PERSETERUAN

Selasa, 24 Januari 2012

Bacaan : Lukas 12:13-21

12:13. Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”

12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”

12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.

12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.

12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.

12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!

12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

PERSETERUAN

Kalau harta dan kuasa sudah menutupi mata hati, tetangga, teman, saudara biarpun seiman tidak ada artinya, toleransi di wilayah sempit tidak ada. Yang ada cuma menghasilkan uang sebanyak-banyaknya, sekalipun menyebabkan orang lain menderita, ” demikian seorang pembaca mengomentari berita KOMPAS 11 Agustus 2011 tentang pembangunan pelabuhan senilai 1, 1 miliar dolar di Kuwait yang memicu ketegangan dengan Irak. Maklum, wilayah perairan Irak menyempit dan situasi ekonomi dan perdagangan mereka pun bisa terjepit.

Perseteruan akibat harta, entah itu dalam lingkup antar negara, organisasi, atau anggota keluarga, bukanlah hal yang baru. Orang-orang pada zaman Yesus juga mengalaminya. Bacaan kita hari ini memuat salah satu kasus pertengkaran antar saudara akibat warisan. Tampaknya mereka sampai saling tidak bicara, hingga meminta Yesus menjadi pengantara mereka (ayat 13-14). Yesus memberi peringatan keras: hidupmu tidak tergantung pada kekayaanmu. Lewat perumpamaan yang tajam, Yesus menunjukkan betapa timbunan harta tak berdaya menolong ketika nyawa pemiliknya diambil Sang Pencipta pada saat yang tak terduga (ayat 20-21). Ketika bertemu Tuhan, baru ia menyadari kebodohannya menghabiskan hidup hanya untuk menumpuk harta!

Hati yang tamak akan harta tega berbuat apa saja dan mengorbankan siapa saja, termasuk anak, istri, saudara, orang tua, dan sahabat, demi memuaskan keinginannya. Parahnya lagi, Tuhan dilupakan. Mari memeriksa diri hari ini. Waspadalah jika kita mulai lebih mengasihi harta daripada Tuhan dan sesama –SST

CINTA HARTA MEMBAWA PERSETERUAN DAN KEBINASAAN

CINTA TUHAN MEMBAWA PENDAMAIAN DAN KEHIDUPAN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BUKAN TANDA JASA

Senin, 5 Desember 2011 

Bacaan : Keluaran 20:1-17 

20:1. Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

20:2 “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

20:6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

20:8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:

20:9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,

20:10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.

20:11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

20:12. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

20:13 Jangan membunuh.

20:14 Jangan berzinah.

20:15 Jangan mencuri.

20:16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

20:17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

BUKAN TANDA JASA

Perikop kali ini adalah tentang Sepuluh Perintah Allah yang menjadi kunci hukum Taurat. Ada banyak peringatan (delapan perintah diawali kata “Jangan”), satu pengingat (hukum tentang hari Sabat), dan satu lagi perintah (untuk menghormati ayah ibu). Dalam perkembangannya, kelompok Farisi membuatnya amat detail hingga mencapai 631 hukum. Sebaliknya, Yesus meringkaskannya menjadi padat dalam dua perintah saja: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

Tentu para penerima hukum tersebut (orang Israel dulu dan kita pada masa sekarang) diharapkan untuk memperhatikan dan melakukan perintah-perintah ini. Hasil yang diharapkan adalah kehidupan moral yang terjaga, serta kehidupan rohani yang murni dalam ketaatan kepada Allah. Ini tentu sangat positif. Namun, kita perlu menjaga diri agar tidak terjatuh pada kecenderungan hati yang merasa telah hidup dengan baik sehingga merasa layak mendapat “tanda jasa” dari-Nya.

Sejak awal, ketika hukum Taurat diberikan, Musa telah memberi peringatan kepada umat supaya waspada terhadap mentalitas batin yang merasa telah “berjasa” karena mematuhi perintah Tuhan. Sebaliknya, motivasi benar yang seharusnya kita miliki adalah bahwa kita mematuhi perintah-Nya karena menanggapi karya Allah: “Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (ayat 2). Karena itu, marilah kita membuka hati agar dapat melihat bahwa Allah lebih dulu berkarya luar biasa bagi diri kita. Serta, teruslah meyakini bahwa apa yang kita berikan kepada Allah adalah wujud ungkapan syukur atas kasih-Nya yang tiada terukur –DKL

BIARLAH SEGALA KETAATAN YANG KITA TUNJUKKAN

MERUPAKAN TANGGAPAN ATAS KASIH TUHAN YANG MENGAGUMKAN

Dikutip : www.sabda.org

UENAK TENAN

Rabu, 23 Juni 2010

Bacaan : Kejadian 3:1-6

3:1. Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,

3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

3:6. Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

UENAK TENAN

Kok bisa sih dia jatuh dalam dosa? Heran. Seharusnya kan dia bisa menahan diri terhadap godaan dosa itu. Apalagi dia orang kristiani yang rajin ke gereja, aktif pula dalam kegiatan-kegiatannya.” Kata-kata tersebut terkadang kita dengar atau kita lontarkan tatkala mendapati seorang kristiani jatuh dalam dosa. Padahal jawaban pertanyaan tersebut sebenarnya sederhana, yaitu karena dosa itu rasanya uenak tenan (enak sekali). Tidak ada dosa yang tidak enak; semuanya enak. Yang tidak enak adalah akibatnya.

