MISIONARIS DOMESTIK

Rabu, 3 November 2010

Bacaan : Roma 10:8-14

10:8 Tetapi apakah katanya? Ini: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan.

10:9 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

10:10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

10:11 Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.”

 

10:12. Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.

10:13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.

10:14 Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

MISIONARIS DOMESTIK

Penduduk Indonesia saat ini sudah melewati angka 230 juta jiwa. Seiring dengan itu, jumlah misionaris yang melayani di Indonesia juga bertambah. Mengapa? Sebab hati mereka gelisah melihat begitu banyaknya jiwa di Indonesia belum mendengar kabar baik tentang Kristus-yang menyelamatkan manusia yang tak berdaya menyelamatkan dirinya sendiri. Saking besarnya keinginan mereka untuk menyampaikan Injil, para misionaris rela bersusah-susah belajar bahasa Indonesia, memahami dan beradaptasi dengan budaya dan tradisi yang kental, bahkan harus hidup bersama suku-suku tertentu dalam waktu yang tidak singkat. Satu tujuan besar yang melandasi tekad mereka: agar semua mendengar Injil.

Ayat-ayat di bacaan kita mengingatkan bahwa Allah kita adalah Tuhan bagi semua orang yang mau berseru kepada-Nya (ayat 12). Bahwa setiap orang yang berseru kepada-Nya akan diselamatkan. Namun agar orang selamat, maka ia harus mendengar (ayat 14). Dan tak ada suara dari langit yang akan diperdengarkan, melainkan dari mulut-mulut orang percaya yang telah lebih dulu diselamatkan, seperti para misionaris itu, dan kita.

Sebagai orang Indonesia, kita tentu sudah sangat fasih memakai bahasa kita sendiri, serta sudah sangat paham adat dan budaya yang berlaku di daerah kita tinggal. Singkatnya, kita memiliki modal yang jauh lebih banyak dibandingkan para misionaris yang memberi diri itu. Akan tetapi, sudahkah kita menyampaikan kabar tentang Kristus pada orang-orang di sekitar kita tinggal? Sudahkah mereka mendengarnya dari kita? Tuhan menolong setiap hamba yang mau bekerja bagi-Nya –AW

KITA TURUT BERTANGGUNG JAWAB

ATAS KESELAMATAN MEREKA

KHUSUSNYA YANG BERBAHASA SAMA DENGAN KITA

Sumber : www.sabda.org

Iklan

BIASA BERBOHONG

Selasa, 28 September 2010

Bacaan : Yohanes 1:19-28

1:19. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?”

1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.”

1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!”

1:22 Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?”

1:23 Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”

1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.

1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?”

1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,

1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.”

1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

BIASA BERBOHONG

Profesor Bella DePaulo pernah mengadakan penelitian tentang kebohongan. Selama seminggu, ratusan orang diminta mencatat berapa kali mereka berbohong, kepada siapa saja, dan apa alasannya. Hasilnya mengejutkan. Tingkat kebohongan yang mereka lakukan rata-rata empat puluh persen. Alasan utama berbohong adalah untuk menjaga citra diri. Supaya di hadapan orang lain, mereka tampak lebih baik daripada kenyataan yang ada.

Orang yang bisa menerima diri tidak akan merasa perlu berbohong. Yohanes Pembaptis pernah tampil sebagai tokoh spiritual yang sangat berkharisma. Beberapa pejabat tinggi agama Yahudi datang kepadanya dan bertanya, “Siapakah engkau?” Ini kesempatan emas bagi Yohanes untuk berbohong dan membesarkan diri sendiri. Namun, dengan jujur ia menjawab: “Aku bukan Mesias.” Ketika disetarakan dengan Nabi Elia-nabi yang dianggap paling hebat, ia pun berkata, “Bukan.” Bahkan, ia menolak ketika dijuluki sebagai “nabi yang akan datang”. Dengan rendah hati, Yohanes berkata bahwa dirinya hanyalah “suara”. Corong. Seorang pelayan yang sedang mempersiapkan kedatangan Yesus, Mesias yang sesungguhnya.

Apakah Anda masih sering berbohong? Akar masalahnya bisa jadi karena Anda tidak bisa menerima diri apa adanya. Dan Anda ingin terlihat hebat di mata orang. Padahal, hidup dalam kebohongan itu sangat melelahkan. Penuh beban, karena Anda harus terus mengenakan topeng. Lebih baik belajar jujur seperti yang dilakukan oleh Yohanes. Niscaya Anda akan merasa bebas lepas; dan bersukacita menjadi diri sendiri –JTI

KEBOHONGAN MENJERAT DAN MELELAHKAN JIWA

KEJUJURAN MEMBEBASKAN DAN MENYEGARKAN JIWA

Sumber : www.sabda.org

ITULAH KEHIDUPAN

Senin, 3 Mei 2010

Bacaan : Matius 28:11-15

28:11. Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.

