ADA POHON ARA

Rabu, 2 Januari 2013

Bacaan: Lukas 19:1-10

19:1. Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.

19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

19:9 Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.

19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

ADA POHON ARA

Orang banyak berdesak-desakan menjejali jalan itu. Zakeus, karena tubuhnya pendek, tidak bisa menembus kerumunan orang tersebut. Pandangannya teralang. Tapi ia sangat ingin melihat Yesus. Ia tidak putus asa; segera ia mencari cara lain. Ternyata di dekatnya ada sebatang pohon ara. Segera ia memanjatnya, agar sewaktu Yesus lewat, ia dapat melihat-Nya dari ketinggian. Dan… berhasil! Bukan hanya melihat Yesus, tetapi Yesus bahkan memanggilnya dan menumpang di rumahnya (ay. 5). Itulah awal perubahan dalam kehidupan Zakeus.

Mungkin pada tahun lalu kita menghadapi jalan buntu atau kegagalan dalam hidup. Hal itu membuat kita cenderung takut untuk merencanakan sesuatu pada tahun baru ini. Takut gagal lagi. Kita lebih banyak merenungi pintu yang tertutup daripada memikirkan jalan keluar. Kita tidak melihat pohon ara yang bisa kita panjat. Kita mulai putus asa dengan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak melangkah ke mana-mana, hanya diam di tempat, dan akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

Dari Zakeus, kita dapat belajar untuk tidak berputus asa apa pun kondisi yang ada. Kita perlu meneguhkan keinginan untuk mengupayakan yang terbaik dalam hidup ini. Mengapa kita tidak mulai melihat peluang di sekeliling kita? Kadang hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan, itu yang akan mengubah atau membawa kehidupan kita menjadi lebih baik. Bawalah setiap pergumulan dan rencana kita tahun ini kepada Tuhan dan biarlah Dia memampukan kita menyelesaikannya. Masih ada pohon ara yang dapat kita panjat tahun ini. –IST

JANGAN HANYA TERFOKUS PADA PINTU YANG TERTUTUP.

 LIHATLAH, MASIH ADA JENDELA YANG TERBUKA!

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

KARENA IMAN

Selasa, 4 Oktober 2011

Bacaan : Yosua 6:2-5 

6:2 Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.

6:3 Haruslah kamu mengelilingi kota itu, yakni semua prajurit harus mengedari kota itu sekali saja; demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya,

6:4 dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harus mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala.

6:5 Apabila sangkakala tanduk domba itu panjang bunyinya dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu, maka haruslah seluruh bangsa bersorak dengan sorak yang nyaring, maka tembok kota itu akan runtuh, lalu bangsa itu harus memanjatnya, masing-masing langsung ke depan.”

KARENA IMAN

Alkitab kerap menegaskan kepada pembacanya bahwa jalan-jalan Allah “sungguh tak terselami” (Roma 11:33) oleh pikiran manusia. Kisah kejatuhan Yerikho (Yosua 6:2-5) adalah satu contohnya. Mengapa Allah tidak langsung saja meruntuhkan tembok kota itu dengan kekuatan-Nya yang dahsyat? Mengapa harus disuruh-Nya orang Israel mengelilingi kota itu sampai tujuh hari? Apa sulitnya Allah meruntuhkan Yerikho setelah dikelilingi bangsa Israel dalam satu hari saja?

Sebagai jawabannya, Ibrani 11:30 menyatakan bahwa waktu tujuh hari itu bersangkut paut dengan iman orang Israel. Artinya, Allah memang berkuasa menumbangkan Yerikho secepat Dia mau, tetapi Dia memutuskan untuk memberi jangka waktu yang agak panjang untuk melatih iman umat-Nya. Jadi, setiap kali orang Israel berjalan keliling dalam tujuh hari itu, tembok-tembok Yerikho yang masih berdiri kokoh menantang iman mereka: Benarkah Allah akan merobohkannya? Syukurlah mereka bersabar dan tidak undur. Tembok-tembok tebal akhirnya runtuh dan penulis Ibrani di kemudian hari dapat bersaksi bahwa itu terjadi “karena iman”.

