MENYADARI KEHADIRAN TUHAN

Sabtu, 1 September 2012

Bacaan : Kejadian 28

28:1. Kemudian Ishak memanggil Yakub, lalu memberkati dia serta memesankan kepadanya, katanya: “Janganlah mengambil isteri dari perempuan Kanaan.

28:2 Bersiaplah, pergilah ke Padan-Aram, ke rumah Betuel, ayah ibumu, dan ambillah dari situ seorang isteri dari anak-anak Laban, saudara ibumu.

28:3 Moga-moga Allah Yang Mahakuasa memberkati engkau, membuat engkau beranak cucu dan membuat engkau menjadi banyak, sehingga engkau menjadi sekumpulan bangsa-bangsa.

28:4 Moga-moga Ia memberikan kepadamu berkat yang untuk Abraham, kepadamu serta kepada keturunanmu, sehingga engkau memiliki negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yang telah diberikan Allah kepada Abraham.”

28:5 Demikianlah Ishak melepas Yakub, lalu berangkatlah Yakub ke Padan-Aram, kepada Laban anak Betuel, orang Aram itu, saudara Ribka ibu Yakub dan Esau.

 

28:6. Ketika Esau melihat, bahwa Ishak telah memberkati Yakub dan melepasnya ke Padan-Aram untuk mengambil isteri dari situ–pada waktu ia memberkatinya ia telah memesankan kepada Yakub: “Janganlah ambil isteri dari antara perempuan Kanaan” —

28:7 dan bahwa Yakub mendengarkan perkataan ayah dan ibunya, dan pergi ke Padan-Aram,

28:8 maka Esaupun menyadari, bahwa perempuan Kanaan itu tidak disukai oleh Ishak, ayahnya.

28:9 Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi isterinya, di samping kedua isterinya yang telah ada. Mahalat adalah anak Ismael anak Abraham, adik Nebayot.

 

28:10. Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran.

28:11 Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu.

28:12 Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.

28:13 Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.

28:14 Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.

28:15 Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

 

28:16. Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.”

28:17 Ia takut dan berkata: “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.”

28:18 Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya.

28:19 Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus.

28:20 Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai,

28:21 sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku.

28:22 Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”

 

MENYADARI KEHADIRAN TUHAN

Suatu hari di sebuah tempat perbelanjaan, anak kami yang baru berusia empat tahun memisahkan diri dari kami. Beberapa saat kemudian kami mendengar suara tangisan kerasnya. Saya bergegas menuju sumber suara. “Kenapa menangis?” tanya saya. “Papa sama mama tidak ada. Saya cari-cari tidak ada, makanya saya menangis.” Ia tak menyadari bahwa kami ada di tempat yang sama; tak jauh darinya.

Yakub juga tidak menyadari betapa Allah hadir sangat dekat dengannya, sebelum ia mengalami peristiwa luar biasa dalam perjalanannya ke Padan- Aram (ayat 16). Mungkin ia terlalu larut dalam kesendiriannya. Ia tak lagi bisa menatap orang tuanya, terutama sang ibu yang selama ini dekat dengannya. Ia juga tak lagi bisa dekat-dekat dengan sang kakak yang menaruh dendam. Namun, dalam mimpi yang menakjubkan, Tuhan menyatakan bahwa Yakub tidak sendirian karena Tuhan menyertainya (ayat 12-15). Tuhan memperkenalkan pribadi-Nya kepada Yakub, dan memberikan janji berkat, serta penyertaan sebagaimana yang Dia berikan kepada para bapa leluhur Yakub (ayat 13-15). Betapa hal itu mengubah sikap Yakub (ayat 17-18). Ia menyebut tempat pertemuannya dengan Tuhan sebagai “pintu gerbang surga”, “rumah Allah”, atau Betel (Bait-El). Ia juga merespons perjumpaan itu dengan komitmen untuk selalu memberikan persembahan kepada Tuhan.