28:12 Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu

28:13 dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.

28:14 Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.”

28:15 Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.

ITULAH KEHIDUPAN

Sesudah kebangkitan-Nya, terdapat banyak kisah tentang penampakan Yesus kepada para murid. Semuanya bermaksud menegaskan sebuah kebenaran: Kristus sudah bangkit! Semuanya adalah cerita yang membawa berita kebenaran. Namun, di antara kisah-kisah penampakan di dalam Injil tersebut, Matius mencatat satu kisah dusta. Satu saja! Mengapa? Mengapa satu kisah dusta ini “menyelip” dan mengusik agungnya kesaksian tentang Yesus yang bangkit?

Pertama, “selipan” ini mau mengatakan bahwa serentak dengan berkumandangnya sebuah berita kebenaran, akan selalu ada suara yang melawannya. Suara yang menganggapnya sebagai kebohongan. Suara yang menentang dengan menciptakan dusta. Perkataan yang benar diputarbalikkan. Orang benar difitnah. Tindakan yang benar dipersalahkan. Apabila kita melihat atau mengalami hal demikian, tak usah heran. Yesus pun diperlakukan demikian. Itulah kehidupan.

Kedua, “selipan” ini mau mengingatkan bahwa suara kebenaran harus digemakan berulang kali hingga terserap sampai ke hati. Sebaliknya, sebuah dusta cukup dinyatakan satu kali untuk menyelewengkan kebenaran. Perlu empat puluh hari untuk menegaskan kebenaran kebangkitan Tuhan lewat penampakan dan pengajaran (Kisah Para Rasul 1:3). Sebaliknya, hanya perlu satu keputusan rapat Mahkamah Agama untuk menyiarkan kebohongan pencurian jasad-Nya. Kebaikan harus diajarkan berulang-ulang, sedangkan kejahatan cukup ditularkan sekali saja. Kebiasaan baik dibangun bertahun-tahun; kebiasaan buruk mengancamnya runtuh dalam sehari. Itulah kehidupan ini. –PAD

KEBENARAN HARUS DIIRINGI DENGAN PENDIDIKAN BERULANG KALI UNTUK MENANGKAL RACUN KEBOHONGAN YANG HANYA SEKALI

Sumber : www.sabda.org

DOA ANAK BANGSA

Kamis, 8 April 2010

Bacaan : Nehemia 1:1-11

1:1. Riwayat Nehemia bin Hakhalya. Pada bulan Kislew tahun kedua puluh, ketika aku ada di puri Susan,

1:2 datanglah Hanani, salah seorang dari saudara-saudaraku dengan beberapa orang dari Yehuda. Aku menanyakan mereka tentang orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem.

1:3 Kata mereka kepadaku: “Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar.”

1:4 Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit,

1:5. kataku: “Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya,

1:6 berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.

1:7 Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu.

1:8 Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa.

1:9 Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana.

1:10 Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat?

1:11 Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.” Ketika itu aku ini juru minuman raja.

DOA ANAK BANGSA

Teks Indonesia Raya karya W.R. Soepratman pertama kali dipublikasikan pada tahun 1928 oleh surat kabar Sin Po. Naskah aslinya terdiri dari tiga bait. Namun, kita biasa menyanyikan bait pertamanya saja yang menyorakkan kemerdekaan. Padahal bait kedua dan ketiga memiliki isi yang begitu penting bagi kelanjutan bangsa ini. Yakni mengajak seluruh masyarakat berdoa bagi Ibu Pertiwi. Berikut adalah cuplikan bait kedua:

Indonesia! Tanah yang mulia,
tanah kita yang kaya.
Di sanalah aku berada
untuk s\’lama-lamanya.
Indonesia, tanah pusaka,
pusaka kita semuanya.
Marilah kita berdoa, “Indonesia bahagia!”

Hari ini kita belajar dari Nehemia. Ketika ia mendengar berita tentang bangsanya yang porak poranda, ia segera berpuasa dan berdoa. Ia berkabung untuk bangsanya yang mengalami kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Ia pun mengakui dosa diri dan keluarganya, meski ia bukanlah penyebab kesukaran bangsanya. Nehemia adalah seorang pemimpin yang selalu berdoa. Ia mengenal Tuhan secara dekat. Pengenalan ini mendorongnya untuk berani berdoa bagi bangsanya. Ia pun setia menanti jawaban Tuhan.