Saat ini, barangkali Allah tengah membuat Anda melewati waktu yang panjang untuk mencapai sebuah sasaran. Anda yakin Allah ingin Anda mencapai hal itu, tetapi Anda bertanya-tanya mengapa Anda harus melalui waktu yang demikian panjang. Kuatkan hati dengan becermin pada pengalaman bangsa Israel di Yerikho. Allah ingin Anda bersabar, berketetapan hati, dan tidak undur. Bertekunlah, agar pada waktu-Nya, Anda berhasil mencapai sasaran itu “karena iman” –SAT

WAKTU KERAP MENJADI GURU TERBAIK

YANG DIBERIKAN ALLAH UNTUK MELATIH IMAN KITA

Dikutip : www.sabda.org

CERMIN YANG PECAH

Selasa, 13 Juli 2010

Bacaan : Yosua 2:1-7, Yosua 6:21-25

2:1. Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: “Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan kota Yerikho.” Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ.

2:2 Kemudian diberitahukanlah kepada raja Yerikho, demikian: “Tadi malam ada orang datang ke mari dari orang Israel untuk menyelidik negeri ini.”

2:3 Maka raja Yerikho menyuruh orang kepada Rahab, mengatakan: “Bawalah ke luar orang-orang yang datang kepadamu itu, yang telah masuk ke dalam rumahmu, sebab mereka datang untuk menyelidik seluruh negeri ini.”

2:4 Tetapi perempuan itu telah membawa dan menyembunyikan kedua orang itu. Berkatalah ia: “Memang, orang-orang itu telah datang kepadaku, tetapi aku tidak tahu dari mana mereka,

2:5 dan ketika pintu gerbang hendak ditutup menjelang malam, maka keluarlah orang-orang itu; aku tidak tahu, ke mana orang-orang itu pergi. Segeralah kejar mereka, tentulah kamu dapat menyusul mereka.”

2:6 Tetapi perempuan itu telah menyuruh keduanya naik ke sotoh rumah dan menyembunyikan mereka di bawah timbunan batang rami, yang ditebarkan di atas sotoh itu.

2:7 Maka pergilah orang-orang itu, mengejar mereka ke arah sungai Yordan, ke tempat-tempat penyeberangan, dan ditutuplah pintu gerbang, segera sesudah pengejar-pengejar itu keluar.

6:21 Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai.

6:22 Tetapi kepada kedua orang pengintai negeri itu Yosua berkata: “Masuklah ke dalam rumah perempuan sundal itu dan bawalah ke luar perempuan itu dan semua orang yang bersama-sama dengan dia, seperti yang telah kamu janjikan dengan bersumpah kepadanya.”

6:23 Lalu masuklah kedua pengintai muda itu dan membawa ke luar Rahab dan ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya dan semua orang yang bersama-sama dengan dia, bahkan seluruh kaumnya dibawa mereka ke luar, lalu mereka menunjukkan kepadanya tempat tinggal di luar perkemahan orang Israel.

6:24 Tetapi kota itu dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dibakar mereka dengan api; hanya emas dan perak, barang-barang tembaga dan besi ditaruh mereka di dalam perbendaharaan rumah TUHAN.

6:25 Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Maka diamlah perempuan itu di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho.

CERMIN YANG PECAH

Robert Schuller dalam buku Kisah Kasih Allah bercerita tentang sebuah karya mozaik di istana kerajaan Teheran. Karya mozaik itu adalah salah satu karya terindah di dunia. Namun, siapa menduga bahwa mozaik itu terbuat dari sebuah cermin pecah. Mulanya, seorang arsitek memesan cermin dari Paris untuk dipasang di tembok istana. Ketika pesanan itu datang, alangkah kecewanya mereka karena cermin itu sudah pecah. Sang kontraktor bermaksud membuang pecahan cermin itu, tetapi si arsitek justru menggunakan pecahan-pecahan cermin itu untuk membuat mozaik indah yang terdiri dari serpihan kaca yang berwarna perak, berkilau, dan memendarkan cahaya.

