MITOS SEORANG PRIA

Selasa, 7 September 2010

Bacaan : Kejadian 2:18-25

2:18. TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

2:21. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

2:23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

2:25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

MITOS SEORANG PRIA

Pandangan orang secara umum terhadap pria adalah bahwa pria jauh lebih kuat dibanding wanita. Secara fisik bisa jadi begitu, walaupun tidak seratus persen benar. Saya pernah menjumpai wanita-wanita “perkasa” yang mampu mengangkat beban berat naik turun gunung dan masuk keluar desa tanpa alas kaki demi mencari penghasilan tambahan.

Firman Tuhan hari ini membukakan mata kita bahwa pandangan pria itu makhluk yang lebih kuat tidak selamanya benar-bahkan bisa jadi hanya sebuah mitos. Buktinya, tatkala Tuhan menciptakan seorang pria, Allah mengatakan bahwa tidak baik kalau pria seorang diri saja. Pria butuh seorang penolong, yaitu wanita. Ternyata Alkitab mencatat dengan jelas bahwa Allah menciptakan seorang pria bukan sebagai makhluk super yang bisa segalanya. Pria pun memiliki kelemahan, sehingga ia membutuhkan seorang penolong yang bernama wanita. Itu sudah ditetapkan oleh Allah sejak zaman penciptaan. Ini sebetulnya mempertegas apa yang ditulis dalam Kejadian 1: 27-28, bahwa pria dan wanita sama-sama diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Artinya di mata Allah, pria dan wanita memiliki kedudukan yang sejajar, hanya memang perannya saja yang berbeda.

Pandangan bahwa wanita lebih rendah dan pria lebih tinggi, seharusnya kita tinggalkan. Kita harus memandang baik pria maupun wanita sebagai makhluk ciptaan Allah yang sama-sama bernilai. Itu sebabnya pria dan wanita seharusnya bisa hidup berdampingan dan saling melengkapi. Tak ada pandangan meremehkan atau sikap merendahkan, melainkan keinginan untuk selalu saling menopang –RY

DI MATA ALLAH

PRIA DAN WANITA MEMILIKI NILAI YANG SAMA

Sumber : www.sabda.org

Iklan

RUMAH YANG BERSIH

Selasa, 22 Desember 2009

Bacaan : 2Raja-raja 4:1-7

4:1. Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”

4:2 Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”

4:3 Lalu berkatalah Elisa: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.

4:4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!”

4:5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang.

4:6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir.

4:7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.”

4:8. Pada suatu hari Elisa pergi ke Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mengundang dia makan. Dan seberapa kali ia dalam perjalanan, singgahlah ia ke sana untuk makan.

4:9 Berkatalah perempuan itu kepada suaminya: “Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus.

4:10 Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana.”

4:11 Pada suatu hari datanglah ia ke sana, lalu masuklah ia ke kamar atas itu dan tidur di situ.

4:12 Kemudian berkatalah ia kepada Gehazi, bujangnya: “Panggillah perempuan Sunem itu.” Lalu dipanggilnyalah perempuan itu dan dia berdiri di depan Gehazi.

4:13 Elisa telah berkata kepada Gehazi: “Cobalah katakan kepadanya: Sesungguhnya engkau telah sangat bersusah-susah seperti ini untuk kami. Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Adakah yang dapat kubicarakan tentang engkau kepada raja atau kepala tentara?” Jawab perempuan itu: “Aku ini tinggal di tengah-tengah kaumku!”

4:14 Kemudian berkatalah Elisa: “Apakah yang dapat kuperbuat baginya?” Jawab Gehazi: “Ah, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua.”

4:15 Lalu berkatalah Elisa: “Panggillah dia!” Dan sesudah dipanggilnya, berdirilah perempuan itu di pintu.

4:16 Berkatalah Elisa: “Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki.” Tetapi jawab perempuan itu: “Janganlah tuanku, ya abdi Allah, janganlah berdusta kepada hambamu ini!”

4:17 Mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan seorang anak laki-laki pada waktu seperti itu juga, pada tahun berikutnya, seperti yang dikatakan Elisa kepadanya.