Dalam hal-hal apa kesadaran kita akan kehadiran Tuhan dan kuasa-Nya mengendur? Mintalah kepada Tuhan, supaya baik dalam susah dan senang, kesadaran akan hadirat-Nya tetap menyala dalam hati kita. Kesadaran itu akan membuat perbedaan besar dalam pilihan sikap hidup kita. –YKP

KEHADIRAN TUHAN TAK PERNAH UNDUR

 KESADARAN KITALAH YANG SERING MENGENDUR

Dikutip : www.sabda.org

 

 

Iklan

UNTUNG AKU INI KODOK

Sabtu, 21 Januari 2012

Bacaan : Kejadian 31:1-3

31:1. Kedengaranlah kepada Yakub anak-anak Laban berkata demikian: “Yakub telah mengambil segala harta milik ayah kita dan dari harta itulah ia membangun segala kekayaannya.”

31:2 Lagi kelihatan kepada Yakub dari muka Laban, bahwa Laban tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadanya.

31:3 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yakub: “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau.”

UNTUNG AKU INI KODOK

Si kodok, yang hidup di tepi kolam, terkadang tidur dengan perut keroncongan karena seharian tak ada serangga lewat. Ia iri pada ikan di kolam. Kerja mereka hanya berenang-renang, tetapi pemilik kolam pasti memberi makan setiap pagi dan petang. Ingin ia hidup seperti itu. Suatu siang, pemilik kolam datang, bukan untuk memberi makan, tetapi membawa jaring untuk menangkap ikan. “Malam ini kita pesta ikan panggang, ” katanya. Mendengarnya, si kodok tersadar, betapa beruntung ia karena dirinya seekor kodok.

Anak-anak Laban tampaknya juga dilanda rasa iri. Karena itu mereka mulai berbicara di belakang Yakub, menuduhnya mengambil harta milik ayah mereka (ayat 1). Maklum, Yakub yang tadinya tidak punya apa-apa, kini punya banyak kambing, domba, unta dan keledai (lihat pasal 30:43). Parahnya, Yakub dituduh “mengambil segala harta milik ayah” mereka. Segala? Bukankah sebagai anak-anak Laban, mereka memiliki bagian dari harta milik ayah mereka? Benarkah Yakub mengambil “segala” harta Laban? Membandingkan diri dengan orang lain, mereka mendapati diri mereka serba kekurangan.

Betapa malangnya! Iri hati bisa timbul ketika kita kehilangan rasa syukur atas apa yang Tuhan berikan. Kita mulai membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Kasih menjadi luntur, berganti rasa tidak aman dan curiga. Jika Anda mulai mengalaminya, waspadalah. Firman Tuhan mengingatkan kita, di mana ada iri hati di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (Lihat Yakobus 3:16). Naikkan dosis syukur dan kasih setiap hari, agar tak bisa tumbuh iri di hati –ARS

INGATKAN AKU AKAN KASIH-MU YANG MELIMPAH, TUHAN

DAN ANUGERAH-MU CUKUP BAGIKU SETIAP WAKTU

KADANG KEBENARAN SEPERTI OBAT YANG PERIH BAGI LUKA YANG MAU DISEMBUHKAN

Dikutip : www.sabda.org

GIZI BAGI JIWA

Selasa, 29 November 2011

Bacaan : Kejadian 46:28-30 

46:28. Yakub menyuruh Yehuda berjalan lebih dahulu mendapatkan Yusuf, supaya Yusuf datang ke Gosyen menemui ayahnya. Sementara itu sampailah mereka ke tanah Gosyen.

46:29 Lalu Yusuf memasang keretanya dan pergi ke Gosyen, mendapatkan Israel, ayahnya. Ketika ia bertemu dengan dia, dipeluknyalah leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya.

46:30 Berkatalah Israel kepada Yusuf: “Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup.”

GIZI BAGI JIWA

Harold Kushner, seorang rabi dan penulis termasyhur, pernah mengemukakan bahwa pada usia di atas lima puluh, biasanya manusia mempunyai satu kerinduan khusus, yakni kerinduan akan makna. Ia pun menanyai dirinya sendiri, “Apa arti dari semua yang kumiliki, apa arti hidupku?” Ia ingin mendapatkan arti hidup. Demikian pula kurang lebih perasaan Yakub dalam kisah yang kita baca hari ini.