Kisah Rahab juga serupa mozaik indah. Ia adalah perempuan kafir dan seorang pelacur. Namun, karena imannya kepada Tuhan dan tindakannya yang berani menyelamatkan para pengintai, Rahab diselamatkan. Ketika itu seluruh Yerikho dicekam rasa takut terhadap Israel (ayat 9-11), tetapi Rahab tidak membiarkan ketakutan maupun masa lalunya yang kelam menghambatnya. Ia berpaling kepada Tuhan. Tuhan pun menghargai iman Rahab. Ia dan seisi keluarganya tidak hanya terhindar dari pemusnahan (Yosua 6:25); ia menjadi leluhur dari Raja Daud dan bahkan masuk ke dalam silsilah Yesus dalam Matius 1.

Setiap kita pernah membuat kesalahan pada masa lalu. Bahkan mungkin, kita punya masa lalu yang begitu kelam. Mungkin kita merasa hidup kita sudah hancur. Namun, kisah Rahab mengingatkan kita; Tuhan sanggup mengubah hidup yang hancur sekalipun, menjadi baru. Seperti apa pun hidup kita, jika dibawa ke hadapan-Nya, akan diubah menjadi karya seni yang indah dan berharga –GS

DI TANGAN YESUS, KERIKIL BISA MENJADI MUTIARA

Sumber : www.sabda.org

BUKAN INI, BUKAN ITU

Senin, 10 Mei 2010

Bacaan : Yosua 5:13-15

5:13. Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya, dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: “Kawankah engkau atau lawan?”

5:14 Jawabnya: “Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang.” Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: “Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?”

5:15 Dan Panglima Balatentara TUHAN itu berkata kepada Yosua: “Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus.” Dan Yosua berbuat demikian.

BUKAN INI, BUKAN ITU

Dodo sedang bimbang ketika mesti mengambil keputusan. Meneruskan kariernya atau menjadi fulltimer. Ia lalu berdoa, “Tuhan, yang mana kehendak-Mu? Menjadi fulltimer, atau insinyur?” Kerap kali dalam hidup ini kita memberi Tuhan dua pilihan. “Yang ini atau yang itu?” Kalau bukan A, tentu B. Tanpa kita sadari, bisa jadi rencana Tuhan bukan kedua-duanya.

Sebelum maju menyerang Yerikho, Yosua bertemu seseorang yang membawa pedang. Refleks Yosua bertanya, “Kawankah engkau atau lawan?” Jawaban yang Yosua terima adalah tidak dua-duanya. Bukan kawan, juga bukan lawan. Dia Panglima Balatentara Tuhan. Tuhan bukan kawan Yosua yang berkedudukan sederajat dengannya. Tuhan juga bukan lawan Yosua. Dia adalah Tuhan-nya, yang datang untuk memimpinnya (ayat 14). Ketika Yosua sadar berhadapan dengan Panglima Allah, ia sujud menyembah dan bertanya apa yang harus ia lakukan. Dan ia pun mendapat petunjuk yang tepat (ayat 15).

Acap kali kita dihadapkan pada banyak pilihan. Ketika bertanya kepada Tuhan, janganlah membatasi dengan memberi-Nya pilihan. Kita seyogianya sadar, rencana Tuhan bisa jauh melebihi yang bisa kita pikirkan. Tuhan datang tidak untuk menjawab kebingungan kita, tetapi untuk menyatakan bahwa kita harus mengikuti-Nya. Doa kita semestinya bukan memberi Tuhan pilihan, melainkan bertanya, “Apa yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?” (ayat 14).

Ketika kita sungguh-sungguh merendahkan diri dan bertanya, Tuhan akan memberi pimpinan-Nya. Dan, sungguh indah jika ketika mendapat pimpinan, kita tidak membantah, tetapi berlaku seperti Yosua, “Dan Yosua berbuat demikian” (ayat 15). –GS

BERSERAHLAH KEPADA ALLAH YANG SANGGUP MEMILIHKAN JALAN

SEBAB HANYA DIALAH YANG SUDAH TAHU SEGALA YANG DI DEPAN

Sumber : www.sabda.org

Keputusan yang Mengubahkan

PESAN GEMBALA

17 JANUARI 2010

EDISI 109 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati…Kita telah menjalani tahun 2010 selama setengah tahun, kiranya berkat-berkat Allah senantiasa menyertai kita IMANUEL…!