Mari kita belajar menjadi Nehemia bagi bangsa ini. Bukan terus-menerus mengkritik, tetapi setia berdoa dan berpuasa bagi negeri ini. Mari kita sehati berdoa bagi Indonesia, karena negeri ini merdeka bukan karena kebetulan. Kita diselamatkan oleh Tuhan untuk menjadi para pendoa yang setia bagi Indonesia. Mari kita mulai dari gereja tempat kita beribadah dan melayani. Mari kita mulai sejak sekarang, tak ada kata tunda -BL

MARILAH KITA BERDOA, “INDONESIA BAHAGIA!”

Sumber : www.sabda.org

SELALU BARU

Selasa, 16 Februari 2010

Bacaan : Kisah 17:10-21

17:10. Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di situ pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi.

17:11 Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.

17:12 Banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani.

17:13 Tetapi ketika orang-orang Yahudi dari Tesalonika tahu, bahwa juga di Berea telah diberitakan firman Allah oleh Paulus, datang jugalah mereka ke sana menghasut dan menggelisahkan hati orang banyak.

17:14 Tetapi saudara-saudara menyuruh Paulus segera berangkat menuju ke pantai laut, tetapi Silas dan Timotius masih tinggal di Berea.

17:15 Orang-orang yang mengiringi Paulus menemaninya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya.

17:16. Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala.

17:17 Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.

17:18 Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: “Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?” Tetapi yang lain berkata: “Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing.” Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya.

17:19 Lalu mereka membawanya menghadap sidang Areopagus dan mengatakan: “Bolehkah kami tahu ajaran baru mana yang kauajarkan ini?

17:20 Sebab engkau memperdengarkan kepada kami perkara-perkara yang aneh. Karena itu kami ingin tahu, apakah artinya semua itu.”

17:21 Adapun orang-orang Atena dan orang-orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru.

SELALU BARU

Anda sempat terkena demam Facebook (Fb)? Melalui situs jaringan sosial ini, kita dapat saling berbagi informasi dan aktivitas dengan teman-teman kita melalui komentar, tulisan, foto, atau video. Para pengguna Fb rata-rata rajin memperbarui informasi tentang diri mereka, sehingga setiap kali menilik situs ini biasanya ada saja kabar yang baru. Unsur kebaruan ini berdaya pikat kuat sampai membuat sebagian orang ketagihan.

Seandainya penduduk Atena hidup pada zaman ini, kemungkinan besar mereka juga akan keranjingan Fb. Mereka selalu haus akan kebaruan dan senang bergunjing. Mereka tertarik pada ajaran Paulus bukan karena menganggapnya sebagai ajaran yang baik, melainkan sebagai “barang baru” yang asyik untuk dipergunjingkan — sampai mereka bosan, dan menemukan barang baru yang lain lagi.

Gaya hidup orang Atena itu nyatanya terus membuntuti kita sampai sekarang, termasuk dalam hal pemahaman Alkitab. Kita menyukai dan menginginkan topik khotbah atau ajaran yang baru. Kita juga sudah merasa puas dengan mendengarkan dan membicarakan firman Tuhan. Akibatnya, kita bisa tahu banyak hal seputar firman Tuhan, tetapi hanya secara dangkal.

Untuk menghindari sindrom orang Atena ini, kita dapat mengikuti jejak orang Berea (ayat 11). Mereka tidak begitu saja terpukau pada suatu ajaran baru, tetapi meneliti apakah hal itu benar-benar baik dan selaras dengan firman Tuhan. Kita juga bukan hanya menjadikan firman Tuhan sebagai bahan pembicaraan, melainkan menghayati dan mempraktikkannya dalam keseharian. Dengan demikian, pemahaman kita akan semakin kuat dan mendalam –ARS

JARAK ANTARA KEDANGKALAN DAN KEDALAMAN PEMAHAMAN

HANYA DAPAT DIJEMBATANI OLEH KETEKUNAN UNTUK BELAJAR

Sumber : www.sabda.org

MESIAS

PESAN GEMBALA

4 OKTOBER 2009

Edisi 94 Tahun 2

MESIAS

Shallom… Salam Miracle

Jemaat yang dikasihi Tuhan, kali ini kita belajar untuk mengerti tentang MESIAS.