Yakub telah begitu lama terpisah dengan Yusuf, anak kesayangannya. Bayangkan, 22 tahun! Dan, selama itu pula ia seolah-olah kehilangan makna hidup. Saat berjumpa lagi, pertemuan mereka begitu mengharukan! Yusuf memeluk leher ayahnya dan lama menangis di bahunya (ayat 29). Pertemuan itu menghadirkan keharuan memuncak, juga kelegaan yang mendalam bagi Yakub. Katanya, “Sekarang, bolehlah aku mati setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup …” (ayat 30). Kembali melihat Yusuf adalah hal yang menyempurnakan dan “memberi gizi” bagi jiwa Yakub pada masa tuanya.

Ada kalanya hidup seseorang begitu “pahit” sehingga ia melihat segala sesuatu dengan muram dan suram. Kehilangan, kerinduan akan sesuatu, harapan yang belum tercapai, masa lalu yang pedih, bisa menjadi musababnya. Dalam relasi dengan sesama, apakah kehadiran kita memberikan “nutrisi” atau “gizi” pada jiwa orang lain, sehingga hidup mereka kembali bermakna? Kita bisa memulainya, setidaknya dari lingkup terkecil, yakni keluarga. Hadirkan diri di situ. Berikan perhatian dan kasih yang nyata. Kita dapat menjadi penguat bagi mereka, agar tegar menghadapi serta mengelola segala kepahitan hidup yang mungkin menghampiri –DKL

JADILAH PRIBADI YANG SELALU SIAP MEMBERI MAKNA

KHUSUSNYA AGAR ORANG LAIN MERASAKAN HIDUPNYA BERHARGA

Dikutip : www.sabda.org


KEBABLASAN

Senin, 28 November 2011

Bacaan : Maleakhi 1:1-7; 2:17 

1:1. Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi.

1:2 “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” “Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub,

1:3 tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun.”

1:4 Apabila Edom berkata: “Kami telah hancur, tetapi kami akan membangun kembali reruntuhan itu,” maka beginilah firman TUHAN semesta alam: “Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya; dan orang akan menyebutkannya daerah kefasikan dan bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai selama-lamanya.”

1:5 Matamu akan melihat dan kamu sendiri akan berkata: “TUHAN maha besar sampai di luar daerah Israel.”

1:6. Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?”

1:7 Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” Dengan cara menyangka: “Meja TUHAN boleh dihinakan!”

KEBABLASAN

Harold Kushner, seorang rabi dan penulis termasyhur, pernah mengemukakan bahwa pada usia di atas lima puluh, biasanya manusia mempunyai satu kerinduan khusus, yakni kerinduan akan makna. Ia pun menanyai dirinya sendiri, “Apa arti dari semua yang kumiliki, apa arti hidupku?” Ia ingin mendapatkan arti hidup. Demikian pula kurang lebih perasaan Yakub dalam kisah yang kita baca hari ini.

Yakub telah begitu lama terpisah dengan Yusuf, anak kesayangannya. Bayangkan, 22 tahun! Dan, selama itu pula ia seolah-olah kehilangan makna hidup. Saat berjumpa lagi, pertemuan mereka begitu mengharukan! Yusuf memeluk leher ayahnya dan lama menangis di bahunya (ayat 29). Pertemuan itu menghadirkan keharuan memuncak, juga kelegaan yang mendalam bagi Yakub. Katanya, “Sekarang, bolehlah aku mati setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup …” (ayat 30). Kembali melihat Yusuf adalah hal yang menyempurnakan dan “memberi gizi” bagi jiwa Yakub pada masa tuanya.

Ada kalanya hidup seseorang begitu “pahit” sehingga ia melihat segala sesuatu dengan muram dan suram. Kehilangan, kerinduan akan sesuatu, harapan yang belum tercapai, masa lalu yang pedih, bisa menjadi musababnya. Dalam relasi dengan sesama, apakah kehadiran kita memberikan “nutrisi” atau “gizi” pada jiwa orang lain, sehingga hidup mereka kembali bermakna? Kita bisa memulainya, setidaknya dari lingkup terkecil, yakni keluarga. Hadirkan diri di situ. Berikan perhatian dan kasih yang nyata. Kita dapat menjadi penguat bagi mereka, agar tegar menghadapi serta mengelola segala kepahitan hidup yang mungkin menghampiri –DKL

JIKA PEKERJA DI BALIK LAYAR MELAKUKAN PERAN TERBAIKNYA

MAKA SEBUAH KARYA AKAN MENCAPAI PRESTASINYA

Dikutip : www.sabda.org


RASAKAN BEDANYA!