Kita harus selalu ingat bahwa dosa selalu menggoda kita lewat wujud sesuatu yang tampak enak, indah, manis, lezat, mak nyus sehingga kita bisa tak tahan untuk mencobanya. Hawa digoda Iblis bukan hanya karena buah itu menarik warnanya, tetapi juga karena Iblis berkata bahwa buah itu dapat memberinya pengertian. Ini sangat menggiurkan bagi Hawa. Itulah sebabnya Hawa mengulurkan tangan dan sungguh-sungguh memakan buah terlarang tersebut. Inilah prinsip dosa; ia tidak akan hadir sebagai sesuatu yang mengerikan atau menjijikkan, sehingga kita mudah menghindarinya. Sebaliknya, ia akan menampakkan diri dalam bentuk yang menarik dan menggoda.

Mari perhatikan kondisi dunia saat ini. Apa saja yang ditawarkan oleh dosa dalam hal pornografi, perselingkuhan, narkoba, atau judi? Semuanya adalah hal-hal yang tampak nikmat dan menggiurkan, bukan? Itulah sebabnya Allah memperingatkan kita untuk selalu berhati-hati dan berjaga-jaga (Amsal 7:21, 1 Petrus 5:8). Yakni dengan selalu waspada dan sadar betapa pahit akibat dosa yang kita lakukan –RY

MANISNYA DOSA DAPAT KITA HINDARI

JIKA KITA MAMPU MELIHAT PAHITNYA AKIBAT DOSA

Sumber : www.sabda.org

CERITA BERSAMBUNG

Rabu, 16 Juni 2010

Bacaan : 1 Samuel 18:6-9

18:6. Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing;

18:7 dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.”

18:8 Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.”

18:9 Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

CERITA BERSAMBUNG

Pada masa kanak-kanak, saya berlangganan majalah Bobo si kelinci. Salah satu komik serial di dalamnya berkisah tentang Juwita dan Si Sirik. Juwita adalah gadis jelita yang baik budi. Namun, ia selalu diganggu oleh Si Sirik, nenek penyihir yang usil dan ada saja ulah tingkah jahatnya. Saya heran, pengarang komik itu tak pernah kehabisan cerita. Selalu ada cerita baru. Mengapa? Karena ada karakter Si Sirik. Sirik artinya iri atau dengki. Iri hati memang selalu punya 1.001 alasan untuk memusuhi orang lain. Selalu punya cerita untuk menjatuhkan sesama.

Cerita tentang hubungan antara Saul dan Daud dalam Alkitab sudah bukan rahasia lagi. Semula berlangsung baik, tetapi sampai di titik tertentu, hubungan itu berubah menjadi buruk. Dan itu berlangsung seterusnya hingga kematian Saul. Menjadi penuh ketegangan. Diwarnai dengan kebencian, pengejaran, serta niat untuk membinasakan dari pihak Saul. Lewat segala cara dan siasat. Tiada henti-hentinya. Sejak kapan perubahan itu terjadi? Sejak Saul mulai mendengki kepada Daud (ayat 9). Kedengkian memang induk dari segala kebencian dan kejahatan.

Kedengkian kerap kali tanpa sadar membentuk cara kita berpikir dan bertindak. Halus tak kentara, tetapi selalu “bicara”. Iri hati sering merasuk ke dalam dan merusak persaudaraan. Lihatlah kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Juga balada Kain dan Habel. Termasuk juga dalam persaudaraan kristiani. Itulah sebabnya Yakobus memperingatkan dalam suratnya, “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (Yakobus 3:16). Jadi, waspadalah! –PAD

KEBENCIAN MENJADI KISAH BERSAMBUNG

YANG TIADA HENTI

KARENA DIJALIN OLEH BENANG MERAH IRI HATI

Sumber : www.sabda.org

KEHIDUPAN YANG BAIK

Selasa, 10 November 2009

Bacaan : Lukas 12:13-21

12:13. Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”

12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”

12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.

12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.

12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.

12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!

