Keong Mas

Jumat, 28 November 2008

Bacaan : Lukas 19:1-10

19:1. Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.

 

19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

 

19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

 

19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

 

19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

 

19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

 

19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

 

19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

 

19:9 Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.

 

19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

 

Keong Mas

keong-masKeong mas adalah salah satu jenis hama padi yang sering merugikan para petani di Indonesia. Tak heran binatang ini dibenci banyak orang. Namun ternyata jika diolah dengan benar, keong mas punya potensi untuk diubah dari hama yang merugikan menjadi bahan makanan berprotein tinggi.

Hampir seperti keong mas yang dibenci para petani, Zakheus adalah seseorang yang tidak disukai masyarakat. Ia dianggap telah merugikan masyarakat dengan cukai yang ia tarik. Tak heran orang-orang menjauhi Zakheus, bahkan mengecapnya sebagai seorang pendosa (ayat 7). Akan tetapi bagi Yesus, Zakheus adalah seseorang yang berpotensi untuk menjadi berkat bagi banyak orang jika “diolah” dengan benar. Karena itu Dia menyempatkan diri untuk mengunjungi Zakheus (ayat 5). Dan sentuhan Yesus ini berhasil mengubah Zakheus secara drastis, sehingga ia berubah menjadi berkat bagi masyarakat (ayat 8).

Dalam bergereja dan bermasyarakat, terkadang ada orang-orang yang seperti Zakheus. Sebetulnya mungkin mereka tidak pernah bermusuhan secara pribadi dengan kita. Hanya, cara hidup, cara berpikir, tingkah laku, karakter, atau sifat mereka sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Jadi terkesan nyentrik dan menjengkelkan.

Namun, acap kali orang-orang semacam ini memiliki potensi istimewa untuk menjadi berkat seperti Zakheus. Sebagai sesama mereka, yang perlu kita lakukan adalah melihat potensi itu dan menolong mereka untuk memunculkannya. Dan akhirnya, membimbing mereka untuk bertemu dengan Allah, yang berkuasa mengubahkan hidup -ALS

Iklan