Dalam Yosua 2:1-21 dikisahkan disana tentang 2 orang pengintai utusan Yosua dan seorang perempuan sundal yang bernama Rahab, kesempatan ini kita lebih menyoroti Rahab, dia adalah seorang penduduk suatu negeri yang dipenuhi dengan berbagai kejahatan, dan memang demikianlah cara hidup orang Kanaan.

Tetapi saat kaum Ibrani mengalahkan Yerikho, ia mendengar tentang Allah yang benar dan hidup yaitu YEHOVA. Rahab mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara allah-nya dengan Alah Israel. Allah Israel bukan hanya menjanjikan pertolongan tetapi juga Allah yang mampu membebaskan. Sehingga memahami bahwa ia telah diperhadapkan pada janji-janji palsu allahnya.

Allah yang didengarnya ini lebih kuat dan hebat daripada allah-allahnya. Rahab menanggapi bahwa 2 orang pengintai dari Israel itu menunjukkan adanya penyertaan Tuhan mereka, sehingga bertemu dengan dia satu-satunya penduduk Yerikho yang hatinya mau percaya.

Rahab berkata kepada kedua pengintai itu “AKU TAHU, BAHWA TUHAN TELAH MEMBERIKAN NEGERI INI KEPADA KAMU… SEBAB TUHAN ALLAHMU IALAH ALLAH DI LANGIT DI ATAS DAN DI BUMI DI BAWAH…”

Hal yang luar biasa terjadi yaitu seorang pelacur yang memiliki iman yang kuat. Kisahnya mengajarkan kita bahwa kita jangan pernah menghakimi kondisi rohani seseorang dengan pandangan yang sekilas saja. Hal ini tidak mengejutkan sebab ketika Yesus datang ke dunia ini, bukan orang-orang religius, bangsawan, atau tokoh hebat yang menerima Dia, bahkan mereka menolak Yesus, tetapi justru yang menerima adalah pemungut cukai, orang-orang sederhana bahkan orang-orang berdosa.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, masa lalu kita seringkali menentukan kemana kita akan menuju di masa yang akan datang, dan itu menolong kita untuk memutuskan apa yang harus kita kerjakan. Pengalaman kita membentuk nilai-nilai yang akan mempengaruhi keputusan kita.

Pengalaman-pengalaman itu dapat mengubah kehidupan kita dan mempersiapkan kita untuk menjalani kehidupan di masa mendatang. Rahab memiliki sebuah pilihan dari beberapa pilihan. Pilihannya yang pertama adalah pilihan yang mudah. Suara hatinya tentu mengatakan kepadanya “segalanya akan berjalan baik, hidupmu menyenangkan, maka serahkan saja kedua mata-mata itu dan kamu pasti menjadi pahlawan”. Namun kemudian Rahab berpikir kembali “apa untungnya menjadi pahlawan di kota yang jahat”.

Kita seringkali juga berpikir demikian, mungkin hidupku tidaklah berarti, mungkin aku tidak dapat berdiri dengan teguh dalam iman, tapi hidupku sudah menyenangkan, sehingga aku tidak mau melakukan sesuatu yang akan menghancurkan perahuku.

Kunci untuk menikmati kehidupan ini adalah tetap mencari keamanan bagi diri sendiri. Jadi saudara, setiap saat, menentukan/menguji kesetiaan kita. Oleh karena itu setiap kita akan diperhadapkan seperti seperti yang dialami oleh Rahab. Kepada siapakah kita akan setia? Kita dapat menjadi terkenal dan nyaman di Yerikho kita, atau kita akan maju menuju ke dalam kerajaan yang baru, suasana yang baru.