Sabtu, 29 Januari 2011

Bacaan : Kejadian 29:18-20

18Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: “Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu.”

19Sahut Laban: “Lebih baiklah ia kuberikan kepadamu dari pada kepada orang lain; maka tinggallah padaku.”

20Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.

RASAKAN BEDANYA!

Anak lelaki kurus itu berjalan sambil menggendong adiknya yang lumpuh di punggungnya. Melihatnya, seseorang berkomentar prihatin, “Kasihan kau, Nak. Bebanmu pasti berat.” Lalu terdengar jawaban spontan, “Pak, ia bukan beban, ia saudaraku”. Itulah ilustrasi di balik lirik lagu pop balada karangan Bobby Scott dan Bob Russel, He Ain’t Heavy, He’s My Brother. Satu perbuatan yang dipandang beban oleh seseorang, nyatanya tidak bagi yang lain. Tergantung alasan ia melakukannya. Jika ia melakukannya karena rasa cinta, pasti akan berbeda.

Hati Yakub sedang digetarkan oleh cinta yang besar kepada Rahel. Demi cintanya, ia bersedia mengabdi kepada Laban tujuh tahun penuh, sebelum meminang Rahel. Jadi, ia tidak asal bekerja. Ia tidak bekerja keras demi harta. Namun, demi dan karena cinta. Ia bekerja dengan hati penuh cinta. Itulah yang memberinya tekad, semangat, kekuatan, ketekunan. Lalu apa hasilnya? “Tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel” (ayat 20). Sangat berbeda, bukan?

Apakah kekuatan terbesar di hidup ini? Jawabnya: cinta yang bersumber dari Tuhan. Banyak hal yang tampak menjengkelkan, melelahkan, dihindari orang, dapat dilakukan dengan setia oleh pelakunya. Mengapa? Karena cinta membuat mereka punya cara pandang lain. Merawat luka berbau, seperti dilakukan para misionaris “Cinta Kasih” yang dipimpin Ibu Teresa. Merawat suami yang sakit. Mendampingi anak belajar meski lelah. Mengantar nenek berobat rutin. Memasak untuk orang banyak di gereja. Semua akan terasa berbeda jika dilakukan karena dan dengan cinta –PAD

COBALAH MELAKUKAN SESUATU KARENA DAN DENGAN CINTA

LALU, RASAKAN BEDANYA

Sumber : www.sabda.org

GRUSA-GRUSU

Jumat, 13 Agustus 2010

Bacaan : Kejadian 25:29-34, 28:6-9

25:29. Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang.

25:30 Kata Esau kepada Yakub: “Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah.” Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom.

25:31 Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.”

25:32 Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”

25:33 Kata Yakub: “Bersumpahlah dahulu kepadaku.” Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya.

25:34 Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.

28:6. Ketika Esau melihat, bahwa Ishak telah memberkati Yakub dan melepasnya ke Padan-Aram untuk mengambil isteri dari situ–pada waktu ia memberkatinya ia telah memesankan kepada Yakub: “Janganlah ambil isteri dari antara perempuan Kanaan” —

28:7 dan bahwa Yakub mendengarkan perkataan ayah dan ibunya, dan pergi ke Padan-Aram,

28:8 maka Esaupun menyadari, bahwa perempuan Kanaan itu tidak disukai oleh Ishak, ayahnya.

28:9 Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi isterinya, di samping kedua isterinya yang telah ada. Mahalat adalah anak Ismael anak Abraham, adik Nebayot.

GRUSA-GRUSU

Grusa-grusu adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menjelaskan sikap seseorang yang serba terburu-buru dan tidak berpikir panjang dalam menyikapi sesuatu. Akibatnya, orang yang demikian kerap kali mengambil keputusan yang tidak bijaksana. Dan akhirnya, ia harus menuai masalah di kemudian hari karena keputusan tersebut.