RUMAH YANG BERSIH

Suatu kali saya menemukan kutipan indah berikut, “Andai rumah saya sangat bersih dan segala sesuatu tertata rapi, tetapi tak ada kasih di situ, maka saya adalah seorang pembantu, bukan ibu. Andai saya punya waktu untuk mengelap, mengepel, mendekorasi rumah dan seisinya, tetapi tak punya waktu untuk menunjukkan kasih, maka anak-anak hanya belajar tentang kebersihan, bukan kesalehan. Dulu saya pikir keberhasilan seorang ibu dilihat dari bagaimana ia menata rumah. Namun, kini saya tahu bahwa ukurannya adalah pada bagaimana anak-anak belajar tentang kasih.”

Semasa Elisa melayani, seorang janda meminta pertolongan kepadanya. Ia janda dari seorang nabi Allah, yang telah dibunuh kejam oleh Izebel. Ketika itu sangat sulit bagi seorang janda untuk mencari nafkah. Dan kini ia terdesak; terjerat utang yang besar (ayat 1). Namun, ia tak berbalik setia. Apalagi ia memiliki anak-anak. Ia ingin anak-anaknya melihat dan mengalami bahwa Allah mereka patut diandalkan. Maka, ia mencari Elisa sang hamba Allah. Ia dan anak-anaknya pun mendapatkan mukjizat. Dan itu menyelamatkan serta mengajarkan kebenaran penting pada anak-anaknya (ayat 5-7).

Bertumbuhnya seorang pribadi selalu ditopang oleh kehadiran dan dukungan seorang ibu, atau seorang lain yang berperan sebagai ibu baginya. Bagaimana berkata-kata, mengampuni sesama, berbagi serta menunjukkan kasih, juga memercayai Tuhan, kebanyakan dipelajari orang dari ibu. Maka, kiranya perhatian ibu bukan mengatur urusan rumah jasmani saja. Yang jauh lebih penting adalah menata fondasi hidup seorang anak, yang kelak bisa mengubah dunia dengan cara yang menyenangkan Allah –AW

RUMAH BERSIH TAK MENJAMIN HATI SEKETIKA BERSIH

NAMUN IBU PENUH KASIH TERUS MEMBENTUK HIDUP PENUH KASIH

Sumber : www.sabda.org

MITRA SEJAJAR

Selasa, 8 September 2009

Bacaan : Hakim 4:1-10

4:1. Setelah Ehud mati, orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN.

4:2 Lalu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan Yabin, raja Kanaan, yang memerintah di Hazor. Panglima tentaranya ialah Sisera yang diam di Haroset-Hagoyim.

4:3 Lalu orang Israel berseru kepada TUHAN, sebab Sisera mempunyai sembilan ratus kereta besi dan dua puluh tahun lamanya ia menindas orang Israel dengan keras.

 

4:4. Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel.

4:5 Ia biasa duduk di bawah pohon korma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim, dan orang Israel menghadap dia untuk berhakim kepadanya.

4:6 Ia menyuruh memanggil Barak bin Abinoam dari Kedesh di daerah Naftali, lalu berkata kepadanya: “Bukankah TUHAN, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dengan membawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama-sama dengan engkau,

4:7 dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu.”

4:8 Jawab Barak kepada Debora: “Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju.”

4:9 Kata Debora: “Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.” Lalu Debora bangun berdiri dan pergi bersama-sama dengan Barak ke Kedesh.

 

4:10. Barak mengerahkan suku Zebulon dan suku Naftali ke Kedesh, maka sepuluh ribu orang maju mengikuti dia; juga Debora maju bersama-sama dengan dia.