Rahab tidak melakukan dengan memilih keduanya. Dia harus memilih apakah orang Ibrani itu diserahkan dan kalah, atau Yerikho yang mengalami kehancuran, dia harus mengambil keputusan yang tepat, demikian juga kita. Ini bukanlah suatu keputusan yang mudah bagi Rahab, Yerikho adalah kota yang indah dengan pengairan yang baik, serta adanya taman-taman yang menarik, dan banyak sejarah baginya. Untuk mengambil keputusan bagi Allah, berarti ia harus bersiap menggantikan dunianya. Kemenangan orang Ibrani berarti bahwa ia harus kehilangan penghidupannya, rumahnya akan menjadi berantakan bahkan reruntuhan, walaupun ia dan keluarganya saja yang selamat.

Mengapa Rahab memilih keputusan itu dan berani melakukannya? Dimanakah ia menemukan keberanian untuk membuat lompatan iman kepada Allah yang belum dikenalnya? Surat Ibrani memberikan jawabannya kepada kita, “Dalam iman, mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikannya itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” (Ibrani 11:13-16). “Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.(Ibrani 11:31)..jadi dengan IMAN.

Keputusan yang menentukan dan akhirnya tidak tergoyahkan. Allah tidak pernah meninggalkan setiap kita yang datang kepada-Nya. Hal yang paling buruk dalam hidup bukanlah salah membuat keputusan, melainkan menolak untuk membuat keputusan. Semua orang percaya kepada Allah, masa lalunya telah dikuburkan di Yerikho dan telah dibangkitkan di dalam Kristus. Allah ingin menguburkan dosa-dosa dan menciptakan hidup baru dalam Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

WAKTUNYA BERCERITA

Jumat, 9 Oktober 2009

Bacaan : Yosua 2

2:1. Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: “Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan kota Yerikho.” Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ.

2:2 Kemudian diberitahukanlah kepada raja Yerikho, demikian: “Tadi malam ada orang datang ke mari dari orang Israel untuk menyelidik negeri ini.”

2:3 Maka raja Yerikho menyuruh orang kepada Rahab, mengatakan: “Bawalah ke luar orang-orang yang datang kepadamu itu, yang telah masuk ke dalam rumahmu, sebab mereka datang untuk menyelidik seluruh negeri ini.”

2:4 Tetapi perempuan itu telah membawa dan menyembunyikan kedua orang itu. Berkatalah ia: “Memang, orang-orang itu telah datang kepadaku, tetapi aku tidak tahu dari mana mereka,

2:5 dan ketika pintu gerbang hendak ditutup menjelang malam, maka keluarlah orang-orang itu; aku tidak tahu, ke mana orang-orang itu pergi. Segeralah kejar mereka, tentulah kamu dapat menyusul mereka.”

2:6 Tetapi perempuan itu telah menyuruh keduanya naik ke sotoh rumah dan menyembunyikan mereka di bawah timbunan batang rami, yang ditebarkan di atas sotoh itu.

2:7 Maka pergilah orang-orang itu, mengejar mereka ke arah sungai Yordan, ke tempat-tempat penyeberangan, dan ditutuplah pintu gerbang, segera sesudah pengejar-pengejar itu keluar.

2:8. Tetapi sebelum kedua orang itu tidur, naiklah perempuan itu mendapatkan mereka di atas sotoh

2:9 dan berkata kepada orang-orang itu: “Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu.

2:10 Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas.

2:11 Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.

2:12 Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi TUHAN, bahwa karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku; dan berikanlah kepadaku suatu tanda yang dapat dipercaya,

2:13 bahwa kamu akan membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut.”

2:14 Lalu jawab kedua orang itu kepadanya: “Nyawa kamilah jaminan bagi kamu, asal jangan kaukabarkan perkara kami ini; apabila TUHAN nanti memberikan negeri ini kepada kami, maka kami akan menunjukkan terima kasih dan setia kami kepadamu.”

2:15 Kemudian perempuan itu menurunkan mereka dengan tali melalui jendela, sebab rumahnya itu letaknya pada tembok kota, jadi pada tembok itulah ia diam.