Mesias memberikan terang dan harapan bagi umat manusia tentang masa depan yaitu kehidupan kekal. Mengapa bangsa Israel tidak bisa menerima Yesus sebagai Mesias? Hal ini dikarenakan bahwa pendapat mereka tentang Mesias adalah figure yang memberikan harapan di dunia ini dengan membebaskan negaranya, yang ketika itu adalah pembebasan dari penjajahan Romawi. Hal yang sama terjadi juga pada sebagian umat Kristen pengikut Nikolaus (jemaat Efesus), jemaat Tiatira, dan penganut kemakmuran yang menyatakan bahwa Mesias harus memberikan harapan di dunia sekarang yaitu hidup nyaman dengan fasilitas sorgawi.

Dalam 2 Yohanes 2:20-22 mengatakan demikian “Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya. Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran. Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.”

Saudara, antikristus itu sudah ada sejak zaman dahulu, Paulus menuliskan bahwa mereka memberitakan Injil untuk kepentingan diri sendiri, untuk perut merekam dengan maksud perselisihan dan iri hati, maksud tidak ikhlas yaitu hati tidak murni mencari dan mengejar upah (Filipi 1:14-17). Mereka para antikristus itu juga berasal dari orang-orang Kristen, dengan ciri-ciri tidak ada kesungguhan dalam mengikut Kristus dan penderitaanNya sebagai Kristus atau Mesias. Mereka menghina segala bentuk kesengsaraan dan penderitaan dan menganggap remeh sangkal diri dan pikul salib. Mereka itulah antikristus atau anti Mesias, mereka menganggap penderitaan akibat sangkal diri dan pikul salib adalah kebodohan.

1 Korintus 1:22-25,”… Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari manusia.”

Mesias bagi bangsa Yahudi adalah Mesias yang datang sebagai raja dengan kebesaran, kekuatan, perubahan hidup dan sebagainya. Pada saatnya nanti Yesus akan datang sebagai Kristus atau Mesias yang berkuasa, dan itulah Mesias yang datang kedua kalinya bagi umat Kristen. Yesus akan datang sebagai Mesias yang kedua kalinya sebagai raja, pemenang, pemerintah, penguasa, kuat dan memberi upah dan kententraman hidup dan para pengikutnya akan ikut memerintah.

Iblis memberikan penafsiran terbalik dengan pengertian kedatangan Mesias pertama dan kedua, sehingga membuat umat kristen mandul untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Mesias pertama membawa manusia untuk diselamatkan melalui penderitaan dan kesengsaraanNya, sehingga sebagai umat tebusan seharusnya bekerja bagi kerajaanNya dan berani menderita. Sedangkan Mesias yang datang kedua kalinya memberikan pemerintahan, upah bagi yang menderita dan berkorban oleh karena namaNya.Mesias atau Kristus atau AL MASIH adalah utusan yang diurapi dari tempat yang maha tinggi, suatu urapan yang berbentuk penderitaan, kesengsaraan, sangkal diri, dan pikul salib. Kristen adalah nama sebutan pengikut Kristus yang sengaja dipilih oleh para rasul dan muris Yesus Kristus. Hal ini untuk menekankan bahwa mereka percaya pada Yesus sebagai Kristus yang datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dengan cara menebusnya di kayu salib, sekaligus mereka siap menderita untuk Kristus. Filipi 3:19 “Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka adalah perut mereka, kemuliaan mereka adalah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.”

Mereka akan menterjemaahkan semua ayat menurut pandangan dan cara dunia memandang, sehingga mereka tidak memahami arti dan tujuan Mesias yang datang pertama ke dunia ini. Mesias mengajarkan ketaatan dan pengorbanan. Bagaimana bisa disebut taat, jikalau dalam hidupnya ada motivasi untuk supaya diberkati? Beribadah, berrdoa, memberikan persepuluhan dengan maksud mendapatkan berkat lebih?

Kesaksian tentang Mesias banyak dilakukan oleh para rasul, sehingga banyak orang yang menyerahkan diri dan menjadi Kristen. Para rasul mengajarkan banyak hal tentang Mesias dan kehidupan yang benar, sehingga banyak orang menjadi percaya. Jikalau seseorang mengerti dan tahu tentang Mesias dengan benar, otomatis cara hidupnya akan menjadi baik, ia selalu mengamalkan kebenaran dalam hidupnya.

(BERSAMBUNG)

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien.

Gembala Sidang,

Pdt.Ir. Joko Susanto, MA