkuh atau menghakimi, Dia tidak memulainya dengan kecaman terhadap perkawinannya dengan banyak orang dan hubungan yang bebas dengan semua orang. Ini bukan berarti Dia menyetujui atau memaklumi cara hidup wanita ini. Tetapi dengan jelas menandakan bahwa Dia datang bukan untuk menghakimi wanita itu. Hal ini juga bisa kita temui dalam Yohanes 8:1-11. Ketika Yesus menorehkan jariNya di atas tanah untuk memenuhi permintaan orang-orang Farisi yang marah, karena mengharapkan Dia menghakimi wanita yang kedapatan berzinah, Dia dengan berani memihak wanita tersebut dengan menantang kelompok-kelompok agama yang marah dan meyakinkan wanita itu bahwa Dia tidak menghakiminya, tetapi menyarankan untuk segera pergi dan tidak melakukan dosa lagi. Dia datang (kedatangan yang pertama) untuk menyelamatkan mereka yang berdosa, tidak untuk menghakimi mereka dan kita perlu memiliki sikap yang sama.

 

6. SERING MEMBERIKAN PUJIAN KEPADA BEBERAPA ORANG

Ketika wanita tersebut mengaku bahwa ia “tidak memiliki suami” Yesus memuji perkataan wanita itu,”engkau telah mengatakan yang sebenarnya”. Dia juga menyatakan bahwa Dia mengetahui semua masa lalunya, tetapi Dia tidak menghakiminya melainkan memberikan pujian kepadanya supaya mengatakan hal yang sebenarnya. Pujian adalah kunci yang indah untuk membuka hati yang sangat keras. Banyak orang berdosa merasa dirinya selalu dihakimi dan merupakan surprise yang menyenangkan serta mengejutkan apabila seseorang memuji atau menghargai mereka karena sesuatu hal. Cara seperti ini melenyapkan kebencian dan membuka jalan untuk berdialog dan menuju kepada diskusi yang produktif. Ketika kita menginginkan suatu percakapan yang terbuka dengan seseorang, cobalah untuk menemukan gambaran tentang orang tersebut dan keberadaan mereka sehingga kita dapat secara khusus memberikan pujian. Karena begitu kompleksnya kehidupan mereka sehingga membuat hal ini sulit untuk diterapkan tetapi hampir semua orang pasti memiliki sesuatu yang dapat dipuji.

 

7. MENGGUNAKAN BAHASA YANG SEDERHANA

Ketika Yesus memulai percakapan dengan wanita itu, Dia menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana dan mudah untuk dimengerti. Ketika wanita itu memberikan air kepadaNya, Dia memulai pembicaraan tentang air kehidupan. Percakapan itu merupakan percakapan rohani yang pengertiannya sangat dalam. Yesus memiliki kemampuan untuk membicarakan masalah-masalah yang dalam dan membuatnya menjadi sangat sederhana (kebalikannya kita sering membuat masalah sederhana menjadi rumit). Kata-kata Yesus bersifat mengajar dan menyenangkan, pandanganNya selalu membangun. Sering Dia berhadapan dengan orang-orang dari kalangan bawah, tetapi tidak berusaha untuk memojokkan mereka. Ketika kita membicarakan tentang kasih Allah, gunakan bahasa-bahasa yang sederhana dan mudah dipahami… (BERSAMBUNG)

 

TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA… AMIEN.

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA 

Iklan

PELAYANAN YANG PENUH BUAH (1)

PESAN GEMBALA

9 AGUSTUS 2009

Edisi 86 Tahun 2

 

PELAYANAN YANG PENUH BUAH (1)

Shalom… Salam miracle…

Jemaat yang diberkati Tuhan, hari ini kita belajar dalam Injil Yohanes 4:1-42 (baca terlebih ayat-ayat ini), dimana Tuhan Yesus bertemu dengan wanita Samaria. Dalam pembacaan pasal 1 ini, ada banyak prinsip-prinsip yang dapat kita teladani ketika Yesus melayani perempuan Samaria tersebut.