2:16 Berkatalah ia kepada mereka: “Pergilah ke pegunungan, supaya pengejar-pengejar itu jangan menemui kamu, dan bersembunyilah di sana tiga hari lamanya, sampai pengejar-pengejar itu pulang; kemudian bolehlah kamu melanjutkan perjalananmu.”

2:17 Kedua orang itu berkata kepadanya: “Kami akan bebas dari sumpah kami ini kepadamu, yang telah kausuruh kami ikrarkan–

2:18 sesungguhnya, apabila kami memasuki negeri ini, haruslah tali dari benang kirmizi ini kauikatkan pada jendela tempat engkau menurunkan kami, dan ayahmu serta ibumu, saudara-saudaramu serta seluruh kaum keluargamu kaukumpulkan di rumahmu.

2:19 Setiap orang yang keluar nanti dari pintu rumahmu, harus sendiri menanggung akibatnya, kalau darahnya tertumpah, dan kami tidak bersalah; tetapi siapapun juga yang ada di dalam rumahmu, jika ada orang yang menciderainya, kamilah yang menanggung akibat pertumpahan darahnya.

2:20 Tetapi jika engkau mengabarkan perkara kami ini, maka bebaslah kami dari sumpah kepadamu itu, yang telah kausuruh kami ikrarkan.”

2:21 Perempuan itupun berkata: “Seperti yang telah kamu katakan, demikianlah akan terjadi.” Sesudah itu dilepasnyalah orang-orang itu pergi, maka berangkatlah mereka. Kemudian perempuan itu mengikatkan tali kirmizi itu pada jendela.

2:22. Merekapun pergilah dan tiba di pegunungan. Mereka tinggal di sana tiga hari lamanya, sampai pengejar-pengejar itu pulang. Pengejar-pengejar itu telah mencari di mana-mana sepanjang jalan tanpa menemukan mereka.

2:23 Maka pulanglah kedua orang itu, mereka turun dari pegunungan, lalu menyeberang dan sampai kepada Yosua bin Nun, kemudian mereka ceritakan segala pengalaman mereka.

2:24 Kata mereka kepada Yosua: “TUHAN telah menyerahkan seluruh negeri ini ke dalam tangan kita, bahkan seluruh penduduk negeri itu gemetar menghadapi kita.”

WAKTUNYA BERCERITA

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Rahab, seorang wanita tunasusila yang tinggal di kota penyembah berhala, Yerikho, membuka rumahnya bagi para mata-mata Israel? Dan, dari manakah ia memperoleh keberanian untuk menyebut Allah orang Israel sebagai Allahnya sendiri?

Perubahan yang hampir tak mungkin terjadi ini sesungguhnya didorong oleh berbagai kisah yang telah ia dengar mengenai kenyataan dan kuasa Allah. Meskipun dikelilingi penyembahan berhala dan kejahatan, hati Rahab tertarik kepada Allah. Sebagaimana yang dikatakannya kepada para mata-mata, “Kami mendengar, bahwa Tuhan telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori” (Yosua 2:10).

Dalam kondisi normal, kota Yerikho yang berbenteng tinggi hampir tak mungkin dikalahkan. Namun demikian, kota itu menjadi tak berdaya karena cerita-cerita yang luar biasa mengenai kuasa Allah. Jauh sebelum para utusan Allah tiba, kesombongan dalam kebudayaan musuh Israel ini larut dalam ketakutan saat mereka berhadapan dengan orang-orang kepunyaan Allah yang kisahnya telah banyak mereka dengar (ayat 11). Dan di dalam tembok, satu hati penyembah berhala berbalik untuk menerima Allah Israel dan memainkan peranan strategis dalam kemenangan Israel yang mengherankan.

Marilah kita menceritakan kebesaran Allah dengan berani. Anda tidak pernah tahu hati siapa yang mungkin siap untuk menanggapinya! –JMS

JANGAN MALU; CERITAKANLAH KEBESARAN ALLAH

Sumber : www.sabda.org