 

MITRA SEJAJAR

Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu. Namun, ada kala pria tak berdaya. Tekuk lutut di sudut kerling wanita.” Demikian petikan syair lagu lama berjudul Sabda Alam, ciptaan Ismail Marzuki. Ungkapan “wanita dijajah pria” dan “pria tekuk lutut di sudut kerling wanita”, menggambarkan seolah-olah pria dan wanita berhadapan sebagai lawan. Namun, harus diakui bahwa penggambaran seperti itulah yang kerap terjadi dalam kenyataan. Pria dan wanita tidak berdampingan sebagai mitra, tetapi sebagai pesaing; tidak saling mendukung, tetapi saling menundukkan; tidak saling melengkapi, tetapi saling mempreteli.

Hal ini jelas tidak sesuai dengan rencana Allah ketika menciptakan pria dan wanita. Di dalam Kejadian 1:27 dikatakan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Artinya, baik pria maupun wanita sama-sama segambar dengan Allah; keduanya sama penting di hadapan Allah. Sederajat. Sepadan.

Debora dan Barak memberi contoh yang sangat baik tentang makna kemitraan pria dan wanita. Mereka bahu-membahu memimpin umat Israel mengalahkan musuhnya. Kuncinya adalah merendahkan hati untuk menyadari dan mengakui, bahwa masing-masing, pria dan wanita, saling membutuhkan. Pria tidak lengkap tanpa wanita, wanita tidak lengkap tanpa pria. Begitu juga dalam keluarga. Suami dan istri sama-sama pentingnya. Kalau suami itu “kepala” keluarga, istri adalah “leher” keluarga. Dengan kesadaran dan pengakuan demikian, pria dan wanita bisa membangun relasi berdasarkan saling menghargai dan menghormati -AYA

KEMITRAAN PRIA DAN WANITA AKAN TERJALIN BAIK

KALAU MASING-MASING PUNYA RASA RESPEK DAN HORMAT

Sumber : www.sabda.org

ALLAH MENDESAIN

Selasa, 21 April 2009

Bacaan : Kejadian 2:18-23

2:18. TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

 

2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

 

2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

 

2:21. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

 

2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

 

2:23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”

 

ALLAH MENDESAIN

adam_evepreview

Dari sebuah e-mail saya membaca sebuah cerita imajinatif tentang bagaimana Tuhan menciptakan wanita. Dikatakan, karena wanita diciptakan dengan tugas spesial, maka ia harus punya kekuatan khusus. Begini spesifikasinya. “Ia bisa dicuci, tetapi bukan dari plastik. Ia punya 200 bagian bergerak yang berfungsi banyak. Bisa menyiapkan makanan. Bisa merangkul beberapa anak sekaligus. Bisa memeluk dan melegakan seseorang, baik karena terjatuh atau karena luka hati. Ia harus bisa menyembuhkan dirinya sendiri jika sakit, dan bisa bekerja hingga 18 jam sehari. Ia lembut di luar, tetapi sangat kuat di dalam.”

Saat Allah membentuk Adam, kata kerja yang dipakai sama dengan kata yang menunjuk pada bagaimana pembuat tembikar bekerja. Indah membayangkan Tuhan membentuk Adam dengan jari tangan-Nya seperti seorang pembuat tembikar membuat hasil karyanya. Tidak kalah indah ketika Allah membangun Hawa. Alkitab versi New American Standard Bible menggunakan kata mendesain. Artinya, merancang dengan saksama.

Di akhir e-mail tadi, ada satu peringatan penting. Yakni bahwa pemaparan tentang betapa spesialnya wanita dicipta, kerap tak disadari para wanita sendiri! Banyak wanita merasa tak bisa berbuat banyak, sehingga menarik diri untuk berperan. Padahal Allah menciptanya dengan segala kelengkapan, yang bahkan membuatnya sanggup menolong pria! Hari ini, biarlah para wanita bangkit untuk menjadi pribadi bermakna bagi setiap orang dalam hidupnya. Dan biarlah para pria bangkit untuk menghargai setiap wanita dalam hidupnya, sebab mereka pun istimewa di mata Allah! —AW

WANITA DICIPTAKAN KEDUA BUKAN UNTUK MENJADI NOMOR DUA

NAMUN KARENA
YANG PERTAMA PERLU KEHADIRAN YANG KEDUA

Sumber : http://www.sabda.org