 

  1. MEMPRIORITASKAN KEHENDAK ALLAH

Ketika Yohanes mengatakan kepada kita yang membaca kisah ini bahwa “Yesus harus melintasi daerah Samaria” (Yohanes 4:4). Apakah sebenarnya yang mendorong Dia untuk melakukan hal tersebut? Sebenarnya ada 2 jalan yang bisa Dia lewati untuk sampai ke daerah Galilea, yaitu rute yang melalui Samaria dan rute yang satunya adalah melewati Lembah Yordan. Meskipun jalan yang melalui Samaria merupakan rute alternatif atau suatu arah alternatif, tetapi rute ini jarang dilewati oleh orang-orang Yahudi, disebabkan  adanya pertentangan eksistensi antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Samaria dan secara keturunan kesukuan Yesus termasuk orang Yahudi, tetapi Yesus memilih rute ini. Hal ini bukan disebabkan karena jaraknya yang lebih pendek, atau lebih cepat sampai atau alasan-alasan lainnya, tetapi dikarenakan suara yang disampaikan secara pribadi dari Bapanya yang di Surga. Inilah yang dimaksud memprioritaskan kehendak Allah.

 

Allah mempunyai misi tersendiri supaya Yesus melakukan dan menggenapinya. Allah mengetahui di jalan tersebut ada hati yang lapar dan haus akan kebenaran Allah. Allah meletakkan suara tersebut di dalam hati Yesus yang akhirnya membawa Dia pada rute yang telah ditetapkan dan kepada suatu tempat pertemuan yang tepat, yaitu sumur Yakub.

 

Saudara, kita juga perlu memiliki kepekaan yang demikian dan kemampuan untuk dapat melihat serta menerjemahkan saran Allah di dalam roh kita. Ada banyak kesempatan bagi Allah untuk bersaksi dengan cara khusus tetapi Dia perlu mempunyai keyakinan bahwa kita tidak hanya mendengar tetapi juga menaati saran-saranNya.

 

Untuk menjamin bahwa kita memiliki kepercayaan kepada Allah kita perlu memprioritaskan kehendak-Nya dan menyerahkan terlebih dahulu di atas semua komitmen kita. Kita dapat melihat sikap seperti ini di dalam kehidupan Yesus bahkan sejak Ia berumur belasan tahun. Ia bertanya kepada Maria dan Yusuf “tidakkah engkau mengetahui bahwa Aku harus melakukan kehendak Bapa?” (Lukas 2:49). Di sini sangat terlihat walaupun Ia sangat menghormati orang tuanya di dunia dan di dalam asuhan mereka, Dia memberikan kehendak BapaNya yang di Sorga sebagai prioritas yang tertinggi.

 

Pada kesempatan lain Ia mengatakan “kesukaanKu adalah mengerjakan kehendak BapaKu yang di Sorga yang telah mengutus Aku”. Kita juga harus menjadi sumber kesukaan untuk menaati kehendak Bapa kita.  

 

  1. KASIHNYA YANG TULUS KEPADA ORANG BERDOSA

Pada ayat 4 Yesus mengatakan bahwa “harus pergi melalui Samaria”, hal ini dilakukan bukan karena kondisi geografis atau adanya pertentangan dengan yang lainnya, namun yang sebenarnya adalah Yesus sengaja ingin melewati Samaria untuk memberitakan kabar kesukaan kepada perempuan Samaria dan para tetangganya di Samaria.

 

KasihNya kepadanya (orang berdosa) yang membuat Yesus melakukan hal ini. Dia sangat dikenal sebagai “sahabat orang berdosa”. Sebutan tersebut tidak membuatNya risih atau terganggu. Karena orang-orang yang terhina itulah sehingga Dia mendatangiNya, seperti yang dilakukanNya ketika mendatangi perempuan Samaria. Dia tidak bermaksud menghakiminya, tetapi rindu untuk memberikan belas kasihan dengan tulus kepada mereka yang berdosa, bahkan memberikan pertolonganNya. Yang patut kita teladani adalah “melihat orang-orang berdosa dengan cara pandang Allah”. Sebagai orang Kristen kita harus hati-hati untuk tidak menganggap diri kita benar atau menganggap orang lain salah tanpa melibatkan Kristus……(BERSAMBUNG)

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati….Amien.

 

 

Gembala Sidang,

Pdt.Ir.Joko Susanto, MA