12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

KEHIDUPAN YANG BAIK

Ketika menyusuri jalan raya di Houston, saya melewati papan iklan dengan tulisan besar berbunyi: “KEHIDUPAN YANG BAIK!” Saya tak sabar mendekatinya agar bisa membaca tulisan kecil yang menjelaskan bahwa maksud “kehidupan yang baik” adalah membeli rumah di tepi danau yang harganya mulai 300.000 dolar [kira-kira 2,7 miliar rupiah]. Saya lalu bertanya-tanya bagaimana seandainya yang tinggal di rumah-rumah itu adalah keluarga tidak bahagia, yang anak-anaknya tidak pernah bertemu orangtuanya, atau pasangan yang, meskipun tinggal di tepi danau, berharap agar mereka tidak hidup bersama.

Saya lalu teringat pada kisah dalam Lukas 12 tentang seorang lelaki yang meminta Yesus untuk memberi tahu saudaranya agar berbagi warisan dengannya. Sangat keliru jika ia meminta Yesus melakukan hal itu! Dia menjawab dengan peringatan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu” (ayat 15). Dia kemudian bercerita tentang seorang kaya raya yang menurut pandangan Allah adalah orang bodoh, bukan karena ia berhasil menjadi kaya, melainkan karena ia tidak kaya di hadapan Allah.

Kita akan hidup semakin baik jika kita semakin cepat menghilangkan anggapan bahwa semakin banyak kekayaan yang terkumpul berarti semakin damai, bahagia, dan puas. Dan, kita akan semakin mampu menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sudah lama dirindukan, yaitu “kehidupan baik” yang sejati, yang hanya bisa diberikan oleh Yesus –JMS

“KEHIDUPAN YANG BAIK” DITEMUKAN
DALAM KEKAYAAN DI HADAPAN ALLAH

Sumber : www.sabda.org

TIDAK CUKUP KUAT

Sabtu, 22 Agustus 2009

Bacaan : Zefanya 2:13-15

2:13 Ia akan mengacungkan tangan-Nya terhadap Utara, akan membinasakan Asyur, dan akan membuat Niniwe menjadi tempat yang sunyi sepi, kering seperti padang gurun.

2:14 Dan di tengah-tengahnya akan berbaring kawanan binatang, yakni segala macam binatang hutan; baik burung undan maupun burung bangau akan bermalam di hulu tiangnya; burung ponggok akan berbunyi di tingkap, burung gagak di ambang pintu: Pemapan dari kayu aras telah tersingkap!

2:15 Itulah kota yang beria-ria yang penduduknya begitu tenteram dan yang berkata dalam hatinya: “Hanya ada aku dan tidak ada yang lain!” Betapa dia sudah menjadi tempat yang tandus, tempat pembaringan bagi binatang-binatang liar. Setiap orang yang lewat dari padanya akan bersuit dan mengayun-ayunkan tangannya.

 

TIDAK CUKUP KUAT

Dalam film Kung Fu Panda, penjaga penjara tersinggung ketika utusan Master Shifu memintanya memperkuat penjagaan. Ia merasa penjaranya sudah sangat kuat: seribu penjaga, dan hanya satu tahanan, Tai Lung. Belum lagi sistem pengamanannya amat canggih. Namun, sebuah celah kecil yang luput dari perhatiannya berhasil dimanfaatkan Tai Lung untuk melepaskan diri dari belenggu. Dengan kelihaiannya, penjahat itu melumpuhkan penjaga satu per satu dan dengan kegesitannya ia berhasil mendobrak pintu penjara, lalu meloloskan diri.

Zefanya menubuatkan kehancuran Niniwe. Saat itu, menurut Life Application Study Bible, Niniwe merupakan pusat kebudayaan, teknologi, dan keelokan di Timur Dekat. Perpustakaan dan gedung-gedung megah menghiasi kota, sistem irigasi yang canggih mengairi perkebunan yang menghampar permai, perbentengannya diperkokoh dengan 1.500 menara. Kota itu beria-ria dan tenteram, sikap yang menggambarkan kepongahan dan kesembronoan, dilandasi oleh rasa aman yang palsu. Mirip dengan penjaga penjara tadi, ia merasa paling unggul, tiada tandingan, baik dalam kekayaan maupun kedigdayaan. Namun, sekitar sepuluh tahun setelah nubuatan ini, Niniwe benar-benar rata dengan tanah. Ia hancur karena kecongkakannya.

Nubuatan ini dapat mengingatkan kita agar waspada terhadap berbagai bentuk kesuksesan, seperti kekayaan, kepandaian, atau kekuasaan. Jangan sampai kita terlena, sehingga merasa bahwa diri kita paling unggul, tidak memerlukan Tuhan, dan merendahkan orang lain. Bukankah “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yakobus 4:6) -ARS

KESOMBONGAN BERKAWAN AKRAB DENGAN KECEROBOHAN:

IA MEMBUAT KITA LENGAH TERHADAP KELEMAHAN PRIBADI

Sumber : www.sabda.org