Esau adalah seorang tokoh di Alkitab yang tercatat kerap bertindak grusa-grusu. Dalam dua bagian bacaan hari ini, kita temukan setidaknya dua tindakannya yang demikian. Pertama, tindakannya menjual hak kesulungan demi roti dan masakan kacang merah karena ia sangat lapar. Kedua, tindakannya yang grusa-grusu mengambil istri-perempuan yang tidak diperkenan orangtuanya. Akibatnya, Esau menghadapi banyak masalah dengan orangtuanya; ia meremehkan dan mencampakkan arti pentingnya berkat Allah atas hak kesulungan. Dan, bangsa Edom, keturunannya, juga terkena dampaknya.

Ada banyak sebab seseorang bertindak grusa-grusu. Bisa karena dikuasai nafsu seperti Esau, panik, percaya diri secara berlebihan, dan sebagainya. Adalah penting untuk tetap menjaga diri tidak bertindak ceroboh dalam situasi-situasi tersebut. Caranya bisa dengan menahan diri untuk tidak segera mengambil keputusan. Sebaliknya, berusaha mencari pendapat dari orang lain terlebih dahulu, terutama orang yang bersikap kritis terhadap kehidupan kita-orang-orang yang tidak segan menegur atau menasihati kita. Sebab masukan mereka sangat menolong kita melihat aspek-aspek yang sebelumnya tidak bisa kita lihat. Dengan perspektif baru ini kita dapat mengambil keputusan untuk bertindak lebih bijaksana –ALS

AMBILLAH SETIAP KEPUTUSAN

TIDAK DENGAN GRUSA-GRUSU

TETAPI DENGAN PENUH PERTIMBANGAN MATANG

Sumber : www.sabda.org

DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

Sabtu, 20 Maret 2010

Bacaan : Kejadian 27:30-36

27:30. Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu.

27:31 Ia juga menyediakan makanan yang enak, lalu membawanya kepada ayahnya. Katanya kepada ayahnya: “Bapa, bangunlah dan makan daging buruan masakan anakmu, agar engkau memberkati aku.”

27:32 Tetapi kata Ishak, ayahnya, kepadanya: “Siapakah engkau ini?” Sahutnya: “Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau.”

27:33 Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: “Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati.”

27:34 Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: “Berkatilah aku ini juga, ya bapa!”

27:35 Jawab ayahnya: “Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu.”

27:36 Kata Esau: “Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.” Lalu katanya: “Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?”

DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

Penipu dan pengecut. Awalnya, Yakub jelas bukan tokoh Alkitab favorit saya. Akan tetapi, ternyata ia mengajarkan saya sebuah filosofi hidup yang penting: setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang akan kembali pada kita; entah perbuatan baik, atau pun perbuatan buruk. Dalam kalimat yang lain, seperti yang dikatakan Paulus, “Apa yang ditabur, itu juga yang dituai.”

Pengalaman hidup Yakub menunjukkan “hukum” tersebut. Pada masa muda, Yakub menipu ayahnya, Ishak, dan kakaknya, Esau. Ternyata kemudian, ketika ia melarikan diri dari rumahnya, ia ditipu pamannya, Laban (Kejadian 29:1-30). Dan bahkan di saat usianya telah beranjak tua, ia ditipu pula oleh anak-anaknya (Kejadian 37: 31-35).

Maka betapa pentingnya kita menjaga sikap dan perilaku kita sendiri. Di kemudian hari, pada masa Perjanjian Baru, Tuhan Yesus berulang kali menekankan pentingnya memulai perbuatan baik dari diri sendiri. Misalnya, jangan menghakimi kalau tidak mau dihakimi dengan takaran yang sama. Salah satu yang paling terkenal tentu ucapan-Nya dalam doa Bapa Kami: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Kerap kali kita frustasi ketika berada dalam situasi yang kurang baik. Acap kali kita pusing berputar-putar mencari solusi atas permasalahan yang menghadang. Tetapi barangkali kita lupa bahwa kunci terpentingnya ada dalam diri kita sendiri. Seperti yang sering dikatakan oleh orang bijak: jika kita ingin membuat dunia menjadi lebih baik, ubahlah diri kita sendiri dulu-OLV

BILA SEGALA SESUATU AKHIRNYA KEMBALI KEPADA KITA

APAKAH YANG AKAN KITA GEMAKAN?

Sumber : http://www.